Memimpin dengan Kesederhanaan

December 12, 2010 by  

Artikel ini ada pada kategori Pengadaan - Curhat PNS online

Memimpin dengan Kesederhanaan

Sumber: http://politik.kompasiana.com

http://politik.kompasiana.com/2010/12/11/memimpin-dengan-kesederhanaan/

Syahdan, pada pertengahan abad ke 7, di Jazirah Arab seorang pemimpin dihadapkan pada sebuah forum terhormat. Forum tersebut meminta sang pemimpin untuk memenuhi permintaan mereka. Bukan sebuah permintaan yang sulit. Dalam kacamata sekarang, permintaan itu sungguh menyenangkan bagi pemimpin manapun yang menerima tuntutan seperti itu.

Karena forum itu meminta dan bahkan mendesak sang pemimpin untuk mengambil gaji yang sesuai dengan perbendaharaan masyarakat yang entitasnya tengah berkembang luar biasa di bawah kepemimpinannya. Selama ini, sang pemimpin ternyata tidak pernah mengambil gaji yang sesuai. Ia bahkan masih sering melakukan kerja paruh-waktu dengan memerah susu sapi untuk mendapat tambahan uang tunai.

Desakan forum terhormat akhirnya meluluhkan hatinya. Tetapi, sang pemimpin mengajukan satu syarat terhadap forum. Dengan penuh ketegasan dan tak terdengar sedikit pun keraguan, ia meminta ditunjuk sebuah komisi untuk menghitung berapa banyak yang dia butuhkan untuk hidup seperti orang-orang Arab rata-rata, tidak lebih dan tidak kurang, dan kemudian menetapkan jumlah tersebut sebagai gaji. Pemimpin ini adalah khalifah ke dua ummat Islam, Ummar bin Khatab (diramu dan disadur secara bebas dari buku ‘Dari Puncak Baghdad’ karya Tamim Ansary).

Beberapa ratus tahun kemudian, memasuki pertengahan abad ke-9, di Kota Baghdad yang tengah tumbuh menjadi kota terbesar di dunia, seorang pemimpin tampak hilir mudik di tengah lorong-lorong kota yang gelap gulita. Rutinitas yang hampir selalu dilakukannya setiap malam. Ia hanya ingin memastikan kemegahan yang dicapai pemerintahannya dirasakan setiap warga kota itu.

Ia menyamar sebagai rakyat jelata untuk mendengar secara langsung masalah mereka dan mengambil langkah-langkah untuk membantu mereka. Sang pemimin adalah Harun Al-Rasyid, khalifah Abbasiyah ke empat yang berhasil membawa entitas Islam sebagai puncak kemegahan dan keadilan (diramu dan disadur secara bebas dari buku ‘Dari Puncak Baghdad’ karya Tamim Ansary).

Dalam konteks dunia modern sekarang, warga Kota Taheran sering dibuat kaget dan kagum dengan kelakukan pemimpin mereka. Ketika sang pemimpin meminta rumah dinas yang akan ditempatinya sebagai walikota untuk dijadikan museum, warga dibuat kaget. Karena rumah dinas itu memang selalu digunakan walikota-walikota sebelumnya. Mungkin banyak yang berpikiran pemimpin baru ini ‘keblinger’ karena menolak fasilitas super mewah itu.

Kekagetan warga bertambah ketika sang pemimpin lebih suka menggunakan mobil lamanya dibandingkan mobil dinasnya sebagai walikota. Padahal perbandingan mobil lamanya dengan mobil dinas itu ibarat komputer pentium satu dengan komputer pentium empat. Tak lama, warga kian heran dan pada akhirnya harus mengakui bahwa mereka begitu kagum kepada sang pemimpin.

Karena seringnya sang pemimpin terjun langsung di tengah masyarakat, termasuk ketika harus membersihkan saluran air yang mampet. Soal selera berpakaian, sang pemimpin sungguh bersahaja. Di tengah dunia yang menjunjung nilai materi, ia masih sering menjahit sendiri pakaiannya. Dialah potret Walikota Taheran, yang sekarang telah terpilih selama dua periode sebagai Presiden Iran, Ahmaddinejad (disadur secara bebas dari buku ‘Ahmadinejad, David Di Tengah Angkara Goliath Dunia’).

Baik Ummar, Harun, sampai Ahmaddinejad, adalah potret kepemimpinan yang indah. Kepemimpinan dengan hati. Ketika kepemimpinan menemukan fitrah sejatinya. Bahwa pemimpin lahir untuk melayani, bukan dilayani. Bahwa pemimpin seharusnya mampu mencerminkan kesederhanaan ketika sebagian besar rakyatnya masih terbelit kemiskinan. Bukan sebaliknya sibuk merasakan aneka fasilitas dan lebih sering menuntut berbagai tambahan fasilitas.

Namun, itulah yang kita alami sekarang di negeri kita tercinta ini. Anomali dari kepemimpinan Ummar, Harun, atau Ahmadinejad; hadir di berbagai wilayah pesolok Indonesia. Kepemimpinan lebih sering bertutur cerita memilukan tentang apa yang seharusnya terjadi dari sebuah kepemimpinan. Lupakan pencerahan yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin. Lupakan energi perubahan yang seharusnya ditebar seorang pemimpin. Lupakan pula, energi hebat yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin untuk mengangkat lebih banyak orang miskin ke tangga-tangga kemajuan. Karena, semuanya memang masih hadir berkebalikan.

Jadilah, di negeri ini lebih banyak cerita tentang para pemimpin yang sibuk meminta kenaikan gaji, sibuk dengan lawatan luar negerinya, sibuk menuntut aneka fasilitas, sibuk memanjakan diri dengan hobi-hobi mereka, dan sibuk memperkaya diri mereka sendiri. Satu hal yang mungkin tidak membuat mereka sibuk adalah memikirkan keprihatinan warganya. Dan kita harus meratap karenanya. ARW

==================================================================================
Memerlukan Narasumber/Instruktur Training (Bimbingan Teknis) atau Konsultasi Pengadaan Barang/Jasa untuk Pemerintah berdasarkan Perpres 54 tahun 2010 atau Swasta berbasis Supply Chain Management & Essential Procurement, Silahkan hubungi wwww.heldi.net via HP. 081111-64-600- email: heldi_y@yahoo.com
Bagi para Supplier Barang/Jasa, Penyedia product yang ingin mempromosikan produk atau barang/jasa nya di Pojok Penyedia/Supplier, silahkan kirimkan email mengenai produk barang/jasa nya. ==================================================================================
Share
Punya cerita tentang kota Bogor dan sekitarnya, atau mau promosi usaha anda di kota Bogor, silahkan kontennya ke: heldi_y@yahoo.com , jangan ragu segera dikirm content-nya, ditunggu ya postingannya segera...

Comments

One Response to “Memimpin dengan Kesederhanaan”
  1. muhamad imron says:

    luar biasa…. i like it… insyallah pada saatnya nanti akan datang pemimpin yang demikinan.

Komentar Anda... Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!