Asmat – wow ipits
November 29, 2011 by heldi
Filed under Pengadaan Barang Jasa
Journey to Asmat – Kota di atas Rawa
ASMAT – Dengan luas wilayah 119.749 km persegi, berpenduduk sekitar 100ribu jiwa, terletak di ujung Timur dari Pantai Selatan Papua, dibatasi oleh laut Arafura dan kabupaten Mapi di Selatan, Jayawijaya dan Yohokimo di Utara, Tolikara dan Boven Digoel di Timur, wilayah Kabupaten Asmat yang merupakan pemekaran dari kabupaten Merauke (tahun 2002) hanya dapat dijangkau dengan sarana transportasi Udara dan Air (Laut/Sungai). Namun karena sedang terjadi krisis avtur (mungkin akibat sesuatu hal di freeport) maka kali ini perjalanan pun hanya dapat dilakukan dengan jalur sungai dan laut. Setelah perjalanan dari Jakarta ke Timika selama hampir 7 jam, kemudian menginap sehari di Hotel Tembaga Timika, selanjutnya keesokan harinya perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan speedboat milik dinas perikanan asmat (kapal baru kayanya karena ada tulisan DAK 2011). Speedboat dari Asmat menjemput dari Pelabuhan Sungai Poumako di Timika, kemudian menyusuri sungai ke arah muara dan keluar di Laut Arafura, menyusuri pantai laut arafura, namun karena pantainya landai, maka tetap saja speedboat agak ke tengah agar kapal tidak kandas di pasir pantai dan menghidari reef yang katanya terdapat di beberapa pesisir.
Perjalanan normal biasanya hanya sekirar 3-4 jam, namun mungkin karena kendala cuaca yang saat itu yang mana laut (pantai) kelihatannnya surut membuat beberapa kali speedboat mengalami kandas (padahal di kapal ada fishfinder/echosounder tp rusak kali… gps garmin juga ada, tapi sinyalnya tidak ada, owh sambungan antena luarnya mungkin) , plus ditambah dengan kendala bbm yang nampaknya kotor dan agak tercampur dengan air membuat perjalanan terhenti beberapa kali (jackpot deh teman kita dari badiklat kemendagri hehe…). Akibat hal tersebut perjalanan akhirnya molor, berangkat jam 2 siang ternyata sampai matahari tenggelam kita masih berada di pinggiran laut arafura. Walah sudah mulai pada tegang, akhirnya thanks to bb pearl dan aplikasi gpsnya (ternyata BB tidak hanya berguna untuk update milis biar tidak telat absensi hehe), meskipun tidak ada sinyal 3G, edge atau gsm, ternyata gps di BB tetap dapat berfungsi dengan baik, coba di cek lokasi kapal dimana, kemana haluannya, ternyata arahnya terlalu mengarah ke tengah laut bukan ke arah pantai/muara sungai Asmat, walah bahaya ini… mungkin karena nahkodanya kelelahan bolak balik mengurusi selang bahan bakar dan beberapa kali kandas juga, plus cuaca mulai gelap tidak ada orientasi daratan (orientasi mercu atau lampu tidak terlihat). Akhirnya saya bantu driver speedboat mengarahkan bearing kapal mengarah ke Muara Sungai Asmat, so Alhamdullilah ya Alllah selamat juga tiba di Muara dan akhirnya kehabisan BBM, kebayang kalau terus jalan dengan bearing awal… bisa-bisa kehabisan bensin di Laut dan kebawa arus ke Australia kayanya… so Alhamdullillah ya Allah, dan thanks to Blackberry Pearl, RIM, 4 satelit GPS Amerika yang masih terbaca sehingga tidak bernasib sama dengan beberapa teman tamu yang akan ke asmat… yang pernah terdampar… Akhirnya dari muara dikirim subsidi BBM 60 liter sampailah kami di Kabupaten Asmat… Mantap!!! What and exiting jouney…
Ternyata benar… Asmat adalah kota di atas rawa, semuanya ada di atas rawa, jalan, rumah, kantor, semuanya. Tidak ada mobil, transport menggunakan sepeda dan motor listrik, motor listrik nyris tidak ada bunyinya (seperti mobil-mobilan buat dinaikin anak di mall), yang bunyi adalah jalannya, yang terbuat dari kayu… prak…prak..prak…
To be continued… (sinyal lemah… batterai HP dan BB drop… listrik belum nyala… mantap!!!)
Kopi Khas Bogor – Kopi Liong
November 24, 2011 by heldi
Filed under Kota Bogor
Kopi adalah salah satu minuman paling di gemari di seluruh dunia. Sejak penemuannya pada abad ke 9 di Ethiopia, kopi terus berkembang hingga saat ini. Penanaman dan perdagangan kopi sendiri di mulai pada abad ke 15 dan 16 di jazirah arab. Pada perkembangannya kemudian kopi akhirnya berkembang ke seluruh dunia. Zat Kafein yang terdapat dalam kopi dipercaya mempunyai khasiat untuk memberi efek menyegarkan bagi tubuh. Kedai-kedai kopi terus tumbuh dari zaman ke zaman. Saat ini kopi bukan lagi sekedar sebuah minuman yang menyegarkan. Budaya menyeruput kopi di kafe-kafe sudah menjadi gaya hidup. Tak heran harga yang di tawarkan di kedai-kedai kopi modern bagaikan bumi dan langit dengan harga kopi di warung-warung kopi pinggir jalan. Beragam cara penyajian kopi juga di tawarkan di kafe-kafe ini. Dari mulai kopi bercampur coklat, susu, sampai alkohol. Industri pengolahan kopi pun bermunculan di seluruh dunia. Kemudian bermunculan kopi-kopi instan dalam bungkus-sachet sachet yang dianggap lebih efisien dalam penyajian nya.
Kopi Di Indonesia
Belanda adalah Negara yang pertama membawa kopi ke tanah air. Tanah jajahan nya ini di jadikan sebagai produsen kopi untuk melayani kebutuhan kopi di Eropa. Kopi ditanam didaerah Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Saat itu kopi merupakan komoditi yang sangat menguntungkan buat Belanda. Tak heran bila kemudian Belanda berusaha memperluas penanaman kopi di seluruh nusantara. Sisa-sisa perkebunan kopi dari Belanda inilah yang kemudian berkembang menjadi perkebunan-perkebunna kopi milik rakyat di beberapa daerah Di Indonesia. Kopi-kopi dengan citarasa yang beragam akhirnya muncul di tiap-tiap daerah. Kopi Gayo, Kopi Toraja,Kopi Lampung sampai dengan kopi Luwak yang sangat fenomenal. Kekhasan tiap-tiap daerah dalam mengolah kopi membuat beragamnya rasa kopi yang ada ditanah air.
Produsen kopi di tanah air pun mulai mengembangkan usaha kopi Instan berskala nasional. Kopi dengan embel-embel 3 in 1 ini menawarkan kepraktisan dalam menikmati kopi. Kehadiran kopi-kopi bermerk dengan ruang lingkup nasional ini sedikit banyak mulai menggerus pangsa pasar kopi-kopi local yang ada di berbagai daerah. Salah satu nya adalah kopi Liong Bulan, asal Bogor.
Kopi Liong Bulan, Kopi Khas Bogor
Mulai diproduksi sejak tahu 1945 hingga kini masih bertahan sebagai kopi favorit di Bogor. Kopi ini pernah sangat Berjaya selama beberapa generasi .Namun sepuluh tahun belakangan, pesona nya mulai agak memudar. Penikmat kopi khususnya generasi yang lebih muda lebih suka kopi-kopi besutan pabrik besar yang menawarkan aneka rasa kopi. Kopi Liong bulan dari dulu hingga sekarang tetap setia dengan kopi hitam nya. Bahkan bungkus plastic baru beberapa tahun belakangan ini di perkenalkan.
Di tengah serbuan kopi nasional, sesungguhnya kopi Liong bulan mempunyai penggemar-penggemar fanatic. Di tengah ketatnya persaingan diantara produsen kopi nasional, seperti kopi ABC, Torabika dan Kapal api, kopi asli Bogor ini masih terus bertahan. Kualitas kopi yang baik dan rasa harum yang sangat menggoda hidung adalah daya tarik dari kopi ini. Ketika bubuk kopi dituangi air mendidih, diamkan selama 3 menit kemudian aduk, segera saja akan tercium aroma kopi yang sangat kuat, menggugah selera,bahkan dari jarak beberapa meter. Untuk para penikmat kopi hitam, inilah salah satu kopi terbaik yang dimiliki negeri ini.
Beberapa tahun lalu aku membawa kopi ini ke tempat kos di Bandung. Sekejap saja kopi ini menjadi favorit teman-teman di tempat kos. Alhasil akupun menjadi supplier kopi Liong Bulan untuk teman-teman di tempat kos. Beberapa teman bahakan membawa pulang kopi ini ke Garut, Sumedang, dan Tasik. Orang-orang tua mereka semua tergila-gila dengan rasa kopi Liong Bulan. . Sayangnya kopi ini hanya beredar di daerah Bogor dan sekitarnya saja. Tak banyak orang di luar Bogor yang tahu keberadaan kopi Liong Bulan.
Sejalan dengan perkembangan kota Bogor, jangan sampai orang hanya mengenal Bogor dari Roti Unyil, Asinan, Pala manis, Talas atau Factory Outlet nya saja. Jauh sebelum itu ada juga Kopi Liong Bulan yang melegenda hingga kini.
Sumber : http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2011/05/11/kopi-liong-bulan-kopi-khas-bogor-yang-menggugah-selera/

