Baranangsiang Jadi Terminal Pusat Kota

December 22, 2010 by  
Filed under Kota Bogor

busbaranangsian Baranangsiang Jadi Terminal Pusat KotaSidang Paripurna DPRD Kota Bogor, Senin (20/12/2010), antara lain mengesahkan rekomendasi Panitia Khusus Transportasi. Isi rekomendasi tersebut di antaranya Pemko Bogor harus mempertahankan Terminal Baranangsiang sebagai terminal pusat kota, revitalisasi angkutan kota selesai menyeluruh pada 2012, dan membagun terminal batas kota bersama Pemerintah Kabupaten Bogor.

Hasil rekomendasi Pansus Transportasi setebal 15 halaman folio tersebut dibacakan oleh Ketua Pansus Yus Ruswani dan sekretarisnya Dadang Ruchiyana. Sidang dipimpin Ketua DPRD Mufti Faoqi dan Wali Kota Bogor Diani Budiarto, serta para pejabat muspida lainnya.

Rekomendasi pansus terkait Terminal Baranangsiang, meminta Pemko Bogor tetap mempertahankan lokasi Terminal Baranangsiang dan fungsinya sebagai terminal pusat Kota Bogor. Renovasi atas terminal tersebut diperlukan untuk meningkatkan fungsi pelayanan publik yang dikembangkan terpadu dengan prinsip Transit Oriented Development dengan Trans Pakuan dan moda lainnya. Terminal itu harus terintegrasi dengan stasiun kereta Bogor dengan trayek utama Trans Pakuan.

Berkaitan dengan lokasinya, Pansus juga merekomendasi Pemko untuk membangun flyover atau underpass dan skywalk, sehingga kelaur masuk kendaraan terminal tidak menghambat kelancaran Jalan Pajajaran serta ada kenyamanan pejalan kaki dari/ke terminal dan shelter bus.

Berkaitan dengan penataan angkutan kota, Pansus meminta Pemko menjamin mobilitas masyarakat tidak terhambat oleh kemacetan lalu lintas, karena itu dinas mengendalikan izin trayek angkot dan melakukan pembinaan terkait transformasi moda angkutan umum ke angkutan massal.

Menurut Pansus, pembatasan operasi angkot pada semua trayek merupakan solusi alternatif sampai dengan batas waktu penataan, seiring revitalisasi angkutan kota menyeluruh, yang ditetapkan selesai pada tahun 2012. Pembatasan operasi angkot itu juga harus dibuat payung hukumnya, minimal Surat Keputuan Wali Kota.

Pansus juga mengharuskan pembatasan operasi angkot itu juga berlaku untuk angkot AKDP, sesuai dengan hasil rapat Juni 2010 antara Dishub Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bogor, Kotas Sukabumi, dan Kabupaten Cianjur.

Adapun mengenai terminal batas kota, Pansus merekomendasi Pemko Bogor untuk harus bekerja sama dengan Pemkab Bogor menyelenggarakan terminal batas kota. Tujuannya, pembangunan terminal tersebut cepat terwujud, untuk mengendalikan jumlah angkot yang masuk Kota Bogor.

Untuk jangka panjang, jika sistem angkutan umum massal telah berjalan baik dari kota maupun kabupaten, terminal batas kota tersebut menjadi shelter transit.

sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2010/12/20/2044175/Baranangsiang.Jadi.Terminal.Pusat.Kota-5

Share

Aku Cinta Ibu…

December 21, 2010 by  
Filed under its me - Heldi

Jika kau mencintai ibu, cintailah sekarang supaya ibu tahu.
Merasakan keindahan, kelembutan kasih yang tumpah dari sanubarimu.
Cintailah, manjakanlah ibu sekarang semasa ibu masih hidup.
Usah tunggu hingga ibu pergi.
Kemudian barulah engkau ukir rasa kasihmu di batu nisan.
Dengan kata-kata indah pada sekujur batu yang diam.

Jika kau memiliki ingatan manis buat diri ibu, tunjukkanlah sekarang.
Jangan tunggu sampai ibu mati, karena ibu pasti tak dapat mendengarnya.
Oleh karenanya jika kau mencintai ibu, walaupun hanya setitik saja dari lautan hidupmu, nyatakan dan buktikan sekarang, sementara ibu masih hidup.
Agar ibu dapat menikmati dan menyanjungnya ”

Sekarang Ibu telah pergi dan aku menyesal sebab aku tak pernah sedikitpun menyatakan betapa besar arti Ibu selama ini. Aku berbicara, melayani semua orang untuk urusanku.
Tapi aku tak pernah meluangkan waktu untuk melayani Ibu walaupun hanya sejenak.
Sebenarnya aku mampu menuangkan teh kedalam cangkirnya, mengajak Ibu berjalan-jalan atau sekedar memeluknya erat ketika sarapan.
Jika aku menelpon Ibu kulakukan dengan cepat dan singkat. Sebaliknya aku lebih mengutamakan teman-teman di jejaring sosial, menghadiri pertemuan sosial tanpa pernah melibatkan ibuku.

Aku terus mengingat betapa banyak waktu yang ia berikan kepadaku. Bahkan beliau dengan senang hati membantu mengurus anak-anakku jika aku sibuk bekerja.
Mereka sangat menyayangi neneknya; karena sejak kecil neneknyalah yang lebih dekat.

Aku dilanda penyesalan yang tiada ujung.
Dengan peristiwa ini, aku berharap anak-anak lain akan dapat memahami, menghargai para Ibu mereka.
Ibu yang telah memberikan kasih sayang yang melimpah tanpa syarat sepanjang hidupnya.
[Sumber : Anonim]

Share

Markus Harrison juga ingin jadi PNS

December 14, 2010 by  
Filed under PNS (Pegawai Negeri Sipil)

Markus-Horison Markus Harrison juga ingin jadi PNSMarkus Haris Maulana (Markus Harrison), ternyata kiper kebanggaan nasional Indonesia yang juga pada musim ini bermain di Persib Bandung, mempunyai keinginan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil atau  PNS :) keinginannya ini disampaikan pada saat Bapak Presiden SBY bertemu dengan para pemain tim nasional yang akan berlaga pada piala AFF. Ternyata memang berprofesi menjadi seorang PNS (pegawai negeri sipil) ini masih menjadi incaran banyak orang.

Presiden pun menjawab, “gampang itu…“. Tuh kan kata siapa jadi PNS itu susah…. :) Berikut adalah berita lengkapnya dari detik.com

Jakarta – Kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke latihan timnasional Indonesia jadi kesempatan untuk mengeluarkan sedikit unek-unek. Di antaranya soal kondisi lapangan GBK dan keinginan jadi PNS.

Timnas Indonesia di Piala AFF dapat kejutan saat dikunjungi SBY, Senin (13/12/2010) siang WIB. Meski sudah tak masuk jadwal latihan rutin, kedatangan orang nomor satu di negeri ini disambut dengan antusias oleh para pemain.

Apalagi SBY kemudian membuka kesempatan buat para pemain untuk mengajukan pertanyaan langsung pada dirinya. Memanfaatkan kesempatan yang jarang-jarang didapat, muncullah curhat-curhat yang selama ini mungkin belum didengar langsung oleh sang presiden.

Yang pertama muncul dan mengundang senyum terkait keinginan Markus Horison menjadi PNS alias Pegawai Negeri Sipil.

“Ini Markus kepingin jadi PNS,” celetuk salah seorang fotografer SBY bernama Abror sambil memegang kiper berkepala plontos tersebut. Menanggapi aksi mengejutkan sang fotografer istana tersebut, Markus cuma tersenyum malu.

Meski begitu SBY tetap menaggapi keinginan kiper utama Indonesia itu. “Gampang itu. Kalau sekarang masih pikir-pikir, saya kasih waktu seminggu,” guyon SBY.

Curhat lain yang dilontarkan timnas pada SBY terkait kondisi lapangan Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dalam laga terakhir fase grup menghadapi Thailand, kondisi lapangan memang sangat buruk.

“Silakan kirimkan surat ke saya,” jawab SBY saat Menegpora, Andi Mallarangeng, menyampaikan keluhan pemain terkait permukaan lapangan GBK.

Kedatangan SBY ke sei latihan timnas punya arti tersendiri buat beberapa pemain. Salah satunya dari bintang timnas Indonesia, Irfan Bachdim, yang dalam akun twitternya, @IrfanBachdim10, menyebut telah dapat kehormatan sangat besar atas kunjungan SBY.

Wow today a special day for me. I met Mr President. This is the biggest honour in my life!!,” demikian tulis Irfan

Share

PSSI – Nurdin Halid – Hebatnya “Kekuasaan”

December 13, 2010 by  
Filed under its me - Heldi

Hebatnya Kekuasaan.

PSSI_logo PSSI - Nurdin Halid - Hebatnya Kekuasaan

Saya tidak terlalu mengerti bagaimana kok bisa terjadi kejanggalan-kejanggalan di dalam dunia persepakbolaan Indonesia, namun dari suara-suara yang ada baik dalam media elektronik; TV, internet, atau koran dan obrolan-obrolan langsung dengan teman-teman di warung kopi samping kantor, memang terjadi kejanggalan yang amat sangat kentara di depan mata kita dalam tubuh persepakbolaan Indonesai, terakhir denga adanya Liga Baru (LPI/Liga Primer Indonesia) yang dibentuk oleh beberapa orang yang concern dengan kondisi sepakbola di negara kita, sebelumnya ada Kongres Nasional Sepakbola yang isinya sebenarnya sudah jelas-jelas “begitulah” kepada yang punya kekuasaan di PSSI ini.

Sampai terakhir adalah adanya spanduk-spanduk yang berperang di GBK, tidak tahulah apa yang terjadi, tapi menurut saya pribadi memang benar-benar hebat ini yang namanya kekuasaan di Indonesia, siapa yang punya kuasa maka dia lah yang bisa berbuat sesuai dengan keinginannya :) , padahal sudah sangat jelas bahwa… “begitulah…” tapi ya… “begitulah…” itulah dia Hebatnya Kekuasaan…

Sumber: Detik.com

http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2010/12/11/154748/1522437/425/kritik-atas-spanduk-nurdin-halid-di-gbk

Jakarta – Nurdin Halid membuat satu lagi kesalahan besar saat Piala AFF berlangsung di Jakarta. Fenomena spanduk di Stadion Gelora Bung Karno, yang adalah katedral-nya sepakbola Indonesia, adalah sebuah penodaan atas keluhuran stadion.

Kita tahu, dalam sepakbola, stadion adalah segalanya. Para pemuja sepakbola ada yang menyebutnya sebagai gereja, kuil, atau altar — ringkasnya: tempat paling adiluhung dalam perayaan sepakbola. Di sanalah, di stadion itu, semua urusan akan diselesaikan atau justru akan dimulai, segala cerita akan dibangun atau mungkin dihancurkan, emosi akan dikerek ke udara atau malah akan terbantun seketika.

Di level itu, stadion adalah sebuah “public-space”, tempat keragaman suara dirayakan, tempat warga punya ruang untuk mengekspresikan semangat (komunalisme). Ia adalah altar di mana kebebasan seorang suporter bisa dikerek setinggi-tingginya, sekaligus ia pula yang mempertanggungjawabkan dan menanggung risiko atas kebebasan yang dirayakannya di sana.

Stadion, sekali lagi, adalah puncak pengalaman dalam melibatkan diri dengan sepakbola — apapun posisi Anda, sebagai pemain, suporter, wasit, sampai presiden sebuah federasi sepakbola.

Tentu saja stadion membutuhkan “keteraturan” tersendiri. Semua studi antropologi tentang ritus-ritus juga selalu menemukan adanya “keteraturan”, “pola”, “rukun”, dll. Dalam upacara sepakbola di stadion, keteraturan terutama terkait dengan isu keamanan, baik isu keamanan yang sifatnya fisikal maupun keamanan di level non-fisikal (misalnya: isu rasisme). Ini sudah jadi standar di mana pun, tentu saja dengan gradasi yang berbeda-beda di tiap tempat, tergantung kesiapan, juga tergantung intensitas duel yang sedang di gelar di stadion.

Tapi di luar isu keamanan itu, upacara sepakbola di dalam stadion sudah sepatutnya dibiarkan berlangsung secara alamiah dan bergulir secara organis. Upaya pembatasan pada kelangsungan upacara sepakbola, apalagi hanya sekadar untuk menjaga kepentingan seseorang, adalah pengingkaran terhadap sepakbola sebagai sebuah peristiwa, sepakbola sebagai sebuah event, sepakbola sebagai sebuah upacara dan perayaan.

PSSI dan Nurdin Halid, saya kira, telah melakukan dua hal tidak patut yang membuat keduanya layak didakwa telah menodai keluhungan Stadion Utama Gelora Bung Karno sekaligus upacara perayaan sepakbola ini.

Pertama, PSSI dan Nurdin Halid telah membatasi stadion sebagai cagar alam kebebasan bersuara para suporter. Nurdin dan antek-anteknya memasang spanduk-spanduk yang menguntungkan dirinya sendiri. Nurdin boleh saja berkilah bukan dia yang memasangnya. Tapi fakta bahwa spanduk-spanduk itu sudah terpasang jauh sebelum suporter berdatangan tak bisa membuatnya mengelak.

Tentu saja kita bisa katakan bahwa seorang PSSI dan Nurdin pun boleh dan berhak bersuara. Hanya saja, jika demikian argumennya, maka PSSI dan Nurdin juga tak punya secuil pun hak untuk memberangus spanduk dan poster-poster yang mengkritik dan menghujatnya. Itu baru adil.

Tapi keadilan itu tidak terjadi. PSSI dan Nurdin dengan sewenang-wenang melarang para suporter dan pemuja sepakbola membawa spanduknya sendiri ke dalam stadion. Tas digeledah di pintu masuk Stadion (bukan untuk menyita benda-benda berbahaya seperti pisau, misalnya) tapi justru untuk menyita spanduk-spanduk, apa pun isi dan bunyi spanduknya.

Jika pun dalam Stadion Gelora Bung Karno akhirnya masih terpasang spanduk-spanduk, spanduk itu masuk karena kerja-keras para suporter untuk mengakali aparat-aparat yang sudah di-set up untuk menjaga ketunggalan-suara (monophone) dan memberangus keragaman-suara (polifhone).

Kami harus bertarung urat syaraf dengan orang-orang berkaos merah berlengan hitam (yang masuk ke stadion tanpa tiket) sepanjang 80 menit agar bisa memasang spanduk dalam laga tim nasional melawan Laos. Itu pun tidak bertahan lama, hanya sekitar 5-8 menit. Orang-orang dengan handy-talkie di tangan segera memberangus spanduk itu. Jika Presiden saja bisa membiarkan dirinya dikritik dan dihujat, kenapa PSSI dan Nurdin Halid merasa harus diistimewakan?

Orang mungkin berpikir bahwa sweeping hanya berlaku untuk spanduk yang mengkritik PSSI dan Nurdin Halid. Ternyata salah. Spanduk yang mendukung nama seorang pemain di tribun selatan atas, dalam laga versus Thailand kemarin, dipaksa untuk diturunkan oleh  preman-preman yang dikerahkan. Hanya karena kekompakan suporter di tribun selatan sajalah preman-preman itu akhirnya “mengalah” dan membiarkannya.

PSSI dan Nurdin Halid hanya mengizinkan spanduk-spanduk yang mereka buat sendiri. Spanduk-spanduk dengan cetakan yang bagus, dengan font yang rapi, dengan kalimat-kalimat yang formal layaknya seorang siswa sedang belajar SPOK (subyek, predikat, obyek, keterangan).

Apa yang terjadi? Bagi saya, Stadion Gelora Bung Karno, kehilangan sejumlah hal yang paling alamiah. Alih-alih membakar semangat, spanduk-spanduk PSSI itu malah membuat secara visual stadion terasa begitu formal dan kaku. Terasa benar sebentuk keteraturan yang dipaksakan, bukan gelora yang membuncah secara alamiah. Bagusnya suporter Indonesia tak henti-hentinya bernyanyi; laku yang membuat stadion Gelora Bung Karno bisa tetap terjaga auranya yang magis.

Pertanyaannya: adakah federasi sepakbola di dunia ini yang hanya mengizinkan stadion diisi oleh spanduk yang dibuat oleh federasi sepakbola sendiri?

Kedua, PSSI dan Nurdin Halid terbukti “mengotori” keluhungan Stadion Gelora Bung Karno dengan memasukkan suporter bayaran dan preman-preman bayaran.

PSSI dan Nurdin boleh berkilah, tapi perilaku orang-orang itu tak bisa membuat mereka menyangkal. Sebelum laga, mereka berkumpul di depan Kantor PSSI, dengan kaos merah berlengan hitam, lalu sebagian dari mereka mengawal Nurdin Halid masuk ke stadion (tentu tanpa tiket), sebagian lagi menyebar ke semua sektor, menjaga spanduk-spanduk bikinan PSSI dan Nurdin Halid, dan saat jeda masing-masing mendapat jatah nasi bungkus. Dalam laga melawan Thailand, orang-orang berbadan kekar berkeliaran di tribun selatan atas, memaksa beberapa spanduk yang dibawa suporter untuk diturunkan.

Harian TopSkor (6 Desember 2010, hal. 14) melaporkan bahwa mereka disuplai oleh seseorang yang mereka panggil Pak Yapto Suryo Sumarno, dengan upah 60 ribu rupiah, berikut kaos, jatah nasi bungkus dan tiket cuma-cuma.

Dengan mengizinkan suporter bayaran dan preman-preman bayaran itu masuk ke stadion, PSSI dan Nurdin Halid justru telah memperlakukan laga tim nasional tak ubahnya sebagai sebuah kampanye partai politik. Dengan itu, PSSI dan Nurdin Halid telah memperlakukan laga tim nasional sebagai miliknya, bukan perayaan kolektif para pemuja sepakbola dan pendukung tim nasional Indonesia.

Dengan alasan inilah, kita patut menolak kenaikan harga tiket semifinal Piala AFF.

Sejujurnya, kenaikan harga tiket adalah hal wajar. Harga tiket babak penyisihan dengan semifinal wajar saja berbeda. Tapi, kenaikan harga tiket itu tak bisa diterima jika PSSI dan Nurdin Halid masih membiarkan orang-orang bayaran dan preman-preman itu masuk ke stadion. Para pemuja sepakbola dan suporter tim nasional bayar tiket mahal-mahal, ealah… PSSI dan Nurdin malah membiarkan antek-anteknya masuk tanpa tiket. Jika mau egaliter dan solider, seorang Nurdin Halid pun harusnya masuk dengan membeli tiket.

Percayalah, para pemuja sepakbola di Indonesia tak akan membiarkan tim nasional bertanding tanpa dukungan. Tanpa suporter bayaran pun Stadion Gelora Bung Karno akan sesak dengan para suporter yang tak akan lelah-lelahnya bernyanyi untuk Bambang Pamungkas, Christian Gonzales, dkk. Menyelundupkan suporter bayaran sama saja meragukan kecintaan publik sepakbola Indonesia pada tim nasional Indonesia.

Ingat, ini tim nasional Indonesia, bukan tim PSSI. Tim nasional adalah milik orang Indonesia, bukan punya PSSI dan Nurdin Halid. Catat juga: Stadion Utama Gelora Bung Karno adalah milik bangsa Indonesia, dan jelas-jelas bukan milik PSSI atau Nurdin Halid.

Saya (juga para pemuja sepakbola yang lain) selalu dan akan selalu datang ke Senayan untuk tim nasional, tapi jelas bukan demi PSSI apalagi Nurdin Halid.

=========

Siapa Nurdin Halid from Wiki

Nurdin Halid (lahir di Watampone, Sulawesi Selatan, 17 November 1958; umur 52 tahun) adalah seorang pengusaha dan politikus Indonesia. Ia adalah Ketua Umum PSSI dan pernah menjadi anggota DPR-RI dari partai Golkar pada tahun 1999-2004.

Pada 16 Juli 2004, dia ditahan sebagai tersangka dalam kasus penyelundupan gula impor ilegal. Ia kemudian juga ditahan atas dugaan korupsi dalam distribusi minyak goreng. Hampir setahun kemudian pada tanggal 16 Juni 2005, dia dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan tersebut oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan dibebaskan. Putusan ini lalu dibatalkan Mahkamah Agung pada 13 September 2007 yang memvonis Nurdin dua tahun penjara. Ia kemudian dituntut dalam kasus yang gula impor pada September 2005, namun dakwaan terhadapnya ditolak majelis hakim pada 15 Desember 2005 karena berita acara pemeriksaan (BAP) perkaranya cacat hukum. Selain kasus ini, ia juga terlibat kasus pelanggaran kepabeanan impor beras dari Vietnam dan divonis penjara dua tahun 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 9 Agustus 2005. Tanggal 17 Agustus 2006 ia dibebaskan setelah mendapatkan remisi dari pemerintah bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Dari perkawinannya dengan Andi Nurbani, dia memperoleh lima putra dan satu putri. Adiknya, Kadir Halid, adalah manajer tim sepak bola PSM Makassar.
Sebagai Ketua PSSI

Nurdin terpilih sebagai Ketua PSSI pada tahun 2003. Ia dikenal sebagai ketua PSSI yang kontroversial. Dia menjalankan organisasi dari balik terali besi penjara, mengumumkan ide menaturalisasikan pemain asing, menambah jumlah peserta Liga Indonesia tiap tahun sehingga tidak ada klub yang terdegradasi, menentang penghentian pengucuran dana APBD untuk klub, dan mengurangi sanksi Persebaya yang sebelumnya terlibat kerusuhan pertandingan secara besar-besaran (dari larangan main di kandang selama dua tahun menjadi hanya larangan sebanyak 3 kali pertandingan kandang). Sayangnya, oleh karena kekhilafannya itu, banyak pihak yang tidak mendukungnya.

Share

Memimpin dengan Kesederhanaan

December 12, 2010 by  
Filed under its me - Heldi

Memimpin dengan Kesederhanaan

Sumber: http://politik.kompasiana.com

http://politik.kompasiana.com/2010/12/11/memimpin-dengan-kesederhanaan/

Syahdan, pada pertengahan abad ke 7, di Jazirah Arab seorang pemimpin dihadapkan pada sebuah forum terhormat. Forum tersebut meminta sang pemimpin untuk memenuhi permintaan mereka. Bukan sebuah permintaan yang sulit. Dalam kacamata sekarang, permintaan itu sungguh menyenangkan bagi pemimpin manapun yang menerima tuntutan seperti itu.

Karena forum itu meminta dan bahkan mendesak sang pemimpin untuk mengambil gaji yang sesuai dengan perbendaharaan masyarakat yang entitasnya tengah berkembang luar biasa di bawah kepemimpinannya. Selama ini, sang pemimpin ternyata tidak pernah mengambil gaji yang sesuai. Ia bahkan masih sering melakukan kerja paruh-waktu dengan memerah susu sapi untuk mendapat tambahan uang tunai.

Desakan forum terhormat akhirnya meluluhkan hatinya. Tetapi, sang pemimpin mengajukan satu syarat terhadap forum. Dengan penuh ketegasan dan tak terdengar sedikit pun keraguan, ia meminta ditunjuk sebuah komisi untuk menghitung berapa banyak yang dia butuhkan untuk hidup seperti orang-orang Arab rata-rata, tidak lebih dan tidak kurang, dan kemudian menetapkan jumlah tersebut sebagai gaji. Pemimpin ini adalah khalifah ke dua ummat Islam, Ummar bin Khatab (diramu dan disadur secara bebas dari buku ‘Dari Puncak Baghdad’ karya Tamim Ansary).

Beberapa ratus tahun kemudian, memasuki pertengahan abad ke-9, di Kota Baghdad yang tengah tumbuh menjadi kota terbesar di dunia, seorang pemimpin tampak hilir mudik di tengah lorong-lorong kota yang gelap gulita. Rutinitas yang hampir selalu dilakukannya setiap malam. Ia hanya ingin memastikan kemegahan yang dicapai pemerintahannya dirasakan setiap warga kota itu.

Ia menyamar sebagai rakyat jelata untuk mendengar secara langsung masalah mereka dan mengambil langkah-langkah untuk membantu mereka. Sang pemimin adalah Harun Al-Rasyid, khalifah Abbasiyah ke empat yang berhasil membawa entitas Islam sebagai puncak kemegahan dan keadilan (diramu dan disadur secara bebas dari buku ‘Dari Puncak Baghdad’ karya Tamim Ansary).

Dalam konteks dunia modern sekarang, warga Kota Taheran sering dibuat kaget dan kagum dengan kelakukan pemimpin mereka. Ketika sang pemimpin meminta rumah dinas yang akan ditempatinya sebagai walikota untuk dijadikan museum, warga dibuat kaget. Karena rumah dinas itu memang selalu digunakan walikota-walikota sebelumnya. Mungkin banyak yang berpikiran pemimpin baru ini ‘keblinger’ karena menolak fasilitas super mewah itu.

Kekagetan warga bertambah ketika sang pemimpin lebih suka menggunakan mobil lamanya dibandingkan mobil dinasnya sebagai walikota. Padahal perbandingan mobil lamanya dengan mobil dinas itu ibarat komputer pentium satu dengan komputer pentium empat. Tak lama, warga kian heran dan pada akhirnya harus mengakui bahwa mereka begitu kagum kepada sang pemimpin.

Karena seringnya sang pemimpin terjun langsung di tengah masyarakat, termasuk ketika harus membersihkan saluran air yang mampet. Soal selera berpakaian, sang pemimpin sungguh bersahaja. Di tengah dunia yang menjunjung nilai materi, ia masih sering menjahit sendiri pakaiannya. Dialah potret Walikota Taheran, yang sekarang telah terpilih selama dua periode sebagai Presiden Iran, Ahmaddinejad (disadur secara bebas dari buku ‘Ahmadinejad, David Di Tengah Angkara Goliath Dunia’).

Baik Ummar, Harun, sampai Ahmaddinejad, adalah potret kepemimpinan yang indah. Kepemimpinan dengan hati. Ketika kepemimpinan menemukan fitrah sejatinya. Bahwa pemimpin lahir untuk melayani, bukan dilayani. Bahwa pemimpin seharusnya mampu mencerminkan kesederhanaan ketika sebagian besar rakyatnya masih terbelit kemiskinan. Bukan sebaliknya sibuk merasakan aneka fasilitas dan lebih sering menuntut berbagai tambahan fasilitas.

Namun, itulah yang kita alami sekarang di negeri kita tercinta ini. Anomali dari kepemimpinan Ummar, Harun, atau Ahmadinejad; hadir di berbagai wilayah pesolok Indonesia. Kepemimpinan lebih sering bertutur cerita memilukan tentang apa yang seharusnya terjadi dari sebuah kepemimpinan. Lupakan pencerahan yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin. Lupakan energi perubahan yang seharusnya ditebar seorang pemimpin. Lupakan pula, energi hebat yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin untuk mengangkat lebih banyak orang miskin ke tangga-tangga kemajuan. Karena, semuanya memang masih hadir berkebalikan.

Jadilah, di negeri ini lebih banyak cerita tentang para pemimpin yang sibuk meminta kenaikan gaji, sibuk dengan lawatan luar negerinya, sibuk menuntut aneka fasilitas, sibuk memanjakan diri dengan hobi-hobi mereka, dan sibuk memperkaya diri mereka sendiri. Satu hal yang mungkin tidak membuat mereka sibuk adalah memikirkan keprihatinan warganya. Dan kita harus meratap karenanya. ARW

Share

Celebrity Fitness Bogor

December 12, 2010 by  
Filed under Kota Bogor

Celebrity Fitness Bogor

celebrity_fitness-150x150 Celebrity Fitness Bogor

Celebrity fitness merupakan pusat kebugaran (fitness center) yang cukup besar di kota Bogor ini. Celebrity Fitness ini berada di dalam komplek Botani Square Bogor dengan fasilitas “Wah”; mulai dari TreadMills yang berjejer lengkap dengan TV flat di depannya, alat pembentukan, semuanya lengkap, plus kelas aerobic, rpm (sepeda) dan yoga yang dapat diikuti secara gratis all in, serta tambahan ada sauna dan shower air hangatnya lagi yang bisa bikin seger setelah cape ngangkat-ngangkat beban yang berat :)

Dari segi kenyamanan dan fasilitas yang disediakan, memang sangat sebanding dengan harga yang ditawarkan, selain kita bisa menggunakan alat-alat yang super komplit untuk membentuk otot-otot di badan kita, terdapat 3 kelas khusus yang dapat diikuti secara gratis dengan beragan model latihan, kelas-kelas tersebut antara lain:

1. RPM class

2. Aerobic Class

3. Yoga Class

di kelas rpm kita dapat mengikuti program bersepada statis dengan bimbingan instruktur sebagai “penyemangat”-nya, just follow the music and add more resistance-nya dijamin dalam satu sesi (50 menit) 800 kalori lebih dan beserta lemak-lemaknya akan hilang dari tubuh anda. Terakhir ini yang Instruktur favorite di kelas rpm celfit bogor adalah miss Paulina dan mr. Holly, jangan harap deh dapat sepeda kalau instrukturnya yang dua ini, kalaupun ada yang kosong, pasti sudah ada handuk atau botol air minum “dikeutekin” di booking sama temen-temen maniac rpm.

Begitu pula kelas aerobic, dengan beragam jenis aerobic yang disediakan seperti;

1. Body Combat; aerobic gaya tinju/fight, cocok buat kaum adam atau ibu-ibu yang macho.

2. Body Pump; aerobic sambil ngangkat2 beban barbel

3. Latin Dance; Aerobic bergaya dansa salsa/latin

4. Ball Excercise; Aerobic pakai bola karet besar

Dijamin dengan ikut kelas ini selama 50 menit, lebih dari 600 kalori akan terbakar.

Plus satu kelas lagi yang disediakan oleh Celebrity Fitness Bogor  yaitu kelas Yoga, yang terdiri dari juga beragam jenis Yoga, ada Six Packs Yoga, Hatha Yoga, Flow Yoga, Gentle Strech, Power Dinamic, Jazz Yoga, Meditation, dan berbagai jenis Yoga lainnya. eh tapi jangan salah… meskipun kelas yoga, dijamin keringatnya tetap “banjir” seperti kelas rpm dan aerobic, apalagi bagii pemula, selain dapat membuat relax syaraf dan pikiran kita, tetap saja lemak akan terbakar banyak, silahkan buktikan sendiri dengan mengikuti kelas ini.

Kalau mau coba saja program 14 hari GRATIS, coba barang sekali atau dua kali latihan di Celebrity fitness; setelah angkat-angkat beban untuk pembentukan otot/badan kemudian ikut kelas  RPM terus ikut kelas aerobic, dan diakhiri dengan ikut kelas yoga…  dijamin sehat dan fresh kembali deh… dilanjutkan dengan masuk ke ruang sauna dan mandi shower air hangat… wow… serasa forever young hidup ini :) dijamin tidur nyenyak, badan sehat dan pastinya vitalitaspun akan meningkat :)

Celebrity Fitness Bogor sangat recomended bagi para ibu-ibu atau bapak yang ingin memiliki bentuk tubuh yang ideal, atau para atlet yang memang sehari-hari bergaul dengan dengan “alat-alat berat” ini. Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi para pembaca bogorguide.com sebelum memastikan untuk gabung menjadi member disini. Bahwa manajemen tempat fitness ini adalah murni dari negera barat, sehingga manajemennya pun benar2 ke barat-barat-an, jangan mengharap banyak ada budaya timur disana. Mulai dari music yang barat semua, CS di front desk yang tetap senyum tapi tetap “harus” meminta kartu anggota kita, slogannya “yes we know you, but we still need your card” so kalau tidak ada kartu atau kartunya ketinggalan, ya sudah tidak bisa masuk, nitip barang kecil sebentarpun tidak boleh tuh.

Admin Bogorguide pernah mempunyai pengalaman, beli 2 minuman ringan dari celfit, karena banyak tas/barang bawaan, saya minta dititip dulu minumannya barang sebentar hanya sekedar untuk mengganti baju saja karena tas dan bawaan saya banyak, belum ditambah handuk buat latihan, minta titip sebentar… kata CS nya tidak boleh menitip barang di front desk, padahal gampangnya tinggal masukin lagi aja itu minuman ke kulkas, tulis di secarik kertas bahwa saya sudah bayar 2 minuman ringan, semudah itu tapi ya karena manajemennya sudah seperti itu.. tetap tidak boleh.  Atau tinggal secara sopan saja minta saya untuk belinya nanti saja setelah ganti baju, gampang saja sih :) kemudian beberapa hal lain yang harus diperhatikan adalah;  bahwa Celebrity Fitnes memberlakukan pembayaran bulanan, tapi di setting dengan kontrak “mati” selama 1 (satu) tahun, jadi kalau menjadi member CelFit, meskipun “bahasanya” iuran bulanan tetapi kita tandatangan kontrak yang bunyi intinya adalah bahwa kita setuju menjadi member selama 1 tahun, dan bila putus di tengah jalan maka kita harus bayar denda Rp. 500.000,-  (syarat dan ketentuan berlaku hehehe).

Tapi menurut saya pribadi sih sebenarnya fine-fine saja dengan hal tersebut, karena memang yang namanya Celebrity Fitness ini adalah produk dari negara Amerika dengan standar Holywood dan Baverly Hills, hal ini bisa dilihat di homepagenya di: Celerity Fitness, so hal ini pastinya berbeda dengan budaya di negara kita ini.

So sebenarnya fine-fine saja sih Celebrity Fitness  mempunyai manajemen seperti itu, tempatnya enak kok, fasilitasnya sangat lengkap dan oke punya, yah tinggal dilihat saja bagaimana perkembangannya dari sejak ekspansinya ke Indonesia di tahun 2004 sampai sekarang, kemudian bagaimana prospek selanjutnya, tentu manajemen Celebrity Fitness sudah sangat memperhitungkan hal tersebut. Dan sudah dua bulanan atihan di Celebrity Fitness , lumayan juga badan sudah mualai kurus lagi nih… :) sangat puas lah dengan fasilitas yang ada.  Kita jalani aja deh program latihannya yah… kita tunggu laporan pandangan mata selanjutnya dari Celebrity Fitness.

Bagi yang mau daftar silahkan berkunjung ke:

Botani Square
1st, 2nd & 3rd Floor,
Jl. Raya Pajajaran,
Bogor, Indonesia
Phone: 0251-8400 663
Fax: 0251-8400 883

Oh iyah btw, beberapa masukan untuk pihak celfit nih:

1. Tas hadiahnya ituloh… jelek amat sih, warna orange, juga gantungan kuncinya… waduh kualitasnya tidak sebanding amat dengan image dari celfit :)

2. di kelas rpm sudah ada beberapa sepeda yang mulai kurang enak dipakai, mulai dari stang yang “oglek”, putaran resistance yang “aneh” (baru sedikit diputar langsung berat sekali), AC yang terlalu kencang pada beberapa posisi sepeda, dan kayuhan yang bersuara.

That’s all, mau punya badan seksi… jangan ragu bergabung di sini; Celebrity Fitness Bogor

celebrity_fitness_bogor Celebrity Fitness Bogor

more info about rpm class
================ What is RPM ==============

What is RPM®?

RPM® is group fun, to great music – without the competition. Professional coaching for 45 minutes helps you match terrain with tempo and all the energy of a small rock concert. RPM® is an awesome workout for improving your aerobic capacity and anaerobic strength. The music driven terrain pushes your body to burn calories and tighten your frame. Under guidance of your Instructor and motivation of your team you will experience slow climbs, short sprints and recovery spins that present no barrier to coordination or boredom. Each workout is performed on stationary cycles that enhance the indoor experience. Available with fixed or free wheels, RPM® cycles come with adjustable handle bars, seat and pedals to maximize your comfort.

Who is RPM® aimed at?

RPM® is a cardiovascular training programme that provides fitness enthusiasts with a variety of applications. As an indoor cycling class it attracts different users. For high users of group exercise RPM® is an effective cross training workout. For moderate users it provides a very athletic cardiovascular workout. For non-aerobic users it offers a less intimidating introduction to music driven group exercise. For new users and those with a history of high impact injuries or related conditions the non-weight bearing nature of cycling makes it an appealing choice of exercise.

What options are available for beginners?

New participants to an RPM® class may find the cycling cadence (speed) in seated or standing positions challenging. Your instructor will remind you of the options available for all positions. The standard options include decreasing resistance and/or cadence and remaining in the seated position during standing phases. If you are still not able to maintain competent posture you will be encouraged to stop and recover in the Seated Recovery position. Participants with a limited fitness background or a previous medical condition must seek medical advice.

Share

Jabatan adalah Amanah

December 9, 2010 by  
Filed under its me - Heldi

jabatan Jabatan adalah AmanahDari Ma’qal bin Yasar ia berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda,’Tidak ada dari seorang hamba yang ALLAH SWT memintanya memimpin sekelompok orang lalu meninggal dalam keadaan berbuat curang kepada mereka, kecuali ALLAH SWT akan mengharamkan baginya surga.”(Riwayat Bukhori dan Muslim)
Akhir-akhir ini jabatan dan kepemimpinan menjadi bahan rebutan. Padahal menjadi pejabat atau pemimpin bukanlah perkara yang mudah. Tanggung jawab yang harus dipikul sangatlah berat. Jika lalai dalam melajankan tugas ancamannya tidaklah ringan.
Hal inilah yang membuat para sahabat selalu berusaha menghindar dari jabatan. Begitu pula dengan para tabiin mereka sangat menjaga jarak dengan kekuasaan. Bukan karena tidak kapabel, tapi lebih disebabkan oleh rasa wara’ dan takut terhadap gemerlap kekuasaan yang kerap melenakan seseorang. Tapi anehnya kita yang hidup di zaman sekarang, dengan tingkat keshalehan yang pas-pasan, sangat bernafsu menjadi pejabat atau penguasa.

Tak ada pemimpin yang ingin celaka. Untuk menghindari hal itu, seorang pemimpin harus selalu belajar pada sejarah pendahulunya yang menuai sukses dalam memimpin. Umar bin khaththab RA salah satu di antaranya. Sejarah kepemimpinan yang kedua ini sangat penting untuk dirujuk.

Salah satu sikap yang paling menonjol dari Umar RA rasa takutnya kepada Allah SWT dalam menjalankan tugas. Ia takut gagal di mata Allah SWT sehingga dicampakkan kelak di dalam neraka. Rasa takut itulah yang membuatnya sangat hati-hati dan sungguh-sungguh dalam memimpin. Ia memimpin nyaris tanpa jam kerja. Pagi siang malam siap melayani rakyatnya. Pada malam hari, Ia kerap berpatroli sekedar untuk memastikan apakah rakyatnya aman dan nyaman. Jika Ia menjumpai orang yang kelaparan, ia akan segera ke baitul mal untuk mengambil gandum dan memikulnya dengan pundaknya sendiri.

Begitulah seharusnya gaya hidup setiap pemimpin. Seorang pemimpin harus selalu memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Hanya dengan rasa takut seperti itulah, sebuah kesadaran dan rasa tanggung jawab akan tumbuh. Kesadaran yang akan selalu membuat seseorang senantiasa berhati-hati dan bersungguh-sungguh dalam melajankan tugas. Ia tau dan sadar, kalau amanah yang sedang diembannya merupakan amanah dari Allah SWT. Jika ia lalai, maka Allahlah yang akan menghukumnya. Dan hukuman Allah SWT di akhirat cuma satu, yaitu neraka.

Dengan kesadaran seperti itu, gaya hidup seorang pemimpin akan lebih zuhud. Jabatan tidak lagi akan dijadikannya sebagai sarana untuk memperkaya diri atau mengumpulkan pundi-pundi harta. Jabatan akan dijadikannya sebagai sarana untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Tak heran jika kehidupan para pejabat pada zaman khulafa’arrasyidin sangatlah bersahaja. Ketika Abu Bakar jadi khalifah, ia tetap berdagang di pasar. Umar pun demikian. Rumahnya tetap sederhana dan tanpa pengawalan. Di beberapa daerah, ada yang gubernurnya masuk dalam daftar fakir miskin yang berhak mendapatkan bantuan. Seperti yang pernah dialami oleh Sa’ad bin Amir, gubernur Himsha di era pemerintahan Umar bin Khaththab. Adakah pemimpin seperti itu sekarang….?

*Ahmad Rifa’i/Suara Hidayatullah.

Sumber: http://www.abuinayat.com/2009/05/jabatan-itu-amanah-bukan-fasilitas.html

Share

Next Page »

Topsites @CianjurCyberCityMy Topsites List Mortgage