Pilihan untuk mempunyai Rumah Sendiri

May 25, 2010 by  

Artikel ini ada pada kategori Pengadaan - Curhat PNS online

“Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Beratap jerami, beralaskan tanah
Namun semua ini punya kita
Memang semua ini punya kita, sendiri

Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita”

Lagu dari God Bless ini adalah lagu motivasi saya untuk dapat segera memiliki rumah sendiri. Sekarangpun mendengarkan lagu ini sambil menulis konten ini,  masih merinding dan berkaca-kaca mata ini sangking meresap dan menyalirnya motivasi dari lagu ini ke dalam badan, daging, tulang dan setiap tetes darah ini dalam tubuh ini… jadi lebay deh 🙂

Dan akhirnya setelah di “appirmasi” selama beberapa tahun ini, maka pada awal tahun 2010 inilah rencana atau keinginan untuk memiliki rumah sendiri baru dapat direalisasikan. Maklumlah kerja sebagai PNS ; perlu waktu beberapa tahun nih untuk mengumpulkan rejeki yang “halal” untuk modalnya 🙂 Dalam posting ini saya mencoba untuk sharing kepada teman-teman yang mungkin masih kebingungan dalam menentukan pilihan untuk memiliki rumah sendiri.

Ada beberapa pilihan yang bisa diambil untuk memiliki rumah sendiri, tentunya di luar pilihan rumah warisan, pemberian orang tua atau mertua, dikasih oleh pemborong, atau pilihan-pilihan lainnya yang tidak mungkin saya pilih karena memang tidak punya kemampuan untuk hal tersebut. Beberapa pilihan yang ada pada waktu itu adalah:

1. Mengambil kavling dari Developer atau perumahan

2. Membangun rumah sendiri; pilihan ini juga dapat  di break down menjadi beberapa pilihan, yaitu:

a. diborongkan secara keluruhan kepada seorang pemborong, sehingga kita tinggal terima kunci rumah saja.

b. bahan dari kita dengan upah buruh harian, atau

c. bahan dari kita dengan upah borongan.

Pilihan pertama untuk membeli rumah di perumahan hampir diambil setelah saya dan istri mensurvey beberapa lokasi perumahan di kota Bogor ini, dari informasi beberapa teman juga melihat iklan di pinggir jalan dengan beragam banner dari developer yang seringkali hanya sekedar menarik dan mengundang kita untuk mengunjungi kantor pemasaran mereka, padahal setelah diminta informasi lebih lengkap dan rinci sih, mana ada rumah yang harganya hanya 50 juta-an, mana ada kalau kita beli rumah terus dapat mobil, motor, bisa liburan ke luar negeri, mana ada cicilan rumah yang bunganya kecil, semuanya pasti ada standarnyalah, apalagi dengan situasi ekonomi sekarang ini, yang meskipun katanya ekonomi kita sudah membaik, tetap saja segala sesuatu harnya terus naik dan mahal.

Bahkan tahun lalu saya sempat sudah membayar DP untuk rumah dari satu developer perumahan di wilayah Bogor Timur, namun karena pelayanan marketing dan developer nya kurang maksimal akhirnya dibatalkan meskipun dengan resiko pengembalian DP nya dipotong biaya adm 🙁 . Pada awal tahun 2010 juga hampir saya melakukan akad kredit untuk mengambil rumah di salah satu perumahan baru di wilayah laladon. Namun akhirnya pilihan pertama untuk mengambil rumah di developer tidak jadi saya ambil dengan beberapa pertimbangan antara lain:

– Kualitas dari bahan di sebagian besar perumahan yang kami survey nampaknya masih kurang maksimal, dapat dilihat dari kualitas kusen, kramik, ada juga rumah baru tapi sudah bocor-bocor, dsb.

– Resiko kita dengan mengambil cicilan untuk rumah di perumahan adalah tentunya adanya bunga yang membuat harga total dari rumah, menjadi dua kali lipat atau bahkan lebih dari harga aslinya/asalnya.

Akhir dengan pertimbangan itu saya memutuskan untuk membangun rumah sendiri dengan pertimbangan paling prinsip adalah;

saya membeli tanah seluas 270 m2, yang berlokasi di pinggiran kota Bogor (perbatasan dengan kabupaten Bogor, tapi yang paling penting adalah masih KOTA BOGOR)  sehingga harganyapun tidak terlalu mahal, hanya dengan Rp. 70 juta-an saya bisa memperoleh lahan seluas 270 m2 dengan akses yang relatif masih dekat ke pusat kota Bogor (wilayah bubulak bogor barat), kemudian saya mencoba menghitung dengan harga satuan standar (kualitas menengah) untuk membangun bangunan adalah Rp. 1,5 juta per meter persegi, maka kalau saya membangun rumah dengan luas kurang lebih 50 m2, maka harnya sekitar 75 juta an, sehingga total bangunan dengan tanah adalah rp. 150 juta.

Saya coba bandingkan dengan harga-harga rumah di perumahan dari brosur-bosur hasil survey, ternyata dengan nilai rp. 150 juta sebagian besar hanya bisa memperoleh rumah type 21 atau 36 yang setelah dilihat langsung kualitasnya ternyata masih dibawah standar menengah dari sebuah rumah hunian. Tanahnya pun hanya lebih sedikit dari bangunannya, paling hanya memperoleh 60 atau 80 m2. Memang sih katanya dengan kita mengambil rumah di perumahan, maka kita juga membeli fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos fasum) nya juga, namun pada akhirnya dengan pertimbangan itulah maka pada tahun ini saya mengambil keputusan untuk membangun rumah sendiri bukan membeli atau menyicil/kredit dari perumahan. Karena dari perhitungan sederhana di atas, dengan uang rp. 150 juta dengan membangun rumah sendiri saya bisa memperoleh tanah yang relatif luas dan bangunan sekita 50 m2 (yang akhirnya sekarang terbangun sekitar 60 m2) dengan kualitas masih lebih baik dari rumah-rumah perumahan. Namun tentunya masing-masing pribadi mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri sesuai dengan latar belakang dan kemampuannya masing-masing.

Nah selanjutnya setelah memutuskan untuk membangun rumah sendiri, munculah beberapa pilahan, apakah akan diborongkan semuanya, upahnya saja yang diborongkan, atau semuanya kita yang mengatur (upah buruh harian). Semua pilihan ini tentunya ada baik buruk serta kelebihan dan kekurangannya, tinggal menyesuaikan dengan waktu serta kemampuan kita. Awalnya sih saya akan mengambil alternatif yang ke dua yaitu dengan hanya memborongkan buruhnya saja, sedangkan bahan-bahannya saya belanja dan menyediakan sendiri. Hal ini tadinya akan saya ambil dengan pertimbangan dengan bahan bangunan menyediakan sendiri maka saya akan dapat menentukan sendiri kualitas dan tentunya sebanding dengan kemampuan keuangan yang saya miliki, kemudian dengan upah diborongkan maka tidak ada istilah pekerja yang malas-malasan atau pekerjaannya lambat, karena kalau bahan bangunannya lancar, tentunya saya sebagai pemilik rumah dan para pekerja sama-sama ingin cepat selesai, bagi para pekerja kan cepat atau lambat pekerjaan bayarannya tetap sama karena diborongkan, tinggal kita mengawasi cara dan metoda bekerja mereka saja agar hasilnya sesuai dengan perencanaan bangunan.

Pilihan dengan pekerja sistem harian tidak diambil karena kalau kita menggunakan tenaga harian maka resikonya kita harus mempunyai waktu untuk “nongkrong” setiap hari di lokasi pembangunan untuk mengawasi pekerja. Sedangkan di satu sisi kesibukan saya kerja di kantor dan kerjaan lannya pun tentunya harus dipertimbangkan. Namun bagi teman-teman yang mempunyai waktu luang untuk “nongkrong” di lokasi tentunya ini bisa jadi pilihan yang menyenangkan, menyenangkan tentunya kalau kita tiap hari dapat melihat perkembangan calon dari rumah kita 🙂  atau bisa saja kita siasati dengan menunjuk pengawas dari orang dekat kepercayaan kita, bisa itu saudara kita, teman atau orang lainnya yang relatif bisa dipercaya.

Weiiittsss…. mati lampu nih… nanti dilanjut lagi… baterai laptopnya belum di charge nih 🙂 di upload aja dulu yah, bisi keburu habis…

==================================================================================
Memerlukan Narasumber/Instruktur Training (Bimbingan Teknis) atau Konsultasi Pengadaan Barang/Jasa untuk Pemerintah berdasarkan Perpres 54 tahun 2010 atau Swasta berbasis Supply Chain Management & Essential Procurement, Silahkan hubungi wwww.heldi.net via HP. 081111-64-600- email: heldi_y@yahoo.com
Bagi para Supplier Barang/Jasa, Penyedia product yang ingin mempromosikan produk atau barang/jasa nya di Pojok Penyedia/Supplier, silahkan kirimkan email mengenai produk barang/jasa nya. ==================================================================================
Share
Punya cerita tentang kota Bogor dan sekitarnya, atau mau promosi usaha anda di kota Bogor, silahkan kontennya ke: heldi_y@yahoo.com , jangan ragu segera dikirm content-nya, ditunggu ya postingannya segera...

Comments

2 Responses to “Pilihan untuk mempunyai Rumah Sendiri”
  1. artikel yang bagus bisa jadi motivasi saya juga untuk membeli rumah sendiri

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. […] hari Senin kemarin tanggal 7 Juni 2010, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke rumah baru di daerah Bubulak dekat terminal Bubulak atau alamat persisnya di Kp. Pilar II Gg. Pesantren no 5 […]



Komentar Anda... Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!