PR dari Abah Ihsan PSPA – Program Sekolah Pengasuh Anak

October 6, 2015 by  

Artikel ini ada pada kategori Pengadaan - Curhat PNS online

Acara Program Sekolah Pengasuh Anak tingkat Dasar kami ikuti di daerah Depok di Gedung nya PPSDM Nurul Fikri dekat Halte Kampus UI Depok. Bersama sekitar 150 orang lebih peserta pelatihan dari berbagai daerah di Indoensia (ada dari Malaysia juga, Belitung, dsb).

Saya sudah tidak bisa banyak lagi berkata dan menuliskan tentang Abah Ihsan ini, silahkan buktikan sendiri saja lah, dijamin ketagihan, dijamin terbuka lebar mata ini melihat anugrah dari Alloh melalui anak anak kita.

Lihat daftar acaranya di www.auladi.net dan segera daftar saja.

Jpeg

Agak agak mirip ini, beda Satuan Berat saja ya :)

Acara dimulai dengan pertanyaan apakah anak itu Anugrah atau Beban?
Kemudian pertanyaan Kenapa kita harus belajar ttg pengasuhan anak :
1. Àllah memerintahkan kita utk terus belajar
2. Zaman : zaman telah berubah. Dulu akses informasi terbatas. Skrg akses informasi tersebar luas
3. Agar anak bahagia

Saya yakin pekerjaan rumah atau PR yang diberikan oleh bapak Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
atau lebih akrab disapa abah Ihsan dari PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) pasti agak sedikit berbeda beda dari setiap pelatihan “Yuk Jadi Orangtua Shalih!”. Hal ini dikarenakan metoda pelatuhan abah Ihsan yang memang cenderung fleksibel, banyak pada comtoh kasus dan tidak base on slide detail. Tapi intinya sama juga kok… silahkan dibaca dan dikerjakan Pekerjaan Rumah nya ya, dijamin Bahagia dan memperoleh anugrah yang berlimpah dari Alloh melalui anak anak kita… aamiin…

PR 1:
In Sya Allah mulai hari ini saya bersungguh-sungguh jadi orang tua betulan bukan orang tua kebetulan. setidaknya setiap hari jika di rumah menyediakan waktu bersama anak dengan praktek 1921.
Menyediakan waktu 2 hari fulltime setidaknya 2 kali setahun untuk anak yang jauh dari rumah.

PR 2
In sya Allah Mulai hari ini saya bersungguh2 membebaskan anak saya sepanjang tdk berlebihan, yaitu:
PR 2:
In sya Allah mulai hari ini saya bersungguh-sungguh membebaskan hidup anak saya demi kebahagiaan mereka sepanjang tidak berlebihan, yaitu:
1. tidak membahayakan dirinya,
2. tidak merugikan orang lain,
3. tidak melanggar hukum agama dan negara.
Mulai sekarang saya akan berfikir terlebih dahulu sebelum melarang aktifitas anak, yang akan dilarang adalah berlebihannya bukan aktifitasnya.

PR 3:
In sya Allah mulai hari ini saya bersungguh-sungguh melatih diri saya untuk menjadi orangtua yang TEGAS bukan KASAR, LEMBUT bukan LEMBEK.
Ketika anak saya berlebihan, saya bersungguh sungguh sedikit bicara dan banyak bertindak yaitu dengan membuat batasan batasan yang jelas dan konsekuensi yang jelas.

PR 4
In sya Alloh mulai hari ini saya bersungguh sungguh tidak pernah mengatakan yang negatif tentang anak yang terdengar oleh anak. Saya tidak ridho anak anak saya konsep dirinya menjadi negatif gara gara ucapan saya yang tidak terjaga.

PR 5
In sya Alloh, mulai hari ini saya berusaha menarik anak saya ke jalan kebaikan, nyaman dengan kebaikan, senang dengan kebaikan, setidaknya dengan memperhatikan lebih baik saat mereka berbuat baik, setelah itu:
1. Mendoakan anak sesekali terdengar langsung oleh mereka.
2. Menyebutkan/mengungkapkan perasaan positif langsung di hadapan mereka.
Menceritakan kebaikan anak kepada orang orang terdekat, yaitu USAHA anak bukan Pencapaiannya.

PR 6
In sya Alloh mulai hari ini melatih anak saya untuk mandiri dan bertanggungjawab, setidaknya sejak umur 7 tahun, anak saya dilatih untuk melakukan sendiri 12 kegiatan, berikut:
1. Mandi Sendiri
2. Sikat Gigi
3. Makan Sendiri
4. Istinja
5. Beresin tampat tidur sendiri
6. Menyimpan setiap barang yang dipakai pada tempatnya
7. Mencuci perlatan makan yang dipakai sendiri
8. Menutup Aurat sudah dimulai
9. Tidur wajib dipisah
(Pisah kamar dengan saudara yang tidak sejenis, Pisah Ranjang untuk yang sejenis)
10. Shalat dimulai di usia 7 tahun
11. Diberikan tugas rumah tangga
12. Diberikan kelonggaran mengelola uang.

PR 7
Insya Allah mulai hari ini saya bersungguh-sungguh melatih diri saya agar dapat menjadi tempat terbaik yang dipilih oleh anak untuk curhat. Setidaknya saya membiasakan diri dengan:
1. lebih sering mengajak ngomong anak pada saat tidak bermasalah sebelum bermasalah,
2. lebih sering ngajak ngomong anak pada soal-soal yang sepele sebelum yang serius,
3. Sedapat mungkin mengeluarkan ide dan perasaan anak terlebih dahulu sebelum nasehat nasehat.

abah_ihsan

Puisi tentang anak kita By: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Auladi Parenting School Director
International Parenting Motivator
Ayah 4 orang anak
inspirasipspa@yahoo.com | www.auladi.org

Ayah, Ibu…..
Ketahuilah, menjadi orangtua terbaik untuk anak-anak kita
bukanlah berarti kita diharapkan menjadi orangtua malaikat
yang tak boleh kecewa, sedih, capek, pusing menghadapi anak.
Perasaan-perasaan negatif pada anak itu wajar,
bagaimana menyalurkannya hingga tak sampai menyakiti anak
itu yang menjadi fokus perhatian.

Artinya, ayah ibu,
sebenarnya kita masih tetap boleh sedih, kecewa pada anak,
tetapi kita sama sekali tak berhak untuk melukai
dan menyakiti anak-anak kita.

Ketahuilah, melotot, mengancam, membentak
dapat membuat hati anak terluka.
Apalagi, mencubit dan memukul tubuhnya.
Tubuhnya bisa kesakitan,
tapi yang lebih sakit sebenarnya apa yang ada dalam tubuhnya.

Ayah, Ibu…..
Karena kita bukan orangtua malaikat,
maka yakinlah anak kita pun bukan anak malaikat
yang langsung terampil berbuat kebaikan.
Mereka tengah belajar ayah,
mereka masih berproses Ibu.

Seperti belajar bersepeda,
kadang mereka terjatuh,
kadang mereka mengerang kesakitan ketika terjatuh.

Demikian juga dengan perilaku anak-anak kita,
mereka bereksplorasi,
mereka berproses,
mereka mengayuh kehidupan
untuk meraih kebaikan
dan menjadi manusia yang berperilaku baik.

Ketika mereka terjatuh saat belajar berperilaku,
sebagian kita lalu memvonisnya sebagai anak nakal,
padahal sebenarnya mereka belum terampil berbuat kebaikan.

Jika Ayah Ibu membimbing kebelumterampilan perbuatan baik anak
dengan cara yang baik.
Insya Allah kebelumterampilan berbuat baik mereka
akan terus tergerus dari kehidupan mereka.

Tetapi Ayah, Ibu,
jika kita menghadapi ketidakterampilan ini
dengan tekanan, ancaman, bentakan, cubitan, pelototan,
mereka akan semakin terpuruk ke arah keburukan.

Ayah Ibu….
Yakinlah, ketika seorang anak emosinya kepanasan:
nangis, marah yang terekspresikan dalam bentuk
yang mungkin dapat membuat orangtua jengkel,
siramlah ia dengan kesejukan.
Menyiram kayu yang terbakar dengan minyak panas
hanya membuat ia makin terbakar.
Kita, Bukan Orangtua Malaikat

Ayah, Ibu…..
Yakinilah, sifat-sifat negatif anak
hanyalah bagian eksplorasi untuk mencari cahaya kehidupan.
jika kita memahaminya sebagai sebuah bagian proses kehidupan,
insya Allah anak-anak kita akan akan menebar cahaya untuk kehidupan.

Karena itu ayah, ibu…,
jika kadang amarah dengan kejahilian memperlakukan anak
mampir lagi dalam hidup kita,
kamus yang benar adalah inilah uji ketulusan
bukan kegagalan,
terus belajar tentang kehidupan,
bukan tak berhasil dalam kehidupan.

Belajar, memburu ilmu,
adalah ikhtiar yang kita tuju,
karena sebagian kita ketika menikah
tidak disiapkan jadi orangtua.

Jadi, ayah ibu,
mari kita terus belajar,
meskipun telah jadi orangtua: belajar….jadi orangtua.
Andaikan keluarga kita kuat,
insya Allah anak-anak kita memiliki ketahanan mental
terhadap lingkungan yang gawat.

==== Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari: Ingin Anak Saleh, Jadilah Orangtua Saleh ===

http://majalah.hidayatullah.com/2012/03/ihsan-baihaqi-ibnu-bukhari-ingin-anak-saleh-jadilah-orangtua-saleh/

Boleh jadi, anak-anak zaman sekarang sama sibuknya dengan orangtua. Bahkan bisa lebih sibuk. Sekolah seharian dari pagi hingga pukul tiga sore. Setelah ashar hingga maghrib, les. Dari maghrib sampai isya’, belajar mengaji. Lalu, usai isya’ hingga jam sembilan malam mengerjakan pekerjaan rumah dan mengulang pelajaran sekolah.

Hasilnya, anak-anak jebolan program seperti itu memang terlihat cerdas dan berwawasan luas. Tetapi jika diperhatikan lebih jeli, mereka terlihat bagai anak yang dewasa terlalu dini.

“Ibarat buah yang matang karena dikarbit, cepat manis tetapi juga cepat busuk serta kurang menunjukkan rasa buah yang sebenarnya,” kata Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, Direktur Auladi Parenting School, sekaligus master trainer sekolah orangtua, Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA).

Menurut lelaki yang akrab dipanggil Abah ini, banyak orangtua yang saat ini terjangkit sindrom Ten Minutes Parents Club. Sepuluh menit dalam mendidik dan mengasuh anak. Lima menit di pagi hari yakni orangtua mengatakan kepada anak: mandi, baju, makan, dan sekolah. Sedangkan di sore dan malam hari perintahnya adalah pulang, mandi, makan, PR (belajar), dan tidur.

Namun ketika anak bermasalah, dengan mudahnya orangtua menyalahkan lingkungan dan pergaulan anak sebagai penyebabnya. Jika sudah seperti itu, biasanya anak akan dibatasi secara berlebihan dalam bergaul. Bahkan ada juga yang di kurung.

Pengaruh buruk lingkungan pada anak, kata Abah, terjadi karena orangtua tidak mempunyai pengaruh pada anak-anaknya. “Saat orangtua tidak bisa menjadi tempat curhat, maka lingkunganlah yang menjadi pendengar setianya. Intinya orangtua tidak berfungsi dan berperan sebagai orangtua,” katanya.

Menurutnya, lingkungan memang berpengaruh dalam membentuk karakter anak. Namun, katanya, lingkungan hanya sebagai pelengkap tempat praktek anak menerapkan pendidikan yang diperoleh dari keluarga.
Abah menjelaskan, lingkungan dibuat oleh orangtua. “Mau seperti apa situasi dan kondisinya, tergantung kita (orangtua, -red) bukan sebaliknya,” tuturnya.

Abah mengaku, hal demikian telah ia terapkan dalam mengasuh keempat buah hatinya. Bersama istrinya, Leila Maysaroh, Abah berusaha selalu menyediakan waktu yang berkualitas bagi keempat anaknya: Salma Alya Ihsan (9 tahun), Syahid Mudzaky Ihsan (7 tahun), Syarifah Nurul Ihsan (4 tahun), dan si bungsu Saveero Attarayan Ihsan (7 bulan).

Maka jangan heran, jika terdengar kisah bahwa Abah pernah membuat seseorang menunggu selama berjam-jam karena bertamu ketika dia sedang mempunyai acara khusus dengan anak-anaknya di rumah. “Mau siapa pun tamunya, pejabat atau menteri,” kata seorang alumni pelatihan PSPA bernama Yadi.

Berangkat dari keprihatinan dia terhadap pola pengasuhan anak yang salah, pada awal 2005, Abah menuangkan ide-idenya dalam sebuah majalah. Namanya Auladi, majalah idealis berharga miring. Sebab, harganya cuma dua kali lipat ongkos cetak.

Ibarat kacang goreng, majalah tersebut laris manis. Para pembacanya malah meminta Abah untuk menyampaikan secara langsung gagasannya dalam bentuk pelatihan kepada para orangtua. Tahun itu pula Abah mendirikan lembaga yang dia beri nama Auladi Parenting School atau Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA).

Dalam pelatihan tersebut, Abah mendobrak pola kepengasuhan anak yang selama ini dianggapnya salah. Di antaranya, anak sering diposisikan sebagai obyek, selalu disalahkan, dilarang, dan dimarahi secara berlebihan. Maka, tidak sedikit orangtua yang menganggap anak sebagai sumber masalah.

“Padahal, sejatinya, kesalahan anak adalah kesalahan orangtua dalam mengasuh. Kalau kita mau telusuri dan jujur, anak-anak yang bermasalah itu pangkalnya adalah orangtua,” kata laki-laki kelahiran Subang, Jawa Barat ini.

Untuk itu, kata Abah, jika anak ingin benar maka orangtua harus benar dalam mengasuh buah hatinya. Karena 8o persen usia anak dari 0 tahun hingga 18 tahun waktunya dihabiskan dalam keluarga, maka peran orangtua sangat dominan dalam membentuk karakter anak.

“Tidak harus menemani anak 24 jam sehari, karena anak juga ingin waktu untuk diri mereka sendiri,” kata pria yang di setiap training-nya mampu “mengaduk-aduk” suasana emosi peserta trainingnya.

Disneyland Hingga Outsourcing
Abah menginginkan gagasannya bisa disampaikan kepada ribuan bahkan jutaan orangtua di Indonesia. Hingga saat ini telah puluhan kota dan belasan provinsi yang dikunjunginya untuk mengkampanyekan satu kalimat sederhana, “Mau anak saleh, yuk jadi orangtua saleh!”

Selain melalui training, Abah juga menyampaikan pemikiran dan pengalamannya dalam bentuk buku. Bukunya yang berjudul Sudahkah Aku Jadi Orangtua Shalih?, dan Yuk, Jadi Orangtua Shalih laku di pasaran hingga cetak ulang beberapa kali.

Meski jadwal pelatihannya padat, Abah selalu menyediakan waktu untuk anak-anaknya. Dia mengaku, semua yang disampaikan dalam pelatihan sudah dia lakukan terhadap anak-anaknya. Baginya, praktek lebih bermakna dibanding teori dan retorika.

“Sebagai orangtua, jangan hanya bisa melarang, menyuruh, dan meminta anak melakukan apa yang mereka sendiri tidak tahu manfaatnya. Penjelasan dengan bahasa anak atau bahasa bijak akan mudah ia terima daripada sekadar kata ‘jangan’ atau ‘ayo’,” katanya.

Abah mencontohkan, banyak orangtua yang melarang anaknya memanjat pagar, jendela, atau tempat tinggi lainnya di rumah. Padahal itu hal yang baik untuk melatih psikomotorik anak seperti halnya yang dilakukan dalam permainan outbound.

Contoh lainnya adalah saat anak bermain pisau. “Mana yang lebih berbahaya, mengawasi anak bermain atau tanpa sadar mereka bermain pisau sendirian?” tanyanya. Maka, kata Abah, kalau orangtua hanya pintar melarang, tandanya orangtua tersebut malas mengawasi dan menemani anaknya.

“Karena yang diperlukan anak adalah penjelasan bukan sekadar larangan. Siapa tahu kegiatan tersebut dapat membantunya untuk mandiri,” ujarnya.

Saat ini, kata Abah, banyak orangtua bertipe Disneyland. Mereka menebus kesalahan mereka kepada anak dengan memberi fasilitas hiburan. Fungsi mengasuh dan mengawasi dialihkan ke tempat hiburan. Namun, katanya, banyak juga anak yang merasa hampa ketika di rumah meski telah dihibur dengan fasilitas modern. Agar praktis, banyak orantua melakukan outsourcing. Budaya les privat menjadi solusi. Semua diambil alih orang lain, termasuk pendidikan agama semisal membaca al-Qur`an.

“Belajar, dong! Apa kita rela pahala mengasuh, mengajari anak-anak kita mengalir ke orang lain,” tegas pria yang sudah terbiasa mengasuh adik-adiknya dan anak tetangganya sejak kecil ini.

Hingga, katanya, jangan heran jika anak beranggapan bahwa orang lain lebih saleh daripada orangtuanya. Oleh karena itu, Abah berpesan, untuk melahirkan anak yang saleh, orangtua harus lebih dahulu menjadi orang saleh.

Ihsan adalah anak tengah dari lima bersaudara dari pasangan Bukhari Jawahir dan Huzaimah. Lahir dan besar di desa yang membuat anak bebas menentukan kegiatannya sendiri di luar sekolah. Tanpa menafikkan peran ibunya, ia mengaku sang ayah benar-benar mewarnai karakternya.

Abah mengaku, sang ayah tidak pernah menyakitinya. Sekalipun dengan ucapan kasar. Lebih dari itu, katanya, sang ayah telah mendidiknya menjadi anak yang pantang menyerah. * Ngadiman Djojonegoro/ Suara Hidayatullah september 2011

===

Sumber: https://jemarikecil.wordpress.com/2014/11/06/seminar-parenting-bersama-ihsan-baihaqi/

Walau sudah sering baca blog atau artikel parenting, rasanya memang berbeda kalau ikut seminar pelatihan secara langsung, karna disitu kita seperti direcharge , diminta untuk mengucapkan langsung janji kepada diri sendiri untuk menjadi orangtua betulan, bukan orangtua yang kebetulan. Dan beruntungnya, para orangtua yang tinggal di berlin akhirnya mendapat kesempatan hadir dalam sebuah pelatihan parenting bersama Ihsan Baihaqi pada minggu lalu.

sekilas tentang trainer, Ihsan baihaqi ibnu Bukhari adalah penulis dari buku parenting berjudul ‘Sudahkan aku menjadi orangtua shalih’ dan buku2 parenting lainnya, direktur dari Auladi Parenting School, Natiaonal Trainer untuk orangtua di lebih dari 60 kota di Indonesia dan bahkan sering diundang ke mancanegara. salah satunya Jerman.
Serunya hadir di pelatihan semacam ini, adalah bersama sama mengafirmasi , bahwa kita ga sendirian. Bahwa anak-anak semua ya mirip-mirip : senang kesulitan , yg kotor-kotor , malas mengerjakan PR, berkelahi dengan adik, contohnya kalau anak anak sedang jalan biasanya memilih jalan di trotoar apa di pinggir yang deket selokan? Milih jalanan yg kering apa ada airnya, Pasti milih yang di deket selokan, pasti milih yang ada airnya. apalagi kalau kita bilang ´jangan kesitu´. Seperti dikasih hidayah kalo kata istilah Abah ( panggilan akrab dari trainer) , anak2 akan melakukan yang kita larang.
Seringkali kita sebagai orangtua fokus kepada hal-hal negatif anak, anak berkelahi, anak rewel. Padahal anak anak lebih banyak berlaku tidak berkelahinya dari pada berkelahi, lebih banyak tidak menangis daripada menangisnya. Anak-anak yang menangis atau rewel karna biasanya tidak dapat mengungkapkan apa yang diinginkan.  Apa kita dulu kalo dikasih Pe er reaksinya bersyukur gembira riang, apa males-malesan…? Atau coba gimana perasaan kita kalo dibanding bandingkan dengan perempuan lain oleh suami, kesel apa malah bersuka cita semangat. ? 😛

yah sama juga dengan anak, membanding bandingkan dengan kaka atau adik atau anak lain tidak membuat mereka senang.

nah sekarang kenapa harus belajar parenting ?
1. Belajar adalah satu2nya perintah Allah SWT yang diberikan kepada manusia dari sejak bayi. Karna manusia bisa menyerap banyak hal.
2. Zaman : zaman dulu kita bisa nonton acara TVRI dari pagi sampai malam masih aman. Tapi sekarang ? lihat saja, Acara siaran TV isinya berita kekerasan, gosip, sinetron yang tidak mendidik, pornografi dsb. Kasus2 anak usia sekolah dibully secara sexual bahkan melakukan ‘perbuatan cabul’ di sekolah seperti jamur dimana mana.
3. Tambah Bahagia : agar anak2 kita tambah bahagia. apa variabel bahagia ? ( harta, tahta, kata, dan Cinta)

Ketika trainer bertanya kepada para orangtua :’ Anak itu anugrah atau beban ? semua menjawab anugrah, tapi ketika pertanyaan diganti,  ‘Anak lebih banyak memberi atau meminta ?, kebanyakan menjawab meminta. Padahal harusnya jika anak adalah anugrah maka anak anak lebih banyak memberi. coba lihat foto masing masing anak, tatap senyum nya, tingkah laku polosnya. Dan ketika mereka mengucap kata pertama mama atau ayah, maka orang tua mana yang tidak akan berbunga bunga hatinya, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata rasanya. Lalu coba bayangkan jika tingkah lucu mereka, suara mungil mereka ketika bernyanyi. Dan jika semua itu tiba-tiba berganti menjadi suara erangan sakit, tangisan lemah ketika demam. Maka orang tua mana sih yang sanggup menghadapinya. Pasti sakit juga rasanya. Apalagi jika harus kehilangan anak, hati mana yang sanggup. karna itulah anak-anak lebih banyak memberi daripada meminta, memberi hal yang tidak terukur materi. hal ini tentu saja membuat peserta yang kebanyakan terutama ibu-ibu menangis sedu.

Dilain sisi, Trainer seringkali melontarkan pertanyaan2 yang menggelitik. Misalnya anak-anak seringkali bertanya hal-hal yang membuat orangtua bingung atau salah tingkah menjawabnya. Seperti : ibu , ayah….aku berasal darimana sih ? biasanya orang tua banyak mencari2 jawaban singkat dan aman. Atau tidak sedikit yang panik dan istighfar : `aduh kamu koq nanya nya gitu sih´..Padahal mungkin maksud pertanyaan anak : tono kan berasal dari semarang, kalo aku berasal darimana ? 😀
Kesalahan-kesalahan lain yang sering dibuat orangtua adalah membuat perintah atau larangan yang kurang jelas. Misalnya marah-marah jika anak bermain game lama2 tapi tidak menentukan berapa lama batasannya, dan tidak konsisten. Dan tidak ada aturan kakak itu harus mengalah, jika adik masih terlalu kecil maka tentukan batasan sampai umur berapa adik sudah bisa mengerti. Hal lain yaitu tidak boleh berbohong walaupun kepada anak. Karna jika sekalinya anak tau, maka sulit sekali percaya lagi kepada orangtua. Lalu anak-anak remaja sekarang lebih senang menghabiskan waktunya bersama teman atau diluar, jika dirumah mereka tidak ingin duduk lama lama bersama orangtuanya, kenapa? Karna merasa tidak nyaman, tidak percaya, sering diceramahi dst.
Hal hal diatas adalah beberapa contoh kasus anak-anak yang sering dihadapi, nah karna tidak siapnya orang-tua menghadapi tantangan, maka banyak yang menggunakan :
1. TRIAL, anak pertama biasanya menjadi percobaan.
2. Warisan
karna pola pikir kita terbentuk dari seringnya pengulangan di masa lalu. misalnya ketika kita disuruh menggambar pemandangan , sebagian besar menggambar 2 gunung..dengan aliran sungai dan sawah. hal ini juga terulang dalam parenting, apa yang dulu sering digunakan oleh orangtua2 kita akan terbawa secara tidak sadar dalam metode parenting kita.
misalnya anak laki-laki dianggap tidak boleh menangis, sehingga banyak pria yang menahan emosinya.
Karna warisan itu, permasalan permasalah yang timbul pada anak di kemudian hari, biasanya lebih mudah menyalahi hal hal lain :
• Pengaruh teman, lingkungan memang sangat berpengaruh tapi orangtua hidup lebih lama bersama anak dan orang pertama yang dikenal oleh seorang anak. maka seharusnya pengaruh orangtua itu lebih besar dari lingkungan.
• Anak yang salah. Anak itu dalam islam dilahirkan secara Fitrah adalah cenderung kepada kebaikan. contohnya. anak2 itu Jujur ; mereka mengatakan apa adanya tanpa basa basi, Disiplin : tahukah kita ternyata anak yang malas bangun pagi adalah karna dari kecilnya jika terbangun pada subuh hari langsung ditidurkan lagi, dan menurut penelitian anak-anak bayi akan bangun 2 jam sebelum matahari terbit dan tidur 2 jam setelah matahari terbit. anak2 itu mandiri : mereka ingin memilih baju sendiri, mengikat tali sepatu sendiri, makan sendiri dst. Kreatif : Semua anak dilahirkan kreatif, oragtua yang biasanya mematikan kreatifitasnya, anak-anak tidak akan kehabisan ide untuk bermain, mereka tidak memiliki rencana untuk bermain dan bisa menemukan kesenangannya. berani : anak2 lebih senang dengan tantangan, misalnya jalan dipinggir2 selokan, senang dengan tangga dst. Belajar :
anak2 adalah makhluq paling senang bertanya, bermain dan bahkan berkelahi adalah belajar untuk bersosialisasi. Patuh : Jika diantara 1 orang asing dan ayah/ibu memberikan tangan dan menyuruh anaknya untuk memeluk atau salaman, kira2 siapa yang akan dipatuhi anak ? pasti ayah atau ibunya.
• Sejarah, kesalahan dianggap turunan. kesalahan anak dianggap turunan dari leluhur atau memiliki relasi dengan orang yang pernah mempunyai sejarah tidak baik.
• Jin, hal ini sepertinya hanya dimiliki oleh orang Indonesia. Terutama di pedalaman. banyak yang mempercayai jika anak mengamuk, nangis tidak berhenti atau bersikap emosional berarti dia dimasuki jin jahat.
• Tuhan, banyak yang akhirnya menyalahkan Tuhan karna menganggap Tuhan memberikan ujian berupa anak yang bermasalah. tapi tidak pernah bilang anak yang berprestasi, patuh dll adalah ujian dari Tuhan.

Untuk menghindari orang tua dari menyalahi orang lain atau bahkan menyalahi lingkungan, kita harus berfikir bahwa kita tidak dapat merubah anak orang lain, tidak dapat merubah isi TV, tidak dapat merubah taqdir Tuhan. tapi kita bisa merubah pola pikir dan asuh terhadap anak kita yaitu memulai dari hal yang sederhana seperti :
1. Setiap hari, menyediakan waktu bersama anak bukan di dekat anak. Minimal 30 menit setiap hari atau 3 jam seminggu untuk pra remaja.
2. Membebaskan anak demi kebahagiaan mereka selama hal itu tidak membahayakannya, membahayakan atau merugikan orang lain, dan bertentangan dengan agama, negara dan bangsa.
Sebenarnya, banyak point menarik dari sudut pandang Abah (panggilan akrab trainer)dalam seminar kemarin. Misalnya bagaimana abah yang saya nilai cukup islami karna banyak menitikberatkan pada nilai2 islam justru tidak setuju jika anak2 dipaksa sholat sebelum usia 7th. Karna Rasul SAW saja menyuruh kita menyuruh anak2 kita sholat pada usia 7th. Hal ini bukan berarti tidak perlu mengajak atau member contoh. Dan abah juga tidak setuju jika anak-anak balita dibawa ke mesjid sebagai pembelajaran. Karna kebanyakan dari mereka justru malah bermain disana. Abah juga tidak setuju dengan anak2 usia TK yang sudah disekolahkan hafiz quran atau pesantren karna harus berjauhan dengan orangtuanya.
Kesimpulan yang dapat saya ambil dari parenting menurut Ihsan Baihaqi adalah :

1. Anak2 itu memerlukan kepastian hukum atau SOP. Jika anak-anak tidak boleh menonton lama, maka tentukan waktunya seberapa lama. Dan konsisten dengan hukuman atau konsekuensi tanpa perlu banyak ceramah. Hal ini akan efektif selama 3bulan jika dijalankan secara konsisten. Dan tidak langsung berjalan mulus, tapi perlu 1 tahun sampai anak2 terbiasa dan mengerti.
2. Anak2 memerlukan focus dari orangtua. Jika sedang bersama anak maka tinggalkan yang lain.
3. Ketegasan tidak memerlukan teriakan atau kekerasan, hanya perlu konsisten.
4. Lemah lembut itu baik, yang tidak boleh adalah lembek alias tidak memiliki otoritas. Orangtua tidak boleh kalah atau dikuasai oleh anak. Maka itu haram hukumnya menyerah pada tangisan anak ketika sesuatu sudah dilarang.
5. Menjadi orang tua bukan berarti tidak boleh marah, yang tidak boleh adalah menyakiti atau memaki.
6. Dalam salah satu bukunya , abah mengatakan bahwa anak berkelahi itu baik. Hal ini berarti anak belajar untuk mengatasi konflik. Anak2 jika dibiasakan untuk dibela atau diselesaikan konfliknya oleh orangtua, maka dia akan menjadi orang yang tidak dapat bekerjasama oleh orang lain yang berbeda pendapat. Maka itu tidak ada aturan kakak itu harus mengalah.
7. Anak-anak tidak akan dapat menyerap nasehat apabila dalam keadaan tertekan atau orangtua emosi.
8. Pertanyaan anak usia 3-7th dijawab dengan jawaban konkrit. Misalnya Allah itu dimana? Jangan jawab Allah itu dimana-mana, nanti dia berfikir Allah bisa ada di kamar mandi di selokan , tapi jawab ‘Allah itu di Arsy, di langit’.

 

PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak)

http://mamacerdas.com/pspa-program-sekolah-pengasuhan-anak/

Baru kali ini, saya meninggalkan anak dengan waktu lumayan lama rada was-was juga, tapi saya yakin dan percaya semua akan baik-baik saja. Sebelumnya, saya bicarakan dengan anak saya “tih, besok mama mau ikut seminar, atih sama bibih yah….” Alhamdulillah ketika saya berangkat, tak ada tangisan, kerewelan, dan sebagainya dan saya pun tenang ikut PSPA. ^_*

Setelah ikut Program PSPA, saya serasa menjadi orangtua yang berbeda. Tak sedikitpun rasa kesal apalagi pengen marah sama anak, padahal anaknya sama, ‘rewelnya’ juga sama.

Jadi aneh, kok kemaren-kemaren bawaannya keseeeeel aja, klo anak rewel apalagi klo rewelnya tanpa sebab. Sekarang mah… biasa aja tuh…

Memang wajar anak rewel, memang wajar juga kita kesel… karena kita bukan malaikat dan anak kita juga bukan malaikat yang memang tercipta sebagai ahli ibadah yang langsung terampil melakukan semua kebaikan, anak-anak kita tengah belajar sedang berproses,bereksplorasi menjadi cahaya kehidupan.

Dan….jika kita memahaminya, Insya Allah anak-anak kita akan menebar cahaya untuk kehidupan bahkan juga untuk kita, orangtuanya sekalipun kita tidak lagi hidup di dunia.

“Ya.. ya.. ya… itu sih saya sudah tahu… Tetap aja, klo udah kesel mah kesel, hi geregetan jadi pengen nyubit…” Itulah yang saya rasakan sebelum ikut PSPA mungkin ibu-ibu yang lain juga? 🙂

Ini terjadi akibat “program yang diinstall di otak kita ” negatif”. saat kita punya anak, darimana kita mendapatkan informasi tentang bagaimana mereka membesarkan anak? darimana kita mengetahui cara mereka membesarkan anak? pilihannya besarnya ada 3:

1. kita menggunakan cara sebagaimana mereka diperlakukan oleh orangtua mereka saat mereka kecil dulu (warisan).

2. kita menggunakan cara coba-coba (try & error)

3. kita menggunakan cara baru melalui BELAJAR.

Saat kita tidak melakuan hal yang kedua dan yg ketiga maka sebagian besar orangtua tanpa sadar sebenanrya melakukan lebih banyak metode yang pertama: Yakni dari warisan.

Akibatnya, banyak orangtua faham bahwa membentak anak itu tidak boleh, banyak orangtua faham bahwa mencubit anak itu harus dihindari. Tapi mengapa sebagian mereka masih melakukannya secara spontan saat anak melihat anak berbuat negatif?

Sebab terbesar adalah karena mereka pernah DIPERLAKUKAN HAL YANG SAMA saat mereka kecil. Jadi, program itu sudah berpuluh tahun terinstall lama dalam otak orangtua dari kecil sehingga saat mereka mengalami kejadian yang sama mereka memanggil kembali dalam memorinya referensi tersebut.

Insya Allah ini akan hilang jika orangtua terus menginsttal program baru ke dalam pikirannya melalui BELAJAR. Belajar bagaimana mencari cara mengungkapkan perasaan2 kita lebih positif tanpa harus menyakiti anak2 kita.
Begitu kata Abah (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari) trainer di PSPA. ^_*

Day 1
Modul I tentang Karunia Fitrah

Kita sudah sering dingatkan, bahwa semua anak lahir fitrah
kita juga sudah sepakat bahwa anak adalah anugrah, anugrah terindah ^^
tapi seringkali, sadar atau tidak, mereka seolah menjadi beban buat kita
bahkan kita sering merasa anak-anak tertalu banyak meminta disaat sebenarnya mereka sedang memberi.

buktinya… disaat kita begiiitu lelah sepulang kerja, anak-anak dengan polos dan lucunya memberikan konser dadakan, dengan kata-kata yang tentu saja belum jelas dan cadel mereka bernyanyi ingin menghibur orangtua nya yang ‘kecapean’ sepulang kerja. Seketika hilaaaaang rasa cape itu…
Bukankah anak selalu memberi? Memberi kebahagiaan…

Anak adalah anugrah…
seharusnya bersama mereka adalah suatu kebahagiaan
tapi mengapa banyak anak menjadi “yatim piatu” disaat ortunya masih lengkap
berapa banyak anak enggan bercerita kepada orangtua, mereka justru memilih yang lain: teman, sahabat, pacar dan lain-lain.

Kita ingin menjadi orangtua terbaik…
tapi, sudahkah kita menyediakan waktu bersama anak hanya bersama anak saja.
tidak bertiga dengan kompor, berempat dengan majalah, berlima dengan cucian, berenam dengan laptop.
Mereka tak perlu 24 jam kita, mereka juga tak butuh itu
30 menit saja/hari, ini sungguh fantastis, hasilnyapun akan dahsyat
Sudahkah???

Andai saja kita mau
meluangkan waktu sesaat untuk menatap mata mereka
betapa mereka sangat menggemaskan
beruntungnya kita dipercaya dititipi Allah karunia fitrah

_______

Modul II tentang Karunia Belajar
Belajar… apa yang dimaksudkan dengan belajar adalah ini:
* Mengulang pelajaran sekolah
* Baca buku pelajaran
* Duduk di meja belajar
* dan lain-lain
tujuan nya apa ya?
Supaya pintar, menambah wawasan, dapat gelar….
Klo udah gitu trus ngapain?
Adalagi, pintar itu yang bagaimana? Apakah anak yang tidak 10 besar di Kelas tidak pintar?

Apa saja yang penting dipelajari anak?
Bahasa Arab penting, matematika penting, Bahasa Inggris juga penting.
Trus penting mana dengan disiplin, kejujuran, tanggungjawab dan sejenisnya?

Nah lho…
Penasaran?
Bagus!!!
Memang penasaran inilah yang dibutuhkan anak-anak kita agar keranjingan belajar
penasaran mereka sering kita salah artikan
kita renggut dengan pelototan, atau pengalihan
lalu kita omeli saat mereka enggan belajar

Belajar itu menyenangkan, sebenarnya…
tapi hari gini berapa banyak anak yang mengalami kesulitan belajar
belajar membuat anak stress

Kok bisa?
Anak dituntut untuk tau sesuatu sebelum waktunya
belajar bahkan kursus baca saat mereka masih sangat belia.
Bisa cepat baca, tidak membuat anak jadi gemar membaca, padahal sebagai ortu sebenarnya yang kita inginkan anak suka membaca. Ehhmmm…
Tidak masalah anak bisa baca di usia sangat belia (anak saya bisa baca di usia 20 bulan), asalkan orangtua lebih mempersiapkan anak untuk suka membacanya bukan bisa membaca-nya. Bagaimana nantinya anak suka membaca (walaupun sudah bisa membaca) melihat orangtuanya memegang buku pun tak pernah? Dibacakan buku cerita tak pernah… jalan-jalan ke toko buku atau pameran buku saja tak pernah… dan dirumah pun tak ada buku karena tak pernah dibelikan.

Belum lagi berapa banyak informasi yang sesungguhnya tidak perlu
tapi mereka harus menghafalnya
hanya demi sebuah nilai ujian, supaya lulus UN gitu lho..

Harus kita ingat… semua anak cerdas…
Jangan pernah mengecilkan mereka hanya karena nilai 6 untuk satu pelajaran sekolah. Jangan sekali-kali menganggap mereka ‘sulit’ hanya karena sulit menghitung
bahkan seorang Thomas Alva Edisaon tidak sucses di Sekolah formalnya
ia berhasil menemukan ‘bola lampu’ bukan karena juara umum di Sekolah
atau menang Olympiade Fisika
bukan…

tapi karena ia punya Nancy Elliot sebagai ibu, sebagai orangtua Nancy bukan orang hebat yang tau segalanya tentang dunia, sebagai ortu Nancy hebat
karena memberikan “wadah” bagi Thomas untuk terus bergairah belajar
meski sudah dicap bodoh dan dikeluarkan dari Sekolah

Sekali lagi belajar adalah proses dari tidak tau menjadi tau,
yang sudah tau menjadi lebih tau, yang melibatkan fisik, pikiran dan emosi
dan agar proses ini tidak terhenti
buatlah belajar itu menyenangkan
Kelola penasaran-penasaran anak
mereka adalah anak-anak kita dengan semua keistimewaan yang ada

bukan Thomas Alva, bukan siapa
kitalah orangtua terbaik buat mereka

 

Modul III tentang Karunia Konsistensi

Ada 2 prinsip keliru dalam mendidik anak; pertama, orangtua selalu menuruti segala kemauan anak, kedua; orangtua terlalu mengekang anak.
Apakah kita termasuk mendidik anak dengan cara seperti itu? semoga saja tidak…. jadi harus bagaimana???
Ada kalanya kita harus menuturi keinginan anak, tapi tetap harus tegas kepada anak, jangan sampai kita diatur oleh anak.
Sekali melarang, maka laksanakan larangan itu. Sekali tidak boleh, maka laksanakan statement itu. Orangtua harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah dikatakan kepada anak.

Anak kita memiliki memory yang sangat dahsyat, jauh melebihi kita para orangtua
Itulah kenapa anak-anak kan selalu ingat dengan janji-janji yang pernah kita ucapkan
sekalipun kita sudah melupakan janji tersebut
maka jangan sembarangan ingkar janji

Tegas pada anak
sekali sudah disepakati, jangan diubah
rengekan bahkan amukan, abaikan saja
sekali tidak tetap tidak
Ingat; TEGAS bukan keras
tegas bukan teriak dengan kencang
kita bisa tegas dengan tetap tersenyum

_______

Modul IV tentang Karunia Kiblat (+)

Fokus pada kebaikan mereka saja
betapa banyak kelebihan mereka yang membuat kita bangga
tapi kita sering lupa, suka kita tutupi dengan kejengkelan yang tak layak
padahal enegi (+) akan membuat potensi baik mereka melejit
begitupun dengan energi (-) bisa membuat anak kita terpuruk dalam kelemahan
Masih ingatkah tentang hukum kekekalan energi yang kita perlajari saat sekolah dulu?
“energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tapi bisa berpindah dari satu bentuk ke bentuk yang lain”
Hubungannya dengan bahasan ini???
Ketika kita mengeluarkan energi positif (+) pada anak, maka anak itu akan mengeluarkan energi positif pula, begitu pun sebaliknya.
Ketika kita memberikan kebaikan kepada anak, maka anak pun akan mengeluarkan kebaikan pula, tapi ketika kita memarahi anak (energi -), maka anak pun akan kembali mengeluarkan kemarahan tersebut.
bingung ya? 🙂

Pokoknya kita harus berbuat positif aja deh sama anak, biar anak juga berlaku positif…
Bagaimana mengarahkan anak menuju kiblat (+)? lakukan TARIAN BERMANPAAT:
Temukan hal (+) pada diri anak
Akui perbuatan ++
Rayakan Perbuatan +++
Ingatkan perbuatan ++++
BERikan rencana +++
MANfaatkan imbalan dari pada hukuman
PAku perbuatan + yang telah mereka lakukan
ATur waktu untuk berbicara dan bercerita kisah-kisah +

Berkiblat (+) bukan berarti mengabaikan perasaan (-), tapi mengatur energi agar lebih terarah pada hal (+)

______

Modul V tentang Karunia Mendengar

Dua telinga dengan satu mulut
Allah arahkan agar kita lebih banyak mendengar daripada bicara

Banyak orang bisa menjadi pendengar yang baik buat temannya
temapat curhat favorit bagi rekan dan saudara
tapi mengapa banyak orangtua justru gagal
membuat Sang anak mau bercerita panjang lebar pada orangtua
Why???
Apa salah anak bila tak betah berlama-lama ada didekat ortu
boro-boro curhat, ntar aja la yau…
Karena anak justru sering jadi tempat sasaran kemarahan,
lampiasan kejengkelan para orangtua
setiap moment bersama ada saja ceramah, kultum, nasihat, tausiyah dkk dari orangtua.
lantas kapan giliran anak bicara? mana ruang tempat mereka curhat ke orangtua?
salah siapa bila mereka lari keluar rumah hanya demi cari pendengar yang baik?

Dan ini terjadi sejak anak kecil
sampai mereka remaja sambung dewasa
mana telinga kita untuk anak
terlebih mendengar disini bukan hanya sekedar pasang telinga
sekali lagi bukan….
tapi mendengar yang menghadirkan rasa
yang melibatkan CINTA

Dengar…hai dengar…
mendengar sebenarnya mudah
tak butuh biaya, tak perlu sarana tambahan
bisa dalam posisi apa saja, duduk, telentang, tengkurep atau posisi bebas lainnya
tak perlu perangkat tata bahasa selayaknya bicara apalagi menulis
tapi mengapa kita enggan
sungguh dengan mendengar kita bisa tau masalah
dan hanya dengan tau masalah kita bisa berkontribusi sesuai kebutuhannya

Jadi tak ada alasan lagi, siaplah jadi pendengar
belajar dan berjuang menjadi tempat curhat yang baik buat anak-anak kita
SEKARANG !!! dan SELANJUTNYA !!!

________

Modul VI tentang Karunia Saffat

Q.S Ash-Shaffat : 102
“……..Ibrahim berkata: Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi aku menyembelihmu. Maka pikirkan bagaimana pendapatmu?…………”

Selalu ajak anak untuk berkomunikasi, berdiskusi untu memutuskan hal yang berhubungan dengan anak. Seperti nabi Ibrahim, meminta pendapat anaknya Ismail untuk satu keputusan yang berhubungan dengannya. Anak dilibatkan !!!

bantu anak untuk membuat kepustusan bagi dirinya sendiri, misalnya dengan mengajukan pertanyaan, tentunya pertanyaan yang diajukan harus:
– membuat anak berfikir
– mendorong gagasan yang lebih baik
– mengarahkan anak akhirnya dapat membuat keputusan sendiri
– menuju kiblat positif
– membuat perasaannya didengar

Ketika keputusan itu berasal dari anak maka:
* Seorang anak tidak dapat memerangi keputusan yang telah dibuatnya sendiri
* Seorang anak senang menggapai sesuatu dengan inisiatifnya sendiri
* Beri kesempatan anak untuk membuat keputusan bagi dirinya, maka ia akan memiliki inisiatif, semangat dan energi untuk melaksanakan apa yang diputuskannya.

==================================================================================
Memerlukan Narasumber/Instruktur Training (Bimbingan Teknis) atau Konsultasi Pengadaan Barang/Jasa untuk Pemerintah berdasarkan Perpres 54 tahun 2010 atau Swasta berbasis Supply Chain Management & Essential Procurement, Silahkan hubungi wwww.heldi.net via HP. 081111-64-600- email: heldi_y@yahoo.com
Bagi para Supplier Barang/Jasa, Penyedia product yang ingin mempromosikan produk atau barang/jasa nya di Pojok Penyedia/Supplier, silahkan kirimkan email mengenai produk barang/jasa nya. ==================================================================================
Share
Punya cerita tentang kota Bogor dan sekitarnya, atau mau promosi usaha anda di kota Bogor, silahkan kontennya ke: heldi_y@yahoo.com , jangan ragu segera dikirm content-nya, ditunggu ya postingannya segera...

Comments

One Response to “PR dari Abah Ihsan PSPA – Program Sekolah Pengasuh Anak”

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. […] video pengadaan. Cukup nyari waktu luang setelah sesi 19-21 bersama anak anak selesai (baca : Parenting Abah Ihsan), setelah si Bungsu tidur, tinggal ke kamar kerja belakang deh, tap tap tap… isi […]



Komentar Anda... Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.