Hati-hati memilih pemborong untuk membangun rumah

June 10, 2010 by  

Artikel ini ada pada kategori Pengadaan - Curhat PNS online

Pada hari Senin kemarin tanggal 7 Juni 2010, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke rumah baru di daerah Bubulak dekat terminal Bubulak atau alamat persisnya di Kp. Pilar II Gg. Pesantren no 5 Rt. 04 RW 01. Kelurahan Bubulak Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor. Meskipun rumah baru ini belum diselesaikan dan masih jauh dari sempurna oleh pemborongnya tetapi karena kontrakan sudah seminggu habis masa berlakunya, “dipaksakeun wae, atuda kumaha.. wayahna we…”

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan sedalam-dalamnya;  semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlebih kepada teman-teman yang sudah membantu memberikan tenaga dan perhatiannya pada saat saya pindahan, nuhun Ho, Bar, yang sudah menemani saya bolak-balik sampai gempor 7 rit SBJ -gg pesantren bolak balik dari pagi sampai malam, pak Aja hatur nuhun dan selamat atas kelahiran putra ke-4 (atos atuh ulah nambih deui ahh…),  makasih om Fer dan om Her yang sudah “nyetir” truk engkel, buat bawa barang-barang yang besarnya, juga untuk bos binamarga yang sudah berkenan meminjamkan truknya, tapiiii…  kok datengnya cuman satu truk, padahalkan saya pesan 10 kendaraan (3 dump truk, 3, engkel, 2 hulux, 1 Crain dan 1 Rolling)  hehehehe…. Terima kasih… Hatur nuhun pisan… semoga Allah memberikan kemudahan dalam segala urusan.. amien….

Hati ini sebenarnya sangat berbahagia sekali karena alhamdulilah akhirnya bisa juga punya rumah sendiri, dan meskipun pemborongnya “kabur” tapi sebenarnya hati ini tetap senang karena Over all kualitas rumah ini masih jauh lebih baik daripada membeli rumah di perumahan, mulai dari kualitas struktur, kusen, luas tanah, dsb.

Akhirnya pekerjaan-pekerjaan yang belum diselesaikan oleh pemborong yang bergelar bangsawan TB. (TeuBagus => karena pekerjaan tidak bagus 🙂 ) ini satu-persatu sudah mulai terselesaikan, mulai dari pagar depan, tembok yang sudah di pagari dan pintu besinya sudah datang/jadi, tinggal dipasang saja. Kemudian yang bocor juga sudah di no-drop lagi, lumayan berkurang jauh, meskipun masih ada sedikit “tampias” di kamar depan. Paralon-paralon dan kran yang bocor juga sebagian besar sudah diganti, tinggal di bagian belakang saja yang baru ketahuan hari ini bocornya 🙂

Hati ini sebenarnya tidak marah, mungkin hanya kecewa dan sedih saja, sedih karena kok punya teman seperti  dan sedih juga kasihan karena pasti yang rugi adalah pemborongnya sendiri, kalau saya sih yakin Insya Allah kalau saya bisa lulus dari ujian ini, pastilah Allah akan memberikan yang lebih besar dari yang diambil oleh pemborong ini,  kok kenapa tidak dibicarakan saja gituloh apa masalahnya, kok langsung menghilang saja. Kasihan kan yang rugi pasti dia sendiri, memberi rejeki dgn rejeki yang tidak jelas untuk anak istrinya, belum nama baik dan kepercayaan pastinya menurun drastis. Setelah beberapa kali handphonenya off line dan beberapa kali jalir janji dalam penyelesaian pekerjaan, komunikasi terakhir yang dilakukan adalah pada hari senin ketika saya pindahan via sms yang isi seperti berikut ini:

nama pemborongnya saya beri inisial saja yaitu TB.E, tapi pemborong atau orang-orang yang berkecimpung di dunia konstruksi di Bogor pasti taulah siapa orangnya, pemborong yang tinggal di perumahan GM Bogor yang berinisial TB.E yang mempunyai saudara dan saudari serta orang tua yang berkecimpung di dunia konstruksi juga baik di pemerintahan atau swasta, yang biasanya memakai bendera CV. V

saya: Pa TB.E kumaha damang? punten kumaha ieu penyelesaian bumi teh, aya naon atuh masalahna, hayu atuh urang dibadamikeun, ngarah sami2 raos. Iraha atuhnya tiasa pendak?

(Pa TB.E gimana sehat? maaf bagaimana tentang penyelesaian rumah, ada apa masalahnya, ayo kita bicarakan biar sama enak. Kapan bisa ketemu)

Jawab TB.E: Muhun abdi pa abdi hoyong pendak kin dinten rabunya pa, ayeuna abdi rada kirang sehat, punten sate acana jd jie hapunten (ini sms kata2 aslinya loh…)

(Iya saya juga ingin ketemu, nanti hari rabu yah pak, sekarang saya sedang kurang sehat, mohon maaf sebelumnya jadi begini, maaf)

Saya: Muhun diantos sing enggal sehat lahir batin, abdi dinten ayeuna ngalih, htr nuhun

(Iya saya tunggu, semoga lekas sembuh lahir dan batin, saya hari ini pindahan, terima kasih)

Dalam sms ini saya tidak mengatakan menerima permintaan maafnya, karena menurut Aagym sih kalau kita merasa bersalah dan mau minta maaf itu ada 3 (tiga) langkah yang harus dilakukan yaitu:

1. Ada pernyataan meminta maaf, 2. Menjelaskan alasannya kenapa bisa bersalah, 3. Membuat komitmen dan kompensasi serta benjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang salahnya.

contoh: saya terlambat datang mengajar ke kelas, maka saya akan meminta maaf kepada murid-murid saya; “saya minta maaf karena terlambat”, kemudian saya jelaskan kenapa saya terlambat’ “saya hari ini terlambat karena tadi malam saya baru pindahan rumah sehingga kecapaian dan bangun kesiangan”, terus membuat kompensasi dan komitmen; “baiklah sebagai kompensasi dari keterlambatan saya maka saya akan memberikan ulangan harian… aya coba keluarkan kertas selembar dan simpan semua buku dan tas di depan” hehehe… yaahhh mungkin kompensasi yang membuat anak-anak senanglah tergantung situasi dan kondisinya, kalau pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya sudah lumayan banyak, maka kompensasinya adalah; “kalau begitu kita pelajaran bebas saja hari ini” atau kalau materi pelajaran masih kurang maka bisa saja kita memberikan pelajaran/jam tambahan di hari lain… kemudian komitmen; “okelah saya berjanji tidak akan telat lagi, toh tidak mungkin pindahan setiap bulan atau setiap minggu 🙂 ”

eh kok malah melancur ke acara mengajar nih 🙂 oke kembali ke laptop, nah itukan sms di hari senin, besoknya hari selasa ada kejadian yang sedikit membuat kesal/marah saya, yaitu ada anak buahnya pak TB.E ini (namanya berinisial I) yang masuk ke bedeng belakang rumah dan kemudian karena kunci bedengnya sudah saya ganti, dia masuk melalui atap bedengnya… yah seperti maling saja itu. Padahal di depan itu ada orang tua saya, tidak ijin, tidak salam atau bagaimanalah sesuai dengan tata rama dan kesopanan, main slonong saja ambil barang di bedeng lewat atap. Bukan masalah barangnya yang diambil tapi yang tidak sopan kepada orang tua saya itulah yang membuat saya sedikit marah, orang tidak sopan ke saya pribadi mungkin masih bisa cu-x sajahlah… tapi kalau ada orang yang tidak sopan kepada orang tua saya… maaf-maaf saja yah, itu orang tua saya yang akan saya bela kehormatannya meskipun harus bersimbah darah! atau harus sampai mati pun akan saya bela kehormatan orang tua saya!

kemudian kalau dilihat barang2nya; yang diambil ternyata adalah sedikit (yah paling seperempat karung juga tidak) pasir dan alat2 kecil lainnya yang harganya tidak seberapa… haduh masa sih tidak bisa beli barang seperempat karung pasir dan sedikit alat-alat untuk bekerja, sampai2 harus “menerobos” seperti maling ke rumah orang 🙂 okelah itu bedeng yang dulunya dia bekerja, tapi kan sekarang sudah ada penghuni yaitu pemilik rumah … mbok ya ada kesopanan sedikit donk… minta ijin dulu kek… pasir yang tidak seberapa meskipun itu seharusnya menjadi milik saya (karena diangap barang/bahan habis pakai, termasuk juga alat2 lain spt cangkul, garpu, kuas, dsb), kalau minta ijin dulu saya kasihlah, kata si I itu sih, pasirnya soalnya kemarin dipinjam dari proyek BNR dan sekarang mau diambil lagi, dipinjam??? saya kan sudah bayar lunas bro… kenapa harus pinjam, meminjam???

Akhirnya dari kejadian itu langsung saya telepon beliau, dan ternyata kembali seperti minggu kemarin-kemarin, hp nya tidak diangkat-angkat. akhirnya saya sms saja yang isinya seperti ini:

“Pak E mhn anak buahnya (IW) diajarkan kesopanan kok masuk ke rumah sy tdk ijin atau sama dl, bukan masalah barangnya tp hidup itu ada tata rama pak! htr nuhun”

ditunggu-tunggu; tidak ada balasan juga, dan akhirnya janji hari rabu untuk ketemu pun tidak ada kabarnya sama sekali 🙂

Dalam tulisan ini saya ingin berbagi kebahagian saya bisa menempati rumah baru dan mungkin curhat atas kekecewaan kepada pemborongnya yang tidak bertanggung jawab dalam penyelesaian pekerjaannya. Dengan tanpa mengurangi rasa gembira dan bersyukur, berikut adalah beberapa kekurangan dari pemborong rumah tersebut adalah:

Pekerjaan Utama (Major Item) yang Tidak Selesai

Beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan, yaitu antara lain:

Pagar Luar; Pagar Luar hanya dibuat temboknya saja, sedangkan pintu besi dan pagar di bolong-bolongnya belum diselesaikan.

Pagar Dalam; Selain pagar luar, sudah disepakati adanya pagar di bagian dalam, yaitu di tengah-tengah garasi yang menuju ke bagian belakang rumah, meskipun ditawar oleh pemborong hanya temboknya saja (tanpa pintu besinya) dan okelah disetujui oleh saya, tapi ternyata boro-boro ada temboknya, kosong melompong dan timbunan saja yang ada.

WC Luar; selain WC dalam, dijanjikan juga adanya WC di bagian luar belakang rumah, tetapi yang terbangun ternyata hanya setengah temboknya saja dari satu dinding sekitar 1 x 1,5 m sajah,

Sumur Air, dijanjikan adanya sumur untuk alternatif selain PAM (tetapi PAM tidak termasuk ke dalam kontrak dan sudah saya pasang sendiri), Memang sumurnya sidah digali, tetapi kedalamannya masih kurang dan ditinggalkan dalam kondisi terbuka, belum dipondasi atau ditutup dan karena kedalamannya masih kurang maka kalau tidak ada hujan maka air tidak ada, padahal ditetangga sebelah tidak bermasalah dengan sumurnya, sebenarnya paling tinggal hanya 2 atau 3 meter digali lagi dari kedalaman sekarang (7 meter), maka air pasti akan konstan.

Pompa air dan Torn (Penampungannya), sebenarnya pompa dan penampungan air barangnya sudah tersedia warisan dari teman saya yang baik hati, namun entah kenapa kok tidak dipasang-pasang barangnya, prasangka buruknya sih, jangan-jangan barangnya sudah dilego tuh oleh pemborong bermasalah ini, tinggal masang kok susah amir sih…

Kolam Ikan, anak saya sudah mencita-citakan bahwa di rumah barunya dia ingin ada kolam ikan, akhirnya saya mencoba bernegosiasi dengan pemborong kacau balau ini, dan akhirnya mereka menyetujui untuk membuat kolam ikan yang super sederhana, saya bilang cukuplah dari kramik sisa/bekas, dan ukurannya kecil saja, dan seni atau modelnya juga asal sajalah, yang penting keinginan anak saya terpenuhi, sampai terakhir boro-boro kolam ikan, yang ada kolam air di halaman belakang akibat paralon yang bocor 🙁

Nah itulah beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan oleh pemborong yang bermasalah ini.


Penyelesaian Pekerjaa ASAL JADI

Kemudian berikut adalah pekerjaan yang bisa dianggap sudah diselesaikan tetapi penyelesaiannya kalau kata tetangga baru sayah mah; ini ngerjainnnya “asal jadi”

– Kunci Rumah; kayanya dibandingkan dengan kost-kost-an saja kualitasnya masih di bawah deh, dan ternyata belum selesai dan belum ditempati juga handle pintu belakang sudah patah lagi, trus diganti… eh diganti masih dengan kualitas yang sama, kemudian ditempati pintu depan macet, akhirnya saya jebol deh, sampai sekarang belum ada kuncinya lagi tuh… cape deh.. cape deh… cape deh… 🙂

– Keramik WC; warnanya tidak sesuai pesanan, kemudian ini baru kecurigaan saja sih, ini baru atau bekas yah? soalnya masa sih keramik baru sudah ada yang retak-retak di pinggirnya. WC duduk kok tidak ada jeglongan (siraman)-nya ohh…. siram manual 🙂 kemudian istri saya minta dibuatkan sedikit semacam bangku kecil untuk duduk anak saya atau mertua saya yang agak sakit-sakitan duduk, eh… lupa deh… dan juga minta dibuat semacam bolongan untuk menyimpan sabun, dibuatkan sih tapi ukuran dan bentuknya itu loh.. seperti di WC terminal saja, oh iyah… kran airnya juga, baru pindah hari senin, besoknya selasa sudah dollll alias copot putarannya itu dan pipa paralon ledengnya juga sudah bocor… ketrig deui… okelah kalau beg beg beg… 🙂

– Genteng/Atap; kayanya ini genteng bekas yang pak? masa sih genteng baru warnanya kusam begituh dan ada yang potong-potong ujungnya, katanya sih ini model baru “minimalis” seperti di BNR, padahal itu bekas dari BNR kayanya :), kiri kanan dan depan belakang masih bocor-bocor lagi.. gampang tinggal di no drop aja… tapi kapan? yang ada no action and no money padahal saya sudah bayar lunas semua biaya pembangunan ke pemborong omdo ini 🙂 oh iyah tambahan satu komplian, saya pesan untuk menambah sirkulasi udara, ditambahkan lubang udara di antara atap dengan dinding atas… tapi… tutup sekalian dengan plafon 🙂

– Cat Rumah; pesanannya sih untuk di dalam di cat warna putih dan warna mendekati kuning untuk di kamar anak, kemudian abu muda dan tua untuk luar, jadinya => putih dan sedikit krem di dalam, jadi kaya rumah sakit aja deh eh gedung putih aja deh, yaaa sudaaaahhhh 🙂

– Plafon; dipasang tanpa lis atau pembatas ke dindingnya, yaaaa namanya juga minimalis 🙂 tapi kata teman saya sih…. masa sih plafon tidak pakai lis? jawabnya; ya kan minimalis… halah… cape deh cape deh cape deh…

– Paralon Saluran Air bersih dan kotor; kualitasnya benar-benar paling rendah, padahal beda harganya dengan yang kualitas sedang hanya beberapa ribu saja (rp. 3000), kalau yang merk vertu rp. 9000/batang, kalau yang merk wavin rp. 12.000,- cuman beda 3000 sajah per batangnya, padahal instalasi air bersih di rumah itu paling hanya butuh tidak lebih dari 4 batang. Bener-bener kaya raya dan hebat nih pemborong… merk Vertu kan mahal, bisa sampai puluhan juta tuh satunya…. eh itumah VIrtu-V merk handphone yah 🙂 ya gitu deh… akhirnya instalasinya pada bocor, akhirnya ganti semua dengan biaya sendiri… yayayayaaa… baiklah spongebob… 🙂

Kerugian Materil dan Non-Materil

Dengan banyaknya pekerjaan yang belum selesai tersebut berdampak lumayan juga sih kepada keluarga saya ini, bahkan sampai-sampai bapak saya dari Cianjur turun tangan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah ini, berikut adalah kerugian baik meterial atau non material

– Yang jelas saya harus keluar biaya lagi untuk menyelesaikan dan memperbaiki rumah ini, beli bahan dan bayar tukang tentunya. Ini adalah kerugian material, tapi alhamdullilah masih ada teman yang baik hati yang mau meminjamkan sedikit rejekinya untuk dihutangkan untuk dipakai belanja bahan dan tukang, hatur nuhun pak… semoga Allah SWT membalas kebaikannya dengan balasan yang berlebih… dan semoga saya bisa cepat-cepat memperoleh rejeki yang halal untuk segera membayarnya…  amien…

– Setiap malam akhirnya saya harus bergadang dan membangun “benteng takeshi” di belakang rumah dengan kunci gembok berlapis-lapis untuk mengamankan 2 sepeda motor dan 3 sepeda goes, plus mobil harus di parkir “malang”/melintang untuk menghalangi orang masuk ke halaman belakang, hati ini tidak bisa tenang karena pagar depan belum ada. Benteng takeshi maksudnya; Pot-pot bunga dan bekas-bekas steger dijejerin untuk menghalangi motor, plus botol aqua galon disimpan di atasnya yang berfungsi sebagai alarm manual, rantai besar di beri gembok besar untuk mengunci sepeda, motor di kunci doubel dan diberi kunci panjang untuk mengunci keduanya, mobil selain kunci setang diberi rantai juga… jadi sekitar 8 kunci harus saya buka dan tutup tiap hari, belum kalau jalan tanahnya masih nempel-nempel lagi karena belum di floor/semen.

Anak akhirnya diungsikan selama seminggu ini ke rumah mertua di jakarta, karena sumur di belakang belum ditutup, kalau ada anak wah…. bisa bahaya tuh. Akhirnya sekolahnya diliburkan sajaaahhhh… 🙂

Bapak saya yang mantan Camat, akhirnya harus menjadi mandor yang mengawasi dan memberikan instruksi untuk menyelesaikan pekerjaan ini… saya sih sudah melarangnya dan menyuruhnya untuk pulang saja ke Cianjur, tapi mungkin karena sayangnya kepada anaknya akhirnya Bapak saya tinggal di rumah baru ini selama seminggu ini… ya Allah ampuni hamba Mu ini yang belum bisa membalas jasa orang tua… malah masih saja merepotkan mereka… ya Allah… sayangi mereka dan ringankan beban mereka di dunia dan akhirat yaaaa Allah…

Okelah mungkin dicukupkan dulu curhatnya sampai disini dahulu… sudah jam 12 malam lebih, sudah ngantuk nih.. tapi tetap harus jaga malam, karena sampai hari ini ternyata pintu pagarnya belum terpasang sempurna 🙂 Besoklah sambil ngeronda lagi dilanjut lagi curhat, saya belum cerita tentang oblrolan di toko matrial dengan seorang pengurus mesjid di perumahan GM yang mana pemborong ini juga yang ikut berperan dalam pembangunannya, plus ada satu warga perumahan GM juga yang memborongkan pekerjaannya kepada pak TB.E  ini yang mengalami masalah juga, trus tiba-tiba ada tagihan dari warung ujung jalan yang meminta tagihan kopi waktu awal-awal pembangunan, yang katanya atas nama saya “heldi” padahal kan waktu itu saya belum terlalu aktif di lokasi pembangunan ini, kok bisa ada tagihan kopi?? dan atas nama saya lagi, kan pada awal-awal itu yang mengcover semua hal logistik adalah mandornya yaitu bapak AS atau langsung pemborong aja, kok tiba-tiba ada tagihan yang belum lunas atas nama saya??? Belum cerita bekas anak buahnya yang upah bayarannya belum dibayar lunas… ah sudah ah… jadi cerita lagi nih… mau bikin kopi dulu deh…

tapi intinya melalui curhat ini mudah-mudah ada solusi yang bisa membuat semua pihak merasa “enak” jangan “cul leos” seperti ini, kalau dulu minta tagihan wahhh begitu bersemangatnya… sekarang sudah dilunasi… kamana wae yeuh???

==================================================================================
Memerlukan Narasumber/Instruktur Training (Bimbingan Teknis) atau Konsultasi Pengadaan Barang/Jasa untuk Pemerintah berdasarkan Perpres 54 tahun 2010 atau Swasta berbasis Supply Chain Management & Essential Procurement, Silahkan hubungi wwww.heldi.net via HP. 081111-64-600- email: heldi_y@yahoo.com
Bagi para Supplier Barang/Jasa, Penyedia product yang ingin mempromosikan produk atau barang/jasa nya di Pojok Penyedia/Supplier, silahkan kirimkan email mengenai produk barang/jasa nya. ==================================================================================
Share
Punya cerita tentang kota Bogor dan sekitarnya, atau mau promosi usaha anda di kota Bogor, silahkan kontennya ke: heldi_y@yahoo.com , jangan ragu segera dikirm content-nya, ditunggu ya postingannya segera...

Comments

11 Responses to “Hati-hati memilih pemborong untuk membangun rumah”
  1. Software RAB says:

    Memang walaupun tidak semua pemborong melakukan hal yang sama, sebab mungkin lebih banyak pemborong yang beritikad baik ketimbang seperti kejadian di atas. Tapi sebaiknya benar.. kita harus berhati-hati jika akan memborongkan pelaksanaan membangun rumah untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita harapkan. Terutama kita harus melakukan hal-hal dan prosedur yang benar dalam proses pemilihan pihak pemborong. Salam buat pemilik website dan semua pengunjung situs ini.

  2. martono says:

    asw, met menempati rumah baru pak,,

    Kalau kontraktor dan pemilik rumah sudah pegang perjajian tatacara penyelesaian rumah , pengambilan uang dan waktu penyelesaian sama sama disepakati tak mungkin ini terjadi,

    yang jelas dua duanya sama sama tidak komitmen,, dalam mengambil uang dan memberi uang,,

    saya bisa analaisa lebih jauh kalau ada perjajian dan gambar dan RAB dan bisa kasih masukan yang positif untuk kedua belah pihak,,trim

  3. Erlin says:

    biarpun telat, saya ucapkan selamat pindh rumah baru. saya sendiri jg pny pengalaman yg sama, tapi akhirnya selesai juga..jadi ga puas deh. Teman-teman ada yang pny info pemborong yang ‘baik’ murah meriah dan bertanggung jawab? mohon infonya ke drharyono@yahoo.co.id. thx..

  4. heldi says:

    @agung
    terima kasih atas do’a nya, kata aagym mah memang kita harus terus instropeksi diri, karena kadang gajah di depan rumah tidak kelihatan, tapi cileuh di depan mata kadang suka lupa belum dibersihin hehehehe teu nyambung

    nuhun om…

  5. agung says:

    semoga bisa intropeksi diri

  6. heldi says:

    @Thomas:
    Terima kasih atas doa dan masukannya… semoga sukses selalu pak 🙂
    Salam procurement dari Bogor

    @Sontoloyo:
    Bukan atuh om Sontoloyo… tapi…. mungkin itu masih ada hubungan kali yah dengan account itu 🙂

  7. sontoloyo says:

    pemborongnya hebat yah pak……
    yang ini yah pak orangnya http://www.facebook.com/profile.php?id=1785661322&ref=ts

  8. Thomas says:

    Selamat pindah ke rumah baru ya Pak Heldi, semoga menjadi rumah yang indah buat keluarga.
    Memang kalo urusan membangun rumah dengan teman kadang agak merepotkan, jadi dulu pengalaman saya dengan teman adalah memakai sistem persentase saja.
    Tiap step saya hanya ambil sekitar 10% dan 5% buat operasional.
    Pemilik bisa memilih material apapun sesuai kemampuan dan selera.
    Kalaupun keuangan pemilik macet, bisa di stop kapan aja tanpa ada kerugian di kedua belah pihak.
    Tiap 2 minggu kumpulan bon bisa diambil pemilik, buat ngecheck2 kalo kurang percaya harga bangunan naik per minggu 🙂
    Dulu memang tidak selesai karena saya keburu ditugaskan ke luar kota, namun tukang masih ada, bisa diawasi sendiri, design dan material sdh lengkap terbeli, jd tinggal dipasang. Malah yg punya rumah bisa hemat 10-15% buat dirinya sendiri mengawasi finishing. 🙂

  9. visakana says:

    Sabar Pak, nanti juga ada balasannya

Komentar Anda... Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!