Workshop Pengembangan Diri – LKPP

June 12, 2015 by  

Artikel ini ada pada kategori Pengadaan - Pengadaan Barang Jasa

Kamis, 11 Juni 2015 adalah hari terakhir dari pelaksanaan acara Workshop Pengembangan Diri yang diselenggarakan oleh Direktorat Pelatihan Kompetensi LKPP, acara yang sangat super berkesan ini diikuti oleh 44 orang instruktur TOT LKPP dari seluruh Indonesia, yang telah mengirimkan isian assesment nya tepat waktu dan didasarkan pada hasil pengolahan dari konsultan psikolog. Jadi pertama jangan salah sangka juga ya, yang diundang untuk mengikuti acara ini bukan para pengajar yang hebat hebat atau pengajar yang kondang kondang, tetapi para peserta adalah memang para pengajar yang benar benar butuh peningkatan dalam beberapa bagian kompetensinya dan tentunya para pengajar yang “humble”, masih mau mengirimkan formulir tepat sebelum waktu yang disediakan habis yang tentunya akan sangat berat sekali dilakukan mengingat betapa super sibuknya para pegajar untuk keliling Indonesia menyebarkan JP dan Ilmu Pengadaan untuk Bangsa dan Negara ini ya…  🙂

Kedua tentunya pengajar lain yang tidak terundang pada acara ini, bukan berarti tidak boleh ngajar lagi ya, kok bisa sampai berfikir sejauh itu ya? Kalau mau mengajar mah ya silahkan saja ya, apalagi kalau memang passion kita adalah mengajar ya, mau ngajar pengadaan mau ngajar apapun ya silahkan, tidak ada yang bisa melarang kita untuk mengajar di TK, SD atau SMK atau dimanapun dan dengan materi apapun.

Okelah kalau begitu, kita lanjut ceritanya ke acara workshop ini yang memaksa saya harus segera menuliskannya segera, karena 4 hari acara ini memang benar benar membuat saya terkesan dan banyak instropeksi diri dan bernafsu untuk menuliskan postingan di blog, akibat dari materi yang super mantap dari 2 pemateri professional yaitu pa Eko Junor dan pa Lohjinawi Trinadi.
Pa Eko Junor adalah mantan Diplomat Senior, eks Juru Bicara KBRI, Penyiar Radio, Trainer di 20-an lebih stasion radio, dan hampir semua stasiun TV di Indonesia pernah menggunakan jasanya. Beliau adalah ahli Public Speaking dan pastinya di acara ini memberikan materi tentang Public Speaking… Mantap!
Pa Lohjinawi Trinadi adalah ahli psikologi lulusan UI yang sekarang ini berprofesi sebagai konsultan human skills dengan fokus manajemen perilaku. Klien klien yang pernah mengundang pa Jin ini mulai dari Telkomsel, Nokie, siemens, garuda, beragam Bank Nasional, Freeport, Medco, Aneka Tambang, dan sepupu sepupunya lah, intinya triner nasional yang benar benar kahot dan kondang ini ya, beda dengan kita kita kali yee yang cuman sekedar ngaku ngaku kondang aja ya 🙂

Pada hari pertama, Deputi PPSDM pa Agus Prabowo memberikan pencerahan terkait perkembangan pengadaaan barang/jasa di Indonesia, serta memberikan motivasi kepada para narasumber untuk terus berkontribusi di dunia pengadaan barang/jasa pemerintah. Disambung bersama pa Deden (Djamalludin Abubakar) membahas tentang penyamaan persepsi terkati isu isu dalam percaturan dunia pengadaan barang/jasa. Mulai dari e-katalog, e-purchasing dan e-e lainnya, jabatan fungsional, ULP dan isu isu hangat lainnya. Seru lah inti na mah, apalagi dengan gaya khas pa Deputi yang egaliter dan “nyantai saja” tapi tetap berbobot, plus pa Deden dengan pengalaman yang segudang malang melintang di dunia pengadaan… Mantap!

Lanjut hari kedua, tambah seru acaranya, Materi Public Speaking diisi oleh pa Eko Junor yang sungguh mempesona para peserta semua. Saya saja nyaris tidak ada ngantuknya seharian itu (ya ada ngantuk sedikit akibat obat batuk sih, tapi CTM yang memabukan itu nyaris tidak berpengaruh selama mendengar materi dari pa Eko Junar). Pa Eko mengajarkan bagaimana tampil Percaya Diri (PD) ketika berbicara di depan umum, bagaimana mengatasi dan menyembunyikan grogi, karena ternyata menurut beliau semua orang itu pasti ada grogri nya ketika berbicara di depan umum, namun kuncinya adalah bagaimana kita bisa menguasai ilmu untuk menyembunyikan grogi tersebut sehingga tidak terlihat atau terbaca oleh audiensi kita.

Pa Eko Junor menjelaskan bagaimana kita dapat melakukan komunikasi yang efektif ketika berhadapan dengan publik. Bagaimana agar bicara kita jelas, lancar dan sederhana sehingga dapat didengar, dapat diikuti alurnya, dan dapat diingat dengan baik. Bagaimana membuat opening yang relevan bagi audience, pesan yang interesting/attractive, serta closing yang dapat ditindaklanjuti. Bagaimana ekpresi yang berkesan, karena ekspresi menghasilkan kesan, nah Poin pentingnya adalah kita mau membuat kesan yang bagaimana kepada audien? so kita harus bisa mengendalikan ekspressi untuk membuat kesan yang dapat mendukung kegiatan belajar/mengajar kita. Terlihat dari cara mengajar beliau juga bagaimana beliau mengatur dan merencanakan ekspresi untuk membuat kesan yang sangat berkesan di para peserta TOT LKPP ini.

Namun tetap pa Eko Junor mengingatkan bahwa yang beliau sampaikan itu hanya sekedar supplemen saja, karena “Tidak Mungkin ada Public Speaking, tanpa ada “PENGAKUAN KEMAMPUAN“. Jadi intinya ilmu yang diberikan oleh beliau itu hanya untuk mendukung agar performa pengajar lebih menarik, lebih elegan, lebih mantap, tetapi tetap semua hal tersebut hanya sekedar untuk mengemas dari kemampuan kita tentang pengadaan barang/jasa pemerintah. Nah tentunya meskipun demikian tetaplah seorang ahli pengadaan atau pengajar pengadaan walaupun sudah sangat menguasi ilmu pengadaan, apabila tidak dikemas dengan maksimal, maka gejala nya akan banyak yang mengantuk karena materi yang sudah mah padat disampaikan dengan cara yang tidak menarik. peserta tambah pusing karena tidak fokus selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Intinya materi dari pa Eko Junor ini penting karena mengingat modul pelatihan pengadaan barang/jasa (terutama yang dasar) sangat padat sekali dengan waktu yang terbatas sehingga materi dari pa Eko Junor ini sangat diperlukan untuk mendukung agar target pelatihan dapat tercapai.
Jangan sampai sudah mah materinya susah ehhh penyapaia materinya juga tidak menarik dan sangat tidak mendukung untuk dilakukan curah ilmu.
Semua materi yang disampaikan oleh pa EKo Junor ternyata diakhiri dengan kewajiban semua peserta untuk melakukan praktek langsung satu persatu untuk mengaplikasikan teori teori public speaking dan interaction skills. Nah akhirnya tetap saja grogi kan ya? 🙂

Hari ke tiga dan ke empat situasi semakin memanas, semakin seru dan semakin mengganas. Style dari Pa Lohjinawi Trinadi yang akrab di panggil dengan pa atau om Jin ini sungguh sangat menginspirasi para peserta, terutama saya pribadi. Kalau diibaratkan seperti melihat pelawak itu, ibaratnya baru muncul belum berkata atau bertingkah apa apa saja sudah membuat orang tertawa, nah kalau pa Jin ini belum banyak memberikan materi pun sudah banyak memberikan inspirasi dan pencerahan, dari gaya beliau dalam memberikan materinya. Ya karena memang beliau ini memang benar benar seorang pengajar level tertinggi yaitu level spiritual, yang lebih mementingkan kebutuhan peserta, yang benar benar berorientasi kepada peserta dengan segala sumber daya yang beliau siapkan secara professional.

Saya tidak bisa menjelaskan semua materi yang disajikan oleh Pa Jin ini, namun kristalisasi nya adalah kita harus bisa menilai sabagai pengajar itu ada di level mana, apakah level political, intelectual, emotional atau spiritual.
Pengajar Political seperti robot, hanya menjalani tugas sebagai pengajar karena keterpaksaan.
Pengajar level Intelectual lebih rasional dengan menghitung untuk ruginya sebagai pengajar, yang tentunya ini terkait dengan bayarannya selaku pengajar.
Pengajar level Emotional, nah ini pengajar yang tidak lagi mementingkan uang, tetapi sudah pada level happy melakukan kegiatan mengajar, so mengajar bukan untuk bayaran, tapi memang passion nya mengajar. Ini lebih baik.
Level terakhir adalah Pengajar dengan motivasi spiritual, karena level intelektual dan emotional memang itu sudah lebih baik dari terpaksa, namun dua dua nya itu masih memikirkan diri sendiri sebenarnya. Level ke 2 jelas jelas nyari keuntungan untuk dirinya melalui JP. Level ke 3 sudah lebih baik karena memang passionnya, tetapi passion nya kan sebenar nya kesenangan diri nya sendiri ya, bukan berorientasi untuk peserta. Nah pada level ke 4 yaitu spiritual inilah kita selaku pengajar harus berorientasi pada peserta pelatihan, bukan lagi memikirkan diri sendiri pengajar. That the point, so sudah masuk ke mana kita selaku pengajar? apakah level 1 terpaksa karena status? atau level kaum duafa yang mengemis JP, atau kaum borjuis yang berlimpah JP? atau level 3 yang enjoy enjoy aja mengajar, atau mudah mudahan sudah masih ke level spiritual yang mementingkan memberi daripada meminta?
Beberapa Games dan simulasi juga dipakai sebagai cara mengajar oleh Pa Lohjinawi Trinadi, namun berbeda dengan games atau simulasi dari Windyaiswara atau WI2 di diklat2 PIM yang seringkali games hanya sekedar bobodoran dan membuang buang waktu saja, nah kalau pa Jin ini benar benar jelas terlihat dan tersambung, apa sih hikmah dan hubungan antara games dengan materi yang disampaikan. Games menyusun puzzle dengan aturan main tertentu memberikan inspirasi bagaimana itu berbagi… dan terakhir simulasi coaching juga benar benar memberikan contoh bagaimana cara kita menjadi seorang pengajar yang bukan hanya ngajar di kelas, tapi memberikan coaching juga di sesi lainnya.

workshop

Ini adalah status beliau di facebook, super sekali… beliau cepat sekali updatenya di medsos nya, beda dengan saya yang ngaku ngaku blogger, tapi updatenya masih kalau sama om Jin… Mantap! terima kasih Pa Jin;

Sudah sampai di mana level komitmen kita dalam menjalankan tuntutan peran atas status yang kita sandang? Masih berada pada level keterpaksaan, sekadar melunturkan tanggung jawab berdasarkan hubungan transaksional belaka, sudah naik hingga ke level di mana kita menyukai dan menikmati apa yang kita lakukan, atau sudah berada pada level puncak di mana kita mampu memberikan manfaat bagi orang lain yang memerlukan kualitas kinerja kita.

Coaching merupakan perwujudan dari level puncak, komitmen yang bersifat spiritual dari setiap insan yang menyandang status sebagai pemimpin dan pengajar agar para pengikut dan peserta didik mereka mendapatkan manfaat yang seutuhnya bagi pengembangan diri mereka di masa depan dari setiap program pembelajaran yang telah diberikan kepada mereka.

Terima kasih kawan2 LKPP dan Widya Iswara untuk semangat belajar yang luar biasa, keterbukaan serta kebesaran hati dalam menerima materi dan masukan2 selama program training berlangsung. Semoga menjadi berkah bagi kawan2 semua dan bagi Indonesia tercinta.

Salam Pengadaan!

Ada satu insiden seru dalam sesi pelatihan couching terkait kurikulum keahlian dasar yang dikeluhkan terlalu… terlalu ini terlalu itu… ter… la… lu… yang menurut saya sih itu terlalu di dramatisir. Materi keahlian perpres itu tidak setebal buku KBRI eh KBLI oh iya KBBI, tapi hanya 136 pasal perpres, kalau yang tebal itu mah lampirannya saja, yang keluar di ujian dari KBBI hanya enol koma sekian persen sajah kok, so materi tidak setebal KBBI, hanya setebal buku konsolidasi perpres 54 dan perubahannya saja, yang hanya 80 halaman sajah!
Waktu pelatihan kurang, ya menyesuaikan dengan kondisi anggaran K/L/D/I.
Yang Lulus sedikit, itu banyak faktor ya, pertama faktor motivasi, faktor kemampuan dasar, dan beberapa faktor lainnya, kalau mau tahu lebih dalam silahkan hubungi saya untuk dibaca kajian dari LAN tentang kelulusan ujian ini. Kenapa ujian yang lain lulus 100% tapi di barjas tidak ada yang 100%, tolong diketahui juga oleh pa Jin, siapa tahu beliau baca nih ya, bahwa ujian PBJ Insya Alloh masih kredibel, tidak ada joki joki an, bocoran, bantuan, dan sebagainya. Nah nampaknya banyak lebay nya ini sehingga pa Jin terpengaruh dan sampai membuat statement “Pelacur Intelektual”.
Intinya kalau menurut saya;
Ya benar materi PBJP padat, tapi masih bisa tersampaikan dengan baik kok dalam 4-5 hari
Ya benar waktu 3 sd 5 hari terasa kurang, tapi dari slide dan kurikulumnya sudah dibuat pas 3 sd 5 hari kok, tinggal kepintaran dan kejagoan para narasumber bagaimana untuk dapat menyempaikan materi dengan baik.
Ya benar kelulusan Ujian Keahlian Pengadaan hanya 30%, ya silahkan baca kajian nya ya…
Ya benar masih ada kekurangan so mari kita perbaiki; tapi jangan sampai menjadi seperti yang disampaikan pa oleh Jin, kita itu punya status, status kita melahirkan peran, nah hati hati peran kita jangan sampai berbeda dengan status kita. Statusnya Bule kok kulitnya ireng ya… statusnya tinggi kok kata katanya idak enak ya, katanya pengajar, katanya tinggi, katanya berbobot, katanya lengkap dari A sd Z, katanya ini itu… tapi kok gitu sih? tetangga kok gitu si? 🙂

So inti nya seru, inspiratif dan banyak ilmu dan hikmahnya, terima kasih LKPP terima kasih pa Deputi, pa Deden, pa Eko dan Om Jin sudah memberikan ilmu yang begitu banyak selama 4 hari ini.

Salam Pengadaan dari Bogor.

 

==================================================================================
Memerlukan Narasumber/Instruktur Training (Bimbingan Teknis) atau Konsultasi Pengadaan Barang/Jasa untuk Pemerintah berdasarkan Perpres 54 tahun 2010 atau Swasta berbasis Supply Chain Management & Essential Procurement, Silahkan hubungi wwww.heldi.net via HP. 081111-64-600- email: heldi_y@yahoo.com
Bagi para Supplier Barang/Jasa, Penyedia product yang ingin mempromosikan produk atau barang/jasa nya di Pojok Penyedia/Supplier, silahkan kirimkan email mengenai produk barang/jasa nya. ==================================================================================
Share
Punya cerita tentang kota Bogor dan sekitarnya, atau mau promosi usaha anda di kota Bogor, silahkan kontennya ke: heldi_y@yahoo.com , jangan ragu segera dikirm content-nya, ditunggu ya postingannya segera...

Comments

3 Responses to “Workshop Pengembangan Diri – LKPP”
  1. ABDUL SYUKUR says:

    Welcome to our WEBSITE, just on this occasion we will give away to your knowledge about Plants That Can Heal myoma uteri, well for those of you who want to know please to read the following article about Plants That Can Heal myoma uteri, happy reading :
    OBAT ALAMI MIOM

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. […] dapat merangkul ke bawah, selalu membimbing dan mengarahkan dengan cara yang enak, kalau istilah pa lohjenawi Trinadi mah sudah level “spiritual”, bukan minta dilayani tapi melayani ke bawah dengam cara […]

  2. […] Lohjenawi Trinadi, lulusan psikologi Universitas Indonesia (UI), ahli manajemen perilaku dan konsultan human skills. Narasumber atau pengajar untuk materi materi soft skills seperti motivasi, komunikasi, hubungan interpersonal, sales, pengembangan diri, manajemen kinerja, kepemimpinan dan manajemen perilaku lainnya dalam berorganisasi. […]



Komentar Anda... Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!