Dokterku sayang… (sayang mahal dan tidak memuaskan)

May 14, 2011 by  

Artikel ini ada pada kategori Pengadaan - Curhat PNS online

Baru pulang periksa kandungan istri dari sebuah rumah sakit besar ~ tidak usahlah disebut namanya dan lokasinya, nanti jadi korban seperti prita lagi deh~ Pulang dari sana langsung tergerak dan gatal jari ini untuk menuliskan postingan ini, karena bukannya ada solusi, tetapi malah jadi bingung pulang dari dokter yang praktek di rumah sakit tersebut.

Kandungan istri saya hari ini menurut hitung-hitungan dokter sudah harus melahirkan, karena menurut beliau akan lahiran berada pada kisaran waktu 5 mei sd 14 Mei, namun dari konsultasi terakhir ada beberapa kejanggalan sbb:

1. Baru saja duduk dan melihat-lihat sebentar, belum di usg belum diperiksa apa-apa kok langsung ada statement… “ini harus di induksi”… loh..loh..loh.. periksa dulu atuh dok… kok langsung kesimpulan/statement…

2. Istri saya sebenarnya sudah beberapa kali periksa dgn dokter tsb di tempat prkateknya yang lain, namun pada hari ini saya dan istri periksa di rumah sakit tersebut mengingat kandungan sudah tua dan kemarin sudah seminggu lebih tidak cek dokter. Nah meskipun sudah beberapa kali ke dokter tsb, tapi ketika periksa di rumah sakit (bukan di tempat prakteknya) kok seperti ada yang berbeda, dokter tsb seperti tidak mengenal dan tidak hapal data dari istri saya, masih ada pertanyaan-pertanyaan mendasar yang ditanyakan, seperti istri saya ini baru pertama kali periksa dengan beliau… masih menanyakan ini anak ke berapa? kapan menstruasi terakhir, dan beberapa pertanyaan yang saya lupa, yang intinya membuat saya menaikan alis… kok nanya lagi pertanyaan seperti ini? Seharusnya seorang dokter yang baik, tahu donk setiap pasien-pasiennya… okelah kalau pasiennya banyak.. tapikan… dengan bayaran anda yang mahal tidak seharusnya lah seperti itu 🙂

3. Dokter tersebut “keukeuh” bahwa malam ini juga harus masuk dirawat dan di induksi, karena hitung-hitungannya kandungan istri saya sudah melebihi waktunya. Hanya saja ada ketidakyakinan dari saya dari data yang diberikan istri saya tentang menstruasi terakhir, saya yakin istri saya” tidak yakin” dengan data kapan mendapat mens terakhir sehingga perhitungan dokter bisa saja salah, karena berdasarkan dari informasi yang tidak meyakinkan dari istri saya. Kemudian dari data usg pun mengatakan bahwa masih ada beberapa hari lagi untuk lahiran, USG terakhir mencatat diperkirakan lahir tanggal 27 Mei, namun katanya karena ada perbedaan antara data hasil beberapa usg (beberapa usg sebelumnya mencatat tanggal 10, kemudian tanggal 14, dan diantaranya) maka berdasarkan kesepakatan medis antar para ahli kandungan makan yang harus dipakai adalah data usg paling awal, yaitu tanggal 5 mei, sehingga ini sudah terlambat 9 hari so harus segera diinduksi.

Yang manjadi kejanggalan adalah kok bisa memastikan dari data yang belum pasti (tanggal mens terakhir istri sy yang tidak meyakinkan) dan ketika ditanya apakah ada metoda lain untuk memastikannya, apakah dari visual atau fisik hasil usg, atau apalah yang tentu dokter ahli kandungan lebih ahli donk daripada saya yang ahli ngukur tanah… ternyata dokter tetap berkesimpulan dari hasil usg tadi, bahwa kalau perhitungan usg berbeda-beda maka yang dipakai adalah data usg yang pertama yaitu tanggal 5 mei yang nota bene data inputnya meragukan (tanggal mens istri tadi), padahal kondis bayi dan kondisi ketuban masih baik-baik saja. Bukannya tindakan itu apabila ada masalah saja? bukannya melahirkan itu “proses yang alami”, ditunjang dengan sejarah kelahiran dua anak saya juga yang alhamdullillah semuanya lahir normal (hanya di vakum eksternal saja), kok ini tidak ada masalah harus langsung diinduksi?

Intinya kok bisa yakin dari kalkulasi mesin USG dari inputan data mens terakhir yang meragukan, dan ternyata tidak ada metoda lain untuk meyakinkan saya bahwa memang harus masuk dirawat malam itu juga dan harus diinduksi? secara logika saja tidak masuk itu… meskipun saya bukan dokter tapi harusnya seorang dokter yang ahli bisa donk memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya…

4. Kemudian setelah selesai dan keluar dari ruang praktek, selanjutnya di luar ada seorang bidan apa yah namanya tadi… POG, POD atau apa lupa lagi, yang intinya menjelaskan tentang fasilitas-fasilitas dan prosedur yang ada di rumah sakit tersebut… namun satu hala saja komentar saya… bidan tersebut tidak berbicara dengan hati… dia berbicara dengan bahasa marketing… Kalau bicara dengan bahasa hati pasti langsung masuk ke hati… tapi kalau bahasa marketing… ya masuknya ke dompet donk mba…

5. Satu hal agak mengagetkan juga adalah ketika keluar dari ruang periksa, saya disodori satu surat pernyataan bahwa saya tidak akan menuntut siapapun dan menjadi tanggungjawab sendiri apabila ada masalah, hal ini dikarenakan saya menolak untuk melakukan tindakan medis indusi tadi)… loh kok sampai sebegitu ketakutannya… takut seperti rumah sakit omni.. padahal tidak ada pemikiran sedikitpun dari saya untuk menuntut… toh istri saya tidak atau belum dirawat di rumah sakit tsb (dalam formulir ada isian ruang dan kamarnya) berarti seharusnya formulir tsb ditujukan untuk yang dirawat di rs tsb. Sebegitu takutnya kah rumah sakit tersebut? Kalau anda benar… kenapa harus takut? kalau bahasa PNS nya.. kalau tidak korupsi… kalau anda benar… kenapa harus takut diperiksa… kenapa harus takut berhadapan dengan wartawan? kenapa harus takut dengan LSM?

Ya kalau saya menolak pastinya tanggungjawab saya donk… Cuman harus pakai surat pernyataan segala, padahal… ya sudah lah… Sebegitu takutnya… harus dengan surat pernyataan bahwa saya menolak istri saya untuk diinduksi… so kalau ada tindakanpun harus melalui persetujuan dan kalau ada apa-apa adalah tanggungjawab sendiri? so dimana tanggung jawab profesinya, sudah mah bayar mahal, satu kali periksa cuman beberapa menit harus bayar 100rb lebih untuk dokternya belum untuk administrasinya, belum sudah periksa beberapa kali tuh… wah sudah keterlaluan ini… dari sini semakin mayakinkan saya untuk tidak melahirkan di rumah sakit yang mentereng ini. Kalau istri saya melahirkan atau jadi pasien disini… nga bakalan ada tanggung jawabnya ini, semua resiko tanggung sendiri, bayar sendiri, bayar mahal, resiko tanggung sendiri… enak benar jadi dokter… emang enak ya dok… kerja bentar… dibayar mahal.. kan sekolahnya mahal… halah wateperlah…

oh iya… padaha saya mengatakan ke dokter bahwa saya akan berpikir dulu, kalaupun harus masuk, istri saya akan masuk rumah sakit besok, kan harus ambil baju dan persiapan lainnya, toh kondisi kandungan dan bayi aman2 saja… harus malam ini juga??? kenapa dok?? apa karena pasiennya malam atau hari ini hanya istri saya saja (terlihat memang pasien beliau hanya istri saya… kelihatanya,,, sih tapi bisa saja saya salah…), harus malam ini juga masuk… dan karena tidak masuk malam ini saya harus ttd surat pernyataan… aneh sekali… ngejar setoran apa ya dok? sebegitu parahnya kah? apa tidak cukup tuh sebulan ber hari2 praktek dengan tarif 100 rb (minimal 130rb-an) lebih per pasien, dikalikan dengan 10 lebih pasien per hari, dikalikan 20 harian lbh per bulan???

6. Hitung-hitungan dari ibu bidan yang cukup punya nama di kota ini adalah kandungan istri saya masih 39 minggu, berbeda satu minggu dengan hitung-hitungan dokter, kemudian kalau bayi dalam kandungan kondisinya sehat, kondisi rahin bagus, kondisi ketuban juga oke, apakah tidak bisa menunggu barang seminggu lagi, atau hanya sehari saja… (kalau tidak ada formulir isian tadi istri saya mungkin akan masuk besok) karena bisa saja hitung-hitungan dari istri saya yang tidak yakin akan tanggal mens terakhirnya salah, dan dalam formulir kontrol gerakan bayi yang diberikan dari RS tersebut pun itu tabelnya diberikan sampai 42 minggu, jadi okelah kalau menurut hitung2an dokter ini sudah 40 minggu so masih ada dua minggu kan? meskipun normalnya 40 minggu? kan bayi dan rahim kondisinya baik, kenapa harus malam ini diinduksi?apakah sebegitu parah kondisi kandungan istri saya, kan hasil usg dan pemeriksanaan katanya baik-baik saja… belum ada gejala-gejala kontraksi atau apapun kok harus dipaksa-paksa dengan induksi… atau karena ingin menarik agar istri saya melahirkan di RS tersebut, saya curiga hal ini adalah karena sewaktu cek terakhir di tempat prakteknya (bukan di rumah sakit), dokter bertanya dimana akan melahirkan dan istri saya menjawab bahwa akan melahirkan di bidan (bukannya tidak cocok dengan dokter ini, cuman ya lebih enaklah kalah melahirkan itu dengan bidan perempuan dan menurut istri saya bidan ini sudah cock dan enak dihati), nah terlihat muka dokter dan sikapnya langsung berubah, ya tapi ini tidak bisa dijadikan fakta, inimah hanya bahasa hati saja….

Tentunya bukannya saya menyimpulkan semua dokter seperti ini, atau dokter kandungan istri saya yg sekarang ini kurang bagus, mungkin saja ada miskomunikasi atau dan lain sebagainya, saya yakin dengan sekolah yang cukup berat dan lama tentunya kemampuan seorang dokter harusnya mumpuni… ya inimah curhat saja… bisa saja salahkan yah…

Ya sudah sekian saja curhatnya, meskipun sudah ikut workshop jurnalistik di radar bogor, kalau sudah berbakat gaya tulisan curhat ya mau dibagaimanakan lagi deh…  mohon doanya saja agar kelahiran anak ketiga saya bisa lancar dan sehat… amien….

=======

catatan tambahan:

hari sabtu, tanggal 21 Mei 2011, Alhamdullillah anak ketiga saya lahir dengan selamat dan dengan cara  “normal” di tempat praktek bidan… lahir setelah seminggu dari kunjungan terakhir ke dokter yang “memaksa” untuk melakukan tindakan induksi… kebayang kalau saya menuruti keinginan dokter tsb… wallohualam…

==================================================================================
Memerlukan Narasumber/Instruktur Training (Bimbingan Teknis) atau Konsultasi Pengadaan Barang/Jasa untuk Pemerintah berdasarkan Perpres 54 tahun 2010 atau Swasta berbasis Supply Chain Management & Essential Procurement, Silahkan hubungi wwww.heldi.net via HP. 081111-64-600- email: heldi_y@yahoo.com
Bagi para Supplier Barang/Jasa, Penyedia product yang ingin mempromosikan produk atau barang/jasa nya di Pojok Penyedia/Supplier, silahkan kirimkan email mengenai produk barang/jasa nya. ==================================================================================
Share
Punya cerita tentang kota Bogor dan sekitarnya, atau mau promosi usaha anda di kota Bogor, silahkan kontennya ke: heldi_y@yahoo.com , jangan ragu segera dikirm content-nya, ditunggu ya postingannya segera...

Comments

5 Responses to “Dokterku sayang… (sayang mahal dan tidak memuaskan)”
  1. Muhasabah says:

    terharu membacanya… tp buat pengalaman tak selamanya dokter itu spt malaikat,n gak selamanya dokter itu membantu… maaf skr dokter sudah beralih ke profesi jarang sekali ada pengabdian untuk kemanusiaan..hehehe…

  2. heldi says:

    @Thomas

    Hatur nuhun om atas komentarnya…
    Mohon doanya saja mudah2an lahirannya lancar… amiiinn…

  3. Thomas says:

    Sedih ya Pak bacanya, kapan dokter2 di negeri kita mau belajar lagi mengejar ketinggalan dengan dokter di negara lain.
    Benahi dulu mulai dengan cara paling sederhana, baca lagi SOP – SOP di diktat kuliah. Buat database pasien secara sederhana di komputer, bisa pakai access atau excel, mana yang familiar.
    Diskusi dengan pasien, sampaikan opsi2 dan resikonya.
    Kalo saya sebagai konsultan, kita itu dibayar kalo bisa menyampaikan opsi2 terbaik dan rekomendasi terbaik.
    Hak pasien untuk menolak rekomendasi meski yang terbaik, namun saya kira kalo rekomendasi terbaik diberikan saya kira jarang pasien yang menolaknya. Integritas dan kejujuran sangat berperan. Apapun yang kita rekomendasikan, selama rekomendasi itu pesanan dan bukan yang terbaik sesuai bidang ilmu kita, biasanya juga jadi aneh di logika. Dokter mungkin lebih paham medis dibanding pasien, namun pasien kan bukan orang bodoh yang ngga punya logika. Ada google, ada riwayat pemeriksaan. Kan bisa dikira2 langkah yang harus diambil apa.

    • pnsdiknas says:

      “Thomas says:
      May 16, 2011 at 3:22 pm

      Sedih ya Pak bacanya, kapan dokter2 di negeri kita mau belajar lagi mengejar ketinggalan dengan dokter di negara lain.”

      coba mas jangan dipukul rata bahwa semua dokter di indonesia begit,banyak dokter2 di indonesia yg kemampuaany malah diakui oleh dunia internasional,benar ada dokter yg “nakal” tapi banyak juga bidan yang malah jauh lebih “nakal” ini terjadi pada sepupu saya sendiri di palembang. nyawany + bayiny hampir tidak tertolong karena si bidan tetap “memaksa” agar spupu saya tersebut tetap melahirkannya denganny padahal sdh terjadi pendarahan dan sibayi lehernya sempat terjepit tidak bisa keluar dengan satu tangan masih berada didalam rahim.untung suaminy memaksa si bidan u membanya ke rumah sakit klo tidk mungkn keduanya sdh meninggal

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. Bidan Bogor says:

    […] kontrol di praktek dokter yang pada akhirnya kurang meyakinkan (baca: dokterku sayang… (sayang mahal dan tidak memuaskan), yang menurut dokter ahli kandungan pada tanggal 14 Mei harus masuk rumah sakit bersalin terkenal […]



Komentar Anda... Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!