E-procurement adalah keniscayaan

August 8, 2014 by  

Artikel ini ada pada kategori Pengadaan - Pengadaan Barang Jasa

eprocYa saya sangat setuju sekali bahwa “e-procurement” adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari oleh siapapun atau pihak manapun yang berkecimpung dalam dunia pengadaan barang/jasa pemerintah. Hal ini seperti penggunaan teknologi yang merambah dalam segala bidang, penggunaan teknologi informasi, komputer, networking, internet, programming, dan sebagainya yang terkait dengan hal tersebut yang mana dari hari ke hari semakin pesat  perkembangannya baik secara kualitas atau kuantitasnya. Perkembagan teknologi yang semakin pasat membuat segala hal semakin mudah dan cepat dan begitu pula dalam dunia pengadaan barang/jasa, penggunaan teknologi Informasi, teknologi komputer baik software atau hardware akan membuat semuanya mencaji lebih mudah dan cepat dengan otomasi dalam proses praktek pengadaan barang/jasa.

E-procurement mengubah pelaksanaan proses pengadaan, terutama proses pemilihan penyedia yang semula dilakukan secara manual (dengan kertas, dengan pertemuan langsung, dengan sentuhan langsung terhadap dokumen, dsb) menjadi suatu proses otomasi yang paperless, bertemu tidak secara langsung/fisik (online), pembukaan dokumen dengan files, dsb. Hal ini menyebabkan cara cara manual yang diatur secara rinci dalam aturan pengadaan barang/jasa pemerintah dalam perpres 54 tahun 2010 dan perubahannya yaitu perpres 70 tahun 2012 serta rincian pelaksanaannya dalam lampiran atau perka lkpp, menjadi semakin kecil peluangnya untuk masih dilakukan, pelaksanaan pemilihan penyedia dengan manual sesuai petunjuk rinci dalam aturan pengadaan paling masih dilakukan untuk satker atau ULP yang belum ada akses internet atau yang belum mengaplikasikan e-procurement. Hal ini sama seperti dalam bidang lainnya; contohnya dalam dunia survey pemetaan; penggunaan teknologi GPS, remote sensing, google earth, aplikasi-aplikasi navigasi dalam smartphone, dan sebagainya,  membuat metode survey dan pemetaan yang “jadul” dengan menggunakan metode metode manual semakin ditinggalkan, kalaupun ada ya tentunya hanya pada pekerjaan-pekerjaan survey kecil saja. Survey Pemetaan sekarang ini lebih banyak menggunakan alat alat yang lebih otomatis dan canggih, seperti untuk memperoleh koordinat lokasi suatu tempat, tinggal beberapa klik pada GPS handheld di mobil anda maka dapat diperoleh berapa koordinat pada titik kita berada, bahkan untuk konversi ke beberapa sistem koordinat lain tinggal klik klik beberapa kali saja maka langsug diperoleh datanya. Begitu pula dengan menggunakan total station maka cukup klik klik saja ketika di lapangan, bawa memory card nya ke basecamp, colok ke laptop download datanya, jalankan aplikasinya maka peta situasi bisa langsung dibuat tanpa banyak berfikir tentang bagaimana atau dengan metode perhitungannya, Belum lagi kalau membahas teknologi software aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG/GIS), sekarang ini SIG/GIS sudah merambah ke GIS on the Web, mapserver dan segala macam teknologinya yang sudah sangat mempermudah para pihak yang berkecimpung dalam dunia survey pemetaan.


Nah selanjutnya pertanyaannya adalah, apakah perkembangan teknologi dalam bidang survey pemetaan tersebut akan menghilangkan keilmuan survey pemetaan (geodesi/geomatika)? Memang benar dan suatu keniscayaan bahwa tata cara survey pemetaan dengan cara manual dengan menggunakan alat alat manual seperti meteran, Theodolite T-0, T-2, Waterpass semakin diinggalkan dan digantikan dengan Total Station, GPS, Laser, Lidar, remote sensing dsb, yang mengikuti perkembangan teknolgi sekarang ini. Kalaupun masih ada yang menggunakan alat alat manual paling untuk pengukuran pengukuran skala kecil (volume atau kualitasnya), atau karena belum mampu beli alat yang lebih canggih, namun kembali pertanyaannya apakah Bahan Ajar/pelajaran tentang keilmuan survey pemetaan harus ditinggalkan?

Jawabannya tentu TIDAK! yang semakin ditinggalkan adalah metode atau cara survey pemetaan dengan menggunakan alat alat dan cara manual, yang digantikan dengan alat dan cara yang mengikuti perkembangan teknologi. Namun pelajaran dasar tentang apa itu sudut jurusan, Poligon, Sistem sistem koordinat, perataan, trasfrmasi, dan sebagainya tetap diperlukan baik nantinya survey pemetaannya dilakukan dengan cara manual atau dengan cara dan alat yag canggih seperti sekarang ini. Misalkan untuk mengolah data SIG/GIS tetap secara mendasar harus tahu apa itu point, node, line,  dan poligon, sistem koordinat dan tentunya diluar ilmu geodesi ada plus ilmu tentang database dan DBMS-nya, dan tentunya aplikasi komputernya. Memakai Total Station pun tetap harus mengerti konsep sudut jurusan, garis kontur, peta situasi, toponimi, dsb… Sehingga yang ditinggalkan adalah cara dan alat manual bukan keilmuan geodesi-nya. Satu lagi tentunya seperti pada sektor lainnya juga semakin canggih semakin berkurang juga tenaga manusia yang mengoperasikannya.

Atau asosiasi sederhana lainnya adalah dalam membuat tulisan/paper/makalah/surat, pertanyaannya adalah; apakah yang ditinggalkan atau mulai tidak dipakai itu menulis paper/makalah dengan kertas dan pulpel/pensil atau ilmu cara menulis paper/makalah yang baik dan benar?

Tentunya dengan perkembangan teknologi komputer sekarang ini, penulisan surat, makalah atau artikel dengan menggunakan secarik kertas dan pensil/pulpen sudah banyak ditinggalkan, ini pun saya menulis postingan ini dengan laptop, bukan dengan pulpen yang ditulis pada kertas, bahkan ada koneksi internet nya plus software wordpress yang mana ketika saya klik “publish” maka tulisan ini langsung bisa terbaca oleh anda yang sedang membaca postingan ini kan? 🙂 coba kalau saya nulis dengan kertas dan pulpen apakah bisa langsung dengan cepat dibaca oleh banyak orang tanpa harus ketemu langsung dengan saya? Tapi tadi ketika meeting ternyata masih juga pulpen dan kertas digunakan ya… meskipun sudah ada tablet atau sabak digital yag dapat menggantikannya juga. Nah kembali ke pertanyaannya: Apakah keilmuan tentang bagaimana cara menulis dengan baik dan benar juga ditinggalkan? Tentu tidak ya? saya menulis ini dari hasil pelatihan dan hasil belajar saya tentang bagaimana cara membuat sebuah tulisan/artikel, mulai dari yang mendasar bahwa setiap paragraf harus di beri jarak, setiap kata harus diberi spasi, singkatan harus dinyatakan terlebih dahulu apa kepanjangannya, setiap kalimat harus ada subyek predikat dan obyeknya, judul harus menarik, gaya tulisan yang berbeda beda, SEO dan sebagainya.

Nah dengan dua asosiasi tadi (asosiasi survey pemetaan dan menulis artikel/surat), dalam hal penggunaan cara pemilihan penyedia (atau pengadaan barang/jasa) dengan e-procurement, e-katalog atau sirup untuk RUP, apakah harus meninggalkan keilmuan tentang pengadaan barang/jasa? tentu tidak ya, yang semakin ditinggalkan adalah cara cara manual dalam proses pengadaan, yang semakin akan digantikan oleh e-procurement, namun keilmuan pengadaan barang/jasa tentang bagaimana cara membuat RUP, identifikasi kebutuhan, survey pasar, penyedia, menyusun Spesifikasi, HPS, metode penyampaian penawaran, cara menilai penyedia (kualifikasi), metode evaluasi yang tepat, jenis kontrak, manajemen kontrak, dsb, itu tetap harus menjadi penguasaan para pihak yang berkecimpung dalam dunia pengadaan barang/jasa. Sehingga dengan metode atau cara apapun proses pengadaan atau pemilihan penyedia itu dilakukan, keilmuan pengadaan barang/jasa harus tetap dimiliki. Jadi intinya nanti kita harus menguasai keilmuan pengadaan/pemilihan penyedia, cara pengadaan dengan cara manual (yang tentunya akan semakin banyak berkurang porsinya) dan cara pelaksanaan pemilihan penyedia /pengadaan dengan e-procurement. Begitu pula dengan operator pengadaan atau pemilihan penyedia yaitu ULP, seperti bidang lainnya semakin canggih teknoligi maka kebutuhan tenaga manusia nya akan semakin berkurang, maka tentunya kebutuhan akan peran ULP semakin lama ke depan akan semakin berkurang.

Seperti di beberapa negara maju, meskipun ini juga hanya katanya saja ya – maklum belum punya passport 🙂 tenaga procurement unit ternyata tidak banyak, semakin sedikit juga. Namun ya tetap orang yang bekerja di procurement/pengadaan adalah orang yang benar benar mengerti tentang procurement/pengadaan, sedangkan cara melakukan pengadaannya ya bisa dengan manual atau bisa dengan elektronik, tergantung dari kebutuhannya, tetapi yang pastinya banyak dengan elektronik ya karena memang hal tersebut adalah suatu keniscayaan mengikuti perkembangan jaman. Nanti juga di ruang meeting hotel tidak akan disediakan pulpen/pensil dan kertas ya kalau data dari hasil survey “cah lontong” menyatakan bahwa sudah banyak peserta yang tidak ikut rapat yang menggunakan ipad atau sabak elektronik(tablet/gadget/samrtphone) lainnya, nah apalagi yang ikut rapat di hotel kan ya… hehehe namanya juga survey cah lontong ILK, menyelesaikan masalah tanpa solusi, atau membuat postingan tanpa harus ke kantor pos (kecuali untuk nyairin google adsense :).

Nah kalau di hotel sudah tidak ada lagi pensil, maka mohon maaf aja ya ke ibu ita (miftah) yang kolektor pensil hotel… tidak ada lagi pensil yang dapat dikoleksi, karena semua sudah digantikan dengan e-pensil 🙂 atau nanti mengkoleksi tablet/ipad aja ya… 🙂

Halah… mohon maaf ya jangan terlalu dianggap serius…. namaya juga blog curhat… intinya terima kasih sudah berkunjung ke blog sederhana ini dan jangan lupa klik iklannya 🙂

Salam Pengadaan dari Hotel Pomelotel sebrang LKPP 🙂

==================================================================================
Memerlukan Narasumber/Instruktur Training (Bimbingan Teknis) atau Konsultasi Pengadaan Barang/Jasa untuk Pemerintah berdasarkan Perpres 54 tahun 2010 atau Swasta berbasis Supply Chain Management & Essential Procurement, Silahkan hubungi wwww.heldi.net via HP. 081111-64-600- email: heldi_y@yahoo.com
Bagi para Supplier Barang/Jasa, Penyedia product yang ingin mempromosikan produk atau barang/jasa nya di Pojok Penyedia/Supplier, silahkan kirimkan email mengenai produk barang/jasa nya. ==================================================================================
Share
Punya cerita tentang kota Bogor dan sekitarnya, atau mau promosi usaha anda di kota Bogor, silahkan kontennya ke: heldi_y@yahoo.com , jangan ragu segera dikirm content-nya, ditunggu ya postingannya segera...

Comments

5 Responses to “E-procurement adalah keniscayaan”
  1. maman says:

    Setuju om… mudah mudahan akses internet di indonesia makin kenceng ya!

  2. Andrew Pelt says:

    terima kasih sudah mau share, , ,

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. […] karena terbiasa melihat dan menggunakan eprocurement versi LKPP, ketika melihat e-procurement yang dikembangkan oleh PTPN (PT Perkebunan Nusantara) terasa agak […]

  2. […] IT Backbound- Arah implementasi Pengadaan barang/jasa akan menggunakan Teknologi Informasi (IT) dan transaksi […]

  3. […] pengadaan atau proses pemilihan penyedia yang dapat dilakukan dengan manual atau melalui elektronik (eprocurement), tetapi yang paling penting itu adalah keilmuan pengadaannya, maka dalam penerapan mindmapping ini […]



Komentar Anda... Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!