E-proc (e-procurement) Kota Bogor untuk tahun 2008 ditunda.

May 9, 2008 by  

Artikel ini ada pada kategori Pengadaan - Kota Bogor, Pengadaan Barang Jasa, PNS (Pegawai Negeri Sipil)

Sewaktu mengikuti sosialisasi tentang review pelelangan oleh BPKP di Bawasda kota Bogor, saya baru membaca langsung surat edaran dari walikota Bogor, tentang ditundanya sistem e-proc untuk pengadaan barang dan jasa di lingkungan kota Bogor. Sayang sekali memang, kalau menurut pandangan saya penundaan ini tidak sejalan dengan perkembangan jaman yang sudah semakin canggih, sekarang ini kan penggunaan internet sudah merupakan hal yang biasa, sehingga hal ini merupakan suatu kemunduran bagi kota Bogor.

Dari radar bogor diperoleh informasi bahwa penundaan ini salah satu penyebabnya adalah adanya keberatan dari Kadin Kota Bogor, menurut Kadin, eproc kota Bogor masih mempunyai kelemahan, yaitu:

1. Kelemahan teknis, di mana sering terjadi pemadaman. Sehingga proses pelelangan bisa terganggu, bahkan bisa batal.

2. Kemudian kelemahan kekuatan hukum dan sistem administrasi. “Sebenarnya sistem Eproc ini tidak aman, karena tidak terjamin rahasianya, sehingga mudah di hack oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, apalagi tidak ada hukum yang mengaturnya. Sehingga apabila ada sengketa sulit untuk menyelesaikannya, karena data ditentukan pada jam berlangsungnya pelelangan.

3. Ketidaksiapan tersebut meliputi segi personalia, sistem dan infrastruktur yang masih belum siap. (radar bogor, 29-12-2007)

4. Ditemukan bukti-bukti kejanggalan, penerapan pengadaan barang dan jasa lewat internet selama tahun 2007 juga ada permainan dari kelompok atau kalangan tertent, (radar bogor, 07-12-2007)

Apabila dilihat dari beberapa keberatan tersebut di atas, hal ini sebetulnya dapat diatasi dengan tanpa harus menon-aktif-kan e-proc, menurut pendapat saya;

1. Masalah kelemahan teknis dengan sering terjadinya pemadaman baik itu koneksi internetnya, server e-proc yang down, bandwith yang melebihi kapasitas, atau hal-hal lainnya yang menyebabkan e-proc tidak dapat digunakan oleh sebagian atau seluruh user. Kita harus kembali ke filosofi dari e-proc itu sendiri, bahwa e-proc itu hanya merupakan “alat bantu” pelelangan, sehingga apabila terjadi hal-hal teknis yang mengakibatkan alat bantu pengadaan tidak dapat digunakan, yah jangan digunakan, kita kembali ke manual saja, no problem kan? kita kembali ke manual dengan tanpa mengakibatkan gagalnya pengadaan atau ada pihak yang dirugikan, baik dari peserta pengadaan, panitia atau admin e-proc.

Dari pengalaman pengadaan tahun 2007, memang banyak sekali hal-hal yang harus diperbaiki secara teknis, seharusnya tahun 2008 ini kita perbaiki dan e-proc sebagai alat bantu tetap dipakai dengan beberapa perbaikan, misalnya:

– Bandwidth akses ditambah, bandwidth untuk sekelas e-proc tidak akan cukup hanya 1 sd 5 Gb, untuk hosting pribadi saja, saya bisa menghabiskan bandwith lebih dari 5 Gb, apalagi untuk sekelas e-proc yang banyak diakses oleh penggunanya, belum untuk up-loading data pengadaan dari banyak dinas/skpd dimana dalam satu dinas bisa ada beberapa bahkan banyak kegiatan/paket yang harus di upload. Mungkin untuk sekelas e-proc dibutuhkan bandwidth yang lebih dari penggunaan personal, akan lebih baik jika hosting dengan dedicated server yang kapasitas bandwidthnya bisa di atas 500Gb sehingga overkuota bisa dihindari.

2. Masalah keamanan dan kekuatan hukum; untuk masalah hukum mungkin saya tidak bisa memberi komentar karena saya bukan orang hukum 🙂 namun secara keamanan sebetulnya sistem e-proc bisa dibuat dengan sangat aman, sekarang ini sudah banyak penyedia jasa hosting yang dapat secara otomatis menjaga keamanan para usernya, juga sudah banyak program atau script2 yang bisa digunakan oleh programer atau page developer agar home page aman dari para hacker.

Namun kembali ke filosofi e-proc sebagai alat bantu pelelangan, sebenarnya e-proc itu tidak melakukan 100% pengadaan secara otomatis, yang dilakukan oleh e-proc adalah:

– Proses pendaftaran (full e-proc) dan pengumuman (di koran dan papan pengumuman juga)
– Proses Penyediaan dan Pengambilan Dokumen Pengadaan (full e-proc)
– Aanwijzing (dilakukan secara off line juga)
– Proses Bidding (penawaran) secara on line dan dilakukan juga secara manual juga.
– Evaluasi dilakukan secara manual dan hasilnya di inventarisasi melalui e-proc, plus pengumuman pemenang lelang.

Jadi dapat dilihat bahwa e-proc pada intinya hanya sebagai alat bantu, jadi kalau pun keamanannya “jebol” semuanya dapat kembali ke proses manual dengan tanpa hambatan apapun, namun demikian tidak seharusnya keamanannya pun dengan begitu mudah di jebol, karena sebenarnya proses dalam e-proc tidak terlalu banyak membutuhkan aplikasi yang khusus, untuk proses pendaftaran, pengumuman dan penyimpanan data, itu merupakan fasilitas standar banyak aplikasi home page, aanwijzing pun sudah banyak aplikasi chatting yang securitynya dapat diandalkan, tinggal programmernya saja harus jeli agar tidak meninggalkan lubang-lubang yang dapt ditembus hacker. Mungkin yang paling penting adalah keamanan dari basis datanya saja.

Bahkan sederhananya 🙂 hosting-hosting gratisan pun banyak yang bisa melakukan hal-hal tersebut di atas, misalnya untuk pengumuman bisa dilakukan melalui milis-milis gratisan di yahoo atau gmail, penyimpanan data bisa disimpan di divshare atau rapidshare, pendaftaran bisa melalui blog gratisan 🙂 yah ini mah gampang-gampangannya saja 🙂 cuman kan tidak bonafid masa sih e-proc pake gratisan 🙂

3. Kemudian masalah ketidak siapan personalia dan infrastruktur, yah inilah yang harus kita sama-sama perbaiki, yang saya lihat memang semua pengguna e-proc baik dari penyedia b/j, panitia atau PPK masih banyak yang gaptek, boro-boro mengerti masalah internet, punya email, home page, ngetik di word aja nga bisa, atau bahkan nyalain komputer aja bingung 🙂 penyedia jasa juga nampaknya sama juga, saya pernah menemukan salah seorang direktur dari penyedia jasa yang katanya sarjana komputer, eh nga punya e-mail, masa sih direktur plus sarjana komputer, ikut lelang dengan e-proc nga punya email C spasi D, cape deehhh… kemudian juga dari sekian banyak e-mail yang digunakan oleh penyedia jasa, ternyata hanya 60% persen yang valid/aktif, hal ini saya temui ketika saya mengirimkan email pengumuman pemenang, ternyata banyak e-mail penyedia yang tidak valid/aktif 🙂

Yah masalah ini marilah kita selesaikan sama-sama, ini kan sudah jamannya teknologi informasi, dimana internet merupakan salah satu ujung tombaknya dalam kehidupan kita sehari-hari.

4. Ditemukan kejanggalan dan permaianan dari sekelompok orang, nah ini dia… kalau menurut saya, mau pake e-proc mau manual atau mau dilakukan secara telepati-pun yang namanya permainan yah tetap akan ada aja, tinggal kita dari diri pribadi masing-masingnya mau bagaimana? baik itu dari penyedia atau pejabat2nya ya sadar donk… 🙂

Kalau saya selaku panitia yang hanya seorang staf, kalau pejabat dan penyedianya mau dan bisa bermain secara fair, akan sangat menyenangkan sekali, sekarang ini malah banyaknya panitia itu cara selamat aja mas… :(- C spasi D lagi deh… boro-boro kebagian jatah yang gede-gede katanya, yang ada nga bisa tidur… diancam sana diancam sini… katanya: senengnya lihat si heldi pake pakaian biru-biru di LP Paledang… C spasi D, kalau memang saya selaku panitia korupsi dengan bermain dalam pelelangan dapat berapa sih?? silahkan main saja ke istana saya di situ gede, 200 meter sebelum situgede tuh ada rumah no.5 disampingnya ada bedengan , 3 x 9 m, di sekat menjadi 3 ruangan, ruangan depan jadi kamar tidur saya dan istri dengan dua anak, ruang tengah dipakai tempat menyimpan barang2 pakaian dan tempat tidur adik ipar yang numpang, dan ruang belakang dapur kecil plus kamar mandi. Yah begitulah… dibilang senang sih tidak… tapi alhamdullilah bahagia… udah ah curhatnya.

Kembali ke masalah permainan, kalau sekarang kembali ke manual, malah sudah menjadi rahasia umum, kalau dalam lelang manual akan lebih banyak celah yang dapat dijadikan ajang permainan, contohnya saja pada saat pendaftaran, bukan rahasia lagi kalau panitia hanya bisa tutup mata kalau ada pemborong dari luar dicegat oleh pemborong lokal, apapun alasannya katanya jatah lokallah, sudah diaturlah… saya dulu pernah mencoba menghalangi hal tersebut dengan menutup akses informasi siapa saja yang mendaftar dalam satu paket, eh malah marah-marah dan diancam-ancam segala oleh salah seorang pemborong besar di Bogor, sampai-sampai saya harus menelpon om saya di mabes yang jadi Bridjen CPM agar nelpon ke Danpomdam Bogor untuk minta pengamanan… C spasi D… Apabila yang daftar sudah bisa diatur yah… bidding pun tinggal cingcay saja 🙂 Kalau kembali ke manual memang ada sedikit keuntungan bagi para staf, yaitu dengan menjual dokumen, meskipun sebenarnya itu tidak diperbolehkan untuk menghargakan kecuali untuk biaya penggandaan, tapi yah lumayanlah kata pa aceng mah 🙂

Jadi kalau diresume, sebenarnya e-proc sebagai alat bantu menurut saya tidak perlu di off 100%, kalau pun akan diperbaiki… ya perbaikilah dulu, namun dalam beberapa tahapan yang sudah sangat membantu sebagai “alat bantu” pelelangan sebaiknya tetap digunakan, antara lain:

1. Pengumuman dan Pendaftaran secara on line, namun dengan catatan, silahkan saja mendaftar secara on line sebebas-bebasnya siapa saja dan dari mana saja, kemudian nanti untuk verifikasinya dilakukan secara manual pada saat klarifikasi dan verifikasi dokumen. Jadi tidak perlu secara off line direkturnya harus menghadap terlebih dahulu, tapi di balik, secara on line sebebas-bebasnya baru nanti di verifikasi apabila masuk ke dalam shortlist. Akan lebih bagus lagi apabila data basenya sudah link dengan LPJK sehingga program e-proc dapat melakukan validasi otomatis dengan data LPJK sebagai filter awal.
2. Penyediaan dan pengambilan dokumen pengadaan, semua anggota yang sudah mendaftar dapat mengambil dokumen pengadaan secara on line dan panitia pengadaan dapat menyimpan dokumen pangadaan dalam server e-proc secara on line juga, sehingga paperless dan tidak harus fotocopy2 dan tidak ada jual dokumen 🙂
3. Aanwijzing dapat dilakukan secara on-line, wong anak smp aja sudah bisa chatting kok, knapa kita tidak 🙂
4. Bidding dan Evaluasi sebaiknya dilakukan secara offline dahulu sampai sistem e-proc dapat lebih memaksimalkan sistemnya.
5. barulah hasil dari evaluasi di inventarisasikan ke dalam sistem e-proc dan diumumkan secara on-line.

==================================================================================
Memerlukan Narasumber/Instruktur Training (Bimbingan Teknis) atau Konsultasi Pengadaan Barang/Jasa untuk Pemerintah berdasarkan Perpres 54 tahun 2010 atau Swasta berbasis Supply Chain Management & Essential Procurement, Silahkan hubungi wwww.heldi.net via HP. 081111-64-600- email: heldi_y@yahoo.com
Bagi para Supplier Barang/Jasa, Penyedia product yang ingin mempromosikan produk atau barang/jasa nya di Pojok Penyedia/Supplier, silahkan kirimkan email mengenai produk barang/jasa nya. ==================================================================================
Share
Punya cerita tentang kota Bogor dan sekitarnya, atau mau promosi usaha anda di kota Bogor, silahkan kontennya ke: heldi_y@yahoo.com , jangan ragu segera dikirm content-nya, ditunggu ya postingannya segera...

Comments

4 Responses to “E-proc (e-procurement) Kota Bogor untuk tahun 2008 ditunda.”
  1. beny says:

    mas klo semarang kok tetap bisa jalan

  2. heldi says:

    @Mas
    Setuju Mas… Masukannya sangat berguna sekali, coba saya usulkan ke bagian penyusunan program, mudah-mudahan bisa diterima 🙂

    Terima kasih sudah berkunjung

  3. Mas@ says:

    Mas Heldi,
    Sebenarnya kalau mau gampang, pakai saja e-proc dari pemerintah pusat. Bappenas punya, Depkominfo oke. Dan itu bukan hanya sudah jalan, tapi sudah proven dan sudah dilengkapi dengan perangkat keamanan Infrastruktur Kunci Publik (standar internasional utk security transaksi elektronik). Dan itu gratiss, tinggal ajukan permohonan ke Depkominfo atau Bappenas, udah di instalin gratissss, jalan, aman. ya gratis 100% sih nggak…
    Dari pada spt ini, coba2 bangiun sendiri, ngabisin APBD, jalan kagak.. Coba kalau anggaran eproc yg udah tembus 1 M itu dipakai buat subsidi rumah RSS pegawainya, bisa dapat puluhan rumah. Apalagi buat beli es cendol, wah situ gede bisa tenggelam mas….hehe

  4. heldi says:

    from old comment entry:
    sedih eproc Kota bogor ditunda
    By: iqbalnos on 11-03-2008 22:02

    e-procurement nya sendiri belum berjalan karena pada prakteknya, yang baru berjalan adalah e-announcement dan e-registration alias pengumuman proyek dan pendaftaran lewat website.
    Penerapan e-proc masih pada tahap awal, perlu kesiapan mental jg dr para pejabatnya.Masih membutuhkan waktu untuk menjadi mature, eh tau tau skrg malah ditunda kapan majunya yah?? aneh

    😡 :zzz

    hidup eproc
    By: dadan () on 19-02-2008 17:56

    alus tulisan teh, coba kirimkeun ka radar bogor, sugan wae meunang honor

Komentar Anda... Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!