Pentingnya Perencanaan Pengadaan – Lambatnya pengadaan larvasidasi di Meranti

September 5, 2016 by  

Artikel ini ada pada kategori Pengadaan - Kasus Pengadaan

Belajar dari kasus Pengadaan Larvasidasi di Dinkes Meranti, kita dapat melihat betapa pentingnya perencanaan pengadaan. Untuk melakukan proses pengadaan yang harus diperhatikan bukan hanya proses lelang nya saja, karena proses pengadaan terdiri dari 3 (tiga) tahapan utama, yaitu
1. Perencanaan
2. Pemilihan Penyedia
3. Pelaksanaan Pekerjaan (Kontrak)

Pelaksanaan pemilihan penyedia seringkali disorot, namun apabila perencanaan pengadaannya tidak diperhatikan juga maka akan terjadi pengadaan yang barang/jasa nya terlambat diadakan, meskipun pemilihan penyedianya lamcar, pelaksanaan pekerjaannya aman, namun barang yang dibutuhkan datang tidak sesuai dengan kebutuhan waktu tertentu, ini lah yang terjadi seperti pada kasus di bawah ini.

Lelang Dini atau lelang sebelum tahun anggaran berjalan adalah salah satu solusinya. Para stake holder pengadaan harus tahu kapan barang/jasa yang akan diadakan dibutuhkan untuk dipakai, apalagi kalau menyangkut pelayanan masyrakat atau bahkan nyawa masyarakat. Solusi lainnya adalah dengan memasukan komoditas barang/jasa ke dalam katalog nasional atau katalog lokal. LKPP sudah mengakomodir hal ini, tinggal para stakeholder pengadaan di daerah mengusulkan dan memproses nya agar barang/jasa yang diperlukan dapat diadakan dengan proses non lelang atau melalui katalog elektronik.

Pengadaan Larvasidasi Lambat, Diskes Meranti Panen Kasus DBD



Lambatnya proses pengadaan larvasidasi (bubuk Abate red) di Kepulauan Meranti berakibat fatal. Pasalnya, hingga saat ini ratusan korban Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjatuhan.

Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti melalui Kabid Penanggulangan Masalah Kesehatan Lingkungan (PMKL), dr Ria Sari, Minggu (4/9/2016) mengungkapkan per Agustus 2016 ini sudah terjadi 154 kasus DBD. Satu korban di antaranya meninggal dunia.

Kekurangan larvasidasi di Kepulauan Meranti ternyata sudah terjadi pada awal tahun 2016 lalu.

“Kami kewalahan untuk mencegah mewabahnya DBD di Meranti, karena kita kekurangan larvasidasi. Beberapa waktu lalu justru sempat kosong, untung saja Diskes Riau mengirimkan larvasidasi sebanyak 150 kilogram,” ujar Ria yang mengaku jika jumlah larvasidasi yang diberikan dari Diskes Provinsi Riau masih sangat kurang.
Sumber: http://pekanbaru.tribunnews.com/2016/09/04/pengadaan-larvasidasi-lambat-diskes-meranti-panen-kasus-dbd
=================
Demam berdarah dengue (DBD) menjadi penyakit yang paling mengancam di Kepulauan Meranti. Pasalnya Kepulauan Meranti menjadi endemis penyebaran DBD. Tahun ini saja satu orang sudah menjadi korban meninggal dunia. Sementara stok larvasida (bubuk/cairan) atau Abate untuk pembunuh jentik nyamuk di Dinas Kesehatan, sempat habis, sehingga pencegahan DBD tidak dapat dilakukan secara maksimal.

Kondisi itu diakui oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes), dr Irwan Suwandi melalui Kabid Penanggulangan Masalah Kesehatan Lingkungan (PMKL), dr Riasari, didampingi Kepala Seksi Pengendalian Pencegahan Penyakit (Kasi P2), Muhammad Fakhri, disebutkan saat ini Diskes Kepulauan Meranti tertolong dengan bantuan larvasida sebanyak 150 kilogram yang dikirimkan Diskes Riau.

“Memang sempat habis dan kosong. Tapi beruntung kita mendapatkan bantuan dari Diskes Riau sebanyak 150 kilogram larvasida,” terang dr Ria yang ditemui di ruang kerjanya pada Kamis (1/9) sore.

Menurutnya, Diskes Kepulauan Meranti mengusulkan sebanyak 3 ton larvasida, namun karena proses pengadaannya berjalan lambat, sehingga saat ini sebanyak 3 ton larvasida tersebut masih menjadi wacana saja. Sementara untuk mengatasi kebutuhan larvasida atau masyarakat menyebutnya abate tersebut sejak awal tahun, pihak Diskes berusaha berhemat untuk menggunakannya. Karena untuk memenuhi kebutuhan awal 2016 lalu, mengandalkan sisa stok pemakaian 2015 sekitar seratus kilogram. Namun, karena kebutuhan terus meningkat, maka sempat terjadi kekosongan stok larvasida.

“Karena terbatas, kami hanya membagikan sesuai kebutuhan dengan skala prioritas di masing-masing puskesmas saja. Makanya kita keteteran juga untuk memenuhi kebutuhan larvasida ini. Untuk Diskes Riau segera mengirimkan bantuan,” terangnya.

Saat ini yang menjadi prioritas untuk diberikan abate yakni Puskesmas Selatpanjang Kota, Kecamatan Tebingtinggi, Puskesmas Alah Air, Kecamatan Tebingtinggi, Puskesmas Alai, Kecamatan Tebingtinggi Barat, dan Puskesmas Anak Setatah, Kecamatan Rangsang Barat.

Wilayah empat puskesmas tersebut merupakan endemis atau daerah rawan penyebaran DBD.
“Empat daerah tersebut kasus DBD cukup tinggi. Makanya kami prioritaskan untuk disebarkan bubuk larvasida,” terang dr Ria.

Terkait pengadaan bubuk larvasida sebanyak 3 ton yang dilaksanakan oleh Pemkab Meranti pihak PMKL sudah mendorong Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) untuk segera mungkin diadakan. Sehingga dapat membantu memaksimalkan pencegahan penyebaran DBD di wilayah Kepulauan Meranti.

“Selain itu kami juga menginformasikan bahwa bubuk larvasida ini sangat penting untuk mencegah DBD. Baik kepada pimpinan, maupun kepad apihak DPRD, sehingga proses pengadaannya bisa segera dilakukan dalam rangka memaksimalkan pencegahan DBD di wilayah Kepulauan Meranti,” terangnya.

Ditambahkan Kasi P2, Muhammad Fakhri bahwa data penderita DBD di wilayah Kepulauan Meranti berdasarkan laporan seluruh puskesmas yakni, pada Januari sebanyak 35 kasus, Februari 36 kasus, Maret 22 kasus, April 3 kasus, Mei 8 kasus. Kemudian pada Juni terjadi sebanyak 14 kasus, Juli sebanyak 19 kasus, dan pada Agustus sebanyak 17 kasus.

“Total Kasus hingga kini sebanyak 154 kasus. Daerah paling banyak terdapat kasus DBD yakni di Puskesmas Selatpanjang sebanyak 40 kasus, Puskesmas Alai sebanyak 32 kasus, Puskesmas Anak Setatah sebanyak 29 kasus, Puskesmas Alah Air sebanyak 25 kasus, Puskesmas Kedabu rapat sebanyak 14 kasus. Sedangkan Puskesmas Pulau Merbau sebanyak 9 kasus, Puskesmas Tanjung Samak dan Puskesmas Teluk Belitung sama-sama terjadi dua kasus serta Puskesmas Bandul yang hanya tercatat 1 kasus selama 8 bulan di 2016 ini,” rincinya.

Menanggapi persoalan pengadaan bubuk larvasida yang terkesan terlambat tersebut, Kabid Yankes Ade Suhartian, Kamis (1/9) mengakui bahwa pengadaannya segera dilakukan. Sebab diinformasikannya sudah ada pemenang tender untuk pengadaan bubuk larvasida sebanyak 3 ton tersebut.

“Ini bukan kesalahan kita. Sebab proses tendernya ada di Unit Layanan Pengadaan (ULP). Tapi katanya sudah ada pemenang lelangnya. jadi kita tunggu saja pengadaan itu segera,” sebut Ade.

Sumber: http://www.riaupos.co/print.php?cat=3&id=126577

==================================================================================
Memerlukan Narasumber/Instruktur Training (Bimbingan Teknis) atau Konsultasi Pengadaan Barang/Jasa untuk Pemerintah berdasarkan Perpres 54 tahun 2010 atau Swasta berbasis Supply Chain Management & Essential Procurement, Silahkan hubungi wwww.heldi.net via HP. 081111-64-600- email: heldi_y@yahoo.com
Bagi para Supplier Barang/Jasa, Penyedia product yang ingin mempromosikan produk atau barang/jasa nya di Pojok Penyedia/Supplier, silahkan kirimkan email mengenai produk barang/jasa nya. ==================================================================================
Share
Punya cerita tentang kota Bogor dan sekitarnya, atau mau promosi usaha anda di kota Bogor, silahkan kontennya ke: heldi_y@yahoo.com , jangan ragu segera dikirm content-nya, ditunggu ya postingannya segera...

Komentar Anda... Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!