Bagi para calon pengusaha, sukses story dari kue kering ini bisa dijadikan tauladan, selamat membaca 🙂

J&C, Kue Kering yang Makin Menjadi

Jadi pengusaha kue kering yang produknya dijual di berbagai kota di Indonesia tak pernah terbayang dalam benak Diah Susilawati. Sarjana lulusan Fakultas Sosial Politik jurusan Administrasi Negara di Universitas Parahyangan Bandung ini, mulanya bahkan tak bisa membuat kue kering.

Lebih dari 12 tahun silam, sambil menunggu suaminya pulang kantor, ia iseng belajar membuat kue kering secara otodidak, antara lain lewat buku. Terkadang ia sukses, kadang kue buatannya gagal. Lama-kelamaan, ia makin mahir dan kue buatannya pun makin banyak.

Daripada menumpuk di rumah, Diah lalu menawarkan kue keringnya ke tetangga. Ternyata mereka menyukainya. Pesanan mulai berdatangan, terutama saat Lebaran. Bahkan, makin lama makin banyak pesanan setiap hari raya ini tiba. Tak hanya itu, beberapa orang bahkan mulai menawarkan diri untuk menjualkan kue kering Diah. Sejak itulah, Diah mempunyai agen untuk kue keringnya.

Tahun 1996, wanita berjilbab ini mulai serius menekuni bisnis ini. Selain memberinya nama Joyci (singkatan dari Jody dan Cindy, nama kedua anaknya), Diah juga mengurus izin ke Departemen Kesehatan. Namun, kini merek Joyci diganti menjadi J&C, karena saat akan dipatenkan tahun 2003, ternyata nama itu sudah terdaftar. Lalu, suami Diah, Dedi Hidayat, yang saat itu bekerja di sebuah perusahaan konsultan minyak, memilih keluar dari pekerjaannya untuk membantu bisnis istrinya di bidang pemasaran.

Rajin ikut pameran merupakan salah satu cara yang dilakukan Diah agar kuenya tetap diingat orang. Maklum, J&C memang hanya dibuat menjelang Lebaran. Meski dibuat hanya selama 3 bulan saja, Diah mengaku hasil penjualannya bisa untuk menghidupi keluarganya selama setahun. “Namun, sekarang kami memiliki beberapa outlet di Jakarta dan Bandung, agar orang tetap ingat terus pada J&C,” ujar Diah sambil menambahkan, usaha musiman ini tetap bertahan saat krismon melanda. “Orang kan, tetap butuh kue saat Lebaran.”

Usaha yang ditekuni dari Bandung sejak awal hingga sekarang ini tak sia-sia. Biasanya, dua bulan sebelum Lebaran mulai ramai pesanan. Kalau pada awal berbisnis dulu dalam sehari ia paling-paling menjual dua lusin kue per hari, kini bertambah menjadi 150 lusin.

Kalau tahun lalu J&C diproduksi 16 ribu lusin selama musim Lebaran (ditambah Natal dan Imlek, tapi produksinya tak sebesar Lebaran), tahun ini meningkat menjadi 20 ribu lusin. Jumlah karyawannya pun bertambah. Kalau pada awalnya Diah membuat kue keringnya sendirian (terkadang dibantu suaminya sambil menonton teve pada malam hari), pesanan yang tiap tahun rata-rata meningkat 20 persen dari tahun sebelumnya membuatnya kini dibantu 200 karyawan.

Selain itu, kini Diah memiliki sekitar 700-800 agen yang siap memasarkan kue keringnya. J&C kini dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, antara lain Jakarta, Palembang, Jambi, Maluku dan Irian. Bahkan, sejak 2004, J&C merambah ke Singapura. “Setiap menjelang Natal, ada pesanan dari sana, biasanya seribu lusin,” ujar Diah yang kini menjual 50 jenis kue.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2008/05/29/18395148/J.C..Kue.Kering.yang.Makin.Menjadi

Dan ini dia cerita tentang suaminya…
Dedi Hidayat – Lebih Baik Jadi Kepala Semut

Fokus, ulet, dan tak kenal menyerah! Itulah yang dilakukan Dedi Hidayat saat memulai karirnya di dunia usaha. Ia banting stir dari konsultan minyak menjadi pengusaha karena mempunyai misi yang menurutnya lebih baik.

“Mendingan jadi kepala semut daripada menjadi ekor gajah,” tegas lelaki kelahiran 27 November 1957 ini.
Oleh Administrator, 06 Mei 2009

dedi hidayat jnc

dedi hidayat jnc

Nama Usaha   : JNC
Jenis Usaha    : Kue Kering
Lokasi Usaha : Bandung
Mulai Usaha   : 1996
Usaha Lain     : Travel, Rental Mobil, Kafe

Fokus, ulet, dan tak kenal menyerah! Itulah yang dilakukan Dedi Hidayat saat memulai karirnya di dunia usaha. Ia banting stir dari konsultan minyak menjadi pengusaha karena mempunyai misi yang menurutnya lebih baik.

“Mendingan jadi kepala semut daripada menjadi ekor gajah,” tegas lelaki kelahiran 27 November 1957 ini.

Maksudnya, ia lebih baik memiliki usaha yang dikelola sendiri dibandingkan menjadi karyawan di tempat lain. Meski demikian, ia pun tak langsung meraih kesuksesan dalam menjalani hidupnya sebagai pebisnis.

Awalnya, Dedi merupakan konsultan minyak yang bekerja di perusahaan orang lain. Hingga saudaranya mengajak untuk berbisnis jahe gajah di tahun 1996. Ia pun memutuskan keluar dari tempat kerjanya dan merintis usaha jahe gajah.

Sayang, di bisnis pertamanya ia gagal total. Bahkan ia rugi dan  cukup menguras modalnya. Tapi, perjuangannya tak sampai disitu, Dedi kembali bangkit dan mencari usaha yang lain. Ayah dua anak ini pun memilih bisnis roti dan kue kering yang diberi label JNC. Merek ini merupakan singakatan nama kedua anaknya Jody dan Cindy.

Mulanya, Dedi hanya memasarkan kue kering dan rotinya ke saudara dan tetangga terdekat. Dalam satu hari, ia hanya memproduksi delapan toples kue dengan bantuan dua karyawan saja. Bisnisnya memang tak lantas meningkat. Namun ia tetap tekun dan terus menjalani bisnisnya.

Biasanya, hanya waktu lebaran saja bisnis kuenya bisa meningkat pesat. Namun, di hari biasa pesanannya tak sebanyak hari raya. Hampir delapan tahun usahanya berjalan. Hingga akhirnya ia berinovasi dengan kuenya. Yang tadinya hanya enam rasa, ia mulai menambah variasi baru. Alhasil, usahanya meningkat.

Kini, dalam sehari ia bisa memproduksi hingga 500 toples. Apalagi jika hari raya, pembuatan kuenya bisa mencapai 3.000 toples per hari. Untuk mengatasi pesanan sehari-hari agar lebih banyak pemesan, Dedi kembali berinovasi.

“Saya membuat sistem pembelian kue isi ulang, kami menyediakan kemasan yang menarik dan bisa dipinjam, kuenya tinggal isi ulang saja kalau habis,” jelasnya.

Kemasan tersebut berupa toples yang disimpan dalam wadah dengan bentuk unik. Mulai dari masjid, rumah adat, hingga bentuk menarik lainnya. Dengan cara ini, pelanggan yang datang tak hanya dari konsumen rumahan saja, tapi juga membidik perusahaan besar.

Kini, setelah sukses di bisnis kue, dedi pun mencoba peruntungan baru untuk mengembangkan usaha lainnya. Travel, rental mobil, serta café jadi pilihan. Dengan modal fokus pada usaha, ulet, dan tak kenal menyerah, serta inovasi, bisnis barunya pun berkembang pesat. Di bisnis barunya, ia kembali menjadi kepala semut untuk menuju kepala gajah.***

Sumber: http://pengusaha.co.id/cerita/dedi_hidayat_lebih_baik_jadi_kepala_semut

Ini adalah blog versi lama heldi.net , untuk upate bira pengadaan treabaru Silakan kunjungi blog terbaru di www.heldi.net
Share