Menakar Kadar Kekafiran Seorang Koruptor
September 3, 2010 by heldi
Filed under PNS Kota Bogor, its me - Heldi

Sumber:REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–
Semua warga bangsa tahu belaka, korupsi di Indonesia merupakan semacam penyakit endemis yang sampai sekarang masih merajalela dan sulit tersembuhkan. Penyakit bangsa ini bahkan terlihat kian meruyak. Orang me nga takan, kalau zaman Orba dulu, korupsi terutama terjadi di pusat; kini dengan pene rapan otonomi daerah selama enam tahun terakhir, korupsi juga mengalami ‘desentralisasi’—meruyak ke daerah. Dengan begitu, korupsi kini ada di mana-mana, sejak dari tingkat pusat sampai ke daerah.
Jelas ada upaya untuk memerangi korupsi. Kejaksaan membuat target bagi penyelidikan dan pengadilan mereka yang (diduga) terlibat korupsi. Kepolisian juga seolah tidak mau kalah. Meski kedua lembaga ini mencapai hasil tertentu dalam usaha memerangi korupsi, masyarakat umumnya skeptis, karena terdapat oknum jaksa dan Polri yang juga (diduga) terlibat korupsi. Bahkan, tidak jarang kedua lembaga penegak hukum ini terlibat dalam konflik kepentingan melindungi bagian korps masing-masing. Dengan demikian, pemberantasan korupsi di dalam diri mereka sendiri tidak berjalan sebagaimana diharapkan publik.
Lalu, ada lagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang khusus dibentuk untuk memberantas korupsi. Tetapi, KPK yang semula memberikan cukup banyak harapan, kemudian dipandang kalangan tertentu sebagai ‘superbody’ yang selanjutnya melakukan upaya cukup ‘sistematis’ untuk melemahkan KPK, sehingga hanya dapat mengusut kasus korupsi kelas ‘teri’, tetapi mentok dalam membongkar kasus korupsi kelas superkakap,
semacam skandal Bank Century.
Agaknya, realitas pemberantasan korupsi semacam itulah yang membuat koruptor seolah tidak pernah kehilangan nyali dan cara untuk tetap melakukan berbagai bentuk korupsi. Meski jumlah mantan pejabat atau bahkan yang masih aktif sejak dari mantan menteri, gubernur, bupati/wali kota yang terlibat korupsi cukup signifikan, tetap belum ada tanda-tanda meyakinkan korupsi bakal berkurang di negeri ini; apalagi untuk lenyap sepenuhnya.
Berbagai pendekatan dan upaya pemberantasan korupsi kelihatan tidak ber hasil. Mulai dari penegakan hukum, ada nya KPK, perbaikan gaji, dan pemberian remunerasi tidak mampu mengurangi korupsi. Koruptor tetap saja meraja lela. Lalu, pendekatan dan cara apa lagi? Pendekatan teologis dan agama. Inilah salah satu pendekatan yang boleh jadi dapat membantu pemberantasan korupsi.
Dua organisasi Islam terbesar di negeri ini, Muhammadiyah dan NU mencoba melakukan pendekatan teologis ini de ngan melakukan telaahan dan rumusan fikih korupsi bekerja sama dengan Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (di Indonesia). Hasilnya adalah sebuah buku dengan judul yang bisa membuat orang tersentak: Korupsi itu Kafir (Bandung: Mizan, 2010).
Istilah ‘kafir’ secara konvensional lazim nya digunakan untuk menyebut mereka yang menolak dan mengingkari kebenaran Islam, baik di masa silam maupun seka rang. Istilah ini dalam kenyataannya ku rang berkenan bagi mereka yang tidak me nerima kebenaran Islam, tegasnya kaum non-Muslim. Bagi mereka, sebutan ‘kafir’ terhadap mereka dalam perasaan mereka bernada merendah kan. Apala gi kalau yang disebut ‘kafir’ itu adalah orang Muslim karena yang bersangkutan ternyata adalah koruptor.
Mengapa koruptor itu kafir? Banyak dalil Alquran dan hadis yang diajukan Muhammadiyah dan NU, yang kemudian melakukan pendekatan yang lazim dalam Ushul al-Fiqh, seperti qiyas dan mashalih al-mursalah. Intinya, koruptor itu kafir— termasuk yang beragama Islam—karena mereka mengabaikan larangan berbagai ajaran Islam tentang tidak bolehnya melakukan korupsi. Menurut kajian NU dan Muhammadiyah, secara fiqhiyah, korupsi dapat mengambil bentuk sejak dari ghulul (pencurian aset publik), hirabah (perampokan harta orang lain), risywah (suap), khiyanat (khianat), mu kabarah/ghasab (pemindahan aset secara tidak sah), sariqah (pencurian), intikhab (pengutilan aset), sampai aklu suht (memakan barang haram).
Dengan landasan fiqhiyah dan metodologi Ushul Fiqh yang cukup kuat, menyebut koruptor sebagai kafir menjadi valid. Menyebut koruptor sebagai ‘kafir’ bisa menimbulkan dampak psikologiskeagamaan tertentu. Apalagi, Muhammadiyah dan NU dalam kajian fikih nya juga menyimpulkan: jika ‘koruptor’ itu beragama Islam, yang ketika ia meninggal dunia kelak, jenazahnya tidak perlu dishalatkan para pimpinan agama seperti ustaz, kiai, atau ulama umumnya. Koruptor yang kafir itu pun disebut terjauh dari surga dan, sebaliknya, bakal tenggelam ke dalam neraka. Na’udzu billah min dzalik.
Red: irf
Sumber: Azyumardi Azra, cendekiawan Muslim
KRL Bogor – Jakarta
August 30, 2010 by heldi
Filed under Kota Bogor, its me - Heldi
Bagi para rekan-rekan yang bekerja di Jakarta yang setiap harinya harus berangkat kerja untuk mengejar sesuap nasi dan segenggam berlian di Ibukota tentunya tidak akan asing lagi salah satu moda transportasi ini. Dari pada menggunakan kendaraan baik pribadi atau umum yang sudah pasti terkena macet, lewat tol atau tidak pun pasti kena macet apalagi pada jam-jam sibuk. Mode transportasi yang menggunakan rel baja ini adalah salah satu alternatif yang banyak digunakan untuk mengejar waktu jam masuk kerja/sekolah atau keperluan lainnya di Jakarta.
Beberapa hari terakhir ini dalam rangka melaksanakan tugas, saya beberapa kali mencoba menggunakan alat transportasi yang terkenal dengan sebutan kereta KRL (Kereta Rel Listrik) Bogor Jakarta Kota, ternyata sebagai pemula yang sangat jarang menggunakan jasa anggkutan kereta/KRL apabila tidak membekali diri dengan beberapa pengetahuan tentang KRL ini maka akan mengalami kesulitan yang cukup membuat hati deg-deg-an ketika kita berada di dalam kereta.
Untuk itu pada postingan ini, saya mencoba untuk sharing tentang tips dan trik dalam menggunakan jasa kereta/KRL bagi warga kota Bogor yang ingin melakukan perjalanan ke Jakarta, terumata bagi yang jarang atau baru pertama kali menggunakan jasa transportasi ini.
Read more
Kerokan dan Masuk Angin
August 19, 2010 by heldi
Filed under its me - Heldi
Beberapa hari kemarin saya dengan istri sempat “berantem” gara-gara saya agak kesal kepada istri karena melihat anak sulung yang dipaksa oleh ibunya untuk dikerok. Saya kurang setuju bila anak kecil (7 tahun) sudah dikerik-kerok karena yang namanya dikerok itu pasti sakit nya minta ampun tuh, seperti di lecet-lecet-in kulit ini, begitu pula anak saya ketika di kerok dia berteriak-teriak kesakitan dan “merejel-merejel” karena manahan sakit.
Akhirnya saya mencari referensi di internet dengan kata kunci kerokan dan masuk angin, dari beberapa sumber diperoleh informasi bahwa memang kurang baik bila anak kecil diberi terapi kerokan, karena kulitnya masih tipis dan pembuluh darahnya juga masih kecil… jadi tolong yah ibu-ibu sekalian anak kecil jangan dikerok pakai koin
Kemudian harus hati-hati juga; tidak semua orang senang dikerok karena dikerok itu bisa menimbulkan rasa sakit/perih, dan kadar daya tahan menahan rasa sakit dari setiap orang itu berbeda beda, dan tentunya kadar daya tahan kesakitan dari anak kecil masih rendah, sehingga akan sangat menyakitkan bila anak kecil harus dikerok. Dampaknya bisa ke efek psikologis karena adanya pemaksaan pengerokan yang berakibat menyakitkan.
Kemudian dari beberapa artikel yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa proses pengerokan itu sebenarnya bukanlah proses pengeluaran angin melalui hasil kerokan, tetapi hanya sekedar stimulus kepada otak untuk mengeluarkan hormor-hormon yang dapat memerangi penyakit yang gejala-gejala awalnya sering disebut dengan masuk angin. Begitu katanya, untuk lebih lengkapnya berikut adalah kumpulan tulisan yang saya peroleh dati internet tentang masuk angin dan kerok mengerok
Istilah masuk angin, sebenarnya tidak berarti bahwa angin benar-benar masuk ke dalam tubuh. Sesungguhnya, tiupan angin menyebabkan suhu tubuh menurun. Karena bagian belakang terkena angin, temperatur tubuh turun. Lalu, muncul gejala masuk angin seperti pusing, meriang, atau pegal-pegal tadi.
Peristiwa ini berbeda dengan pengaruh hawa dingin yang mengenai seluruh tubuh, baik bagian belakang maupun depan. Jadi, saat suhu udara turun, temperatur seluruh badan ikut turun. Sementara, paparan angin umumnya cuma mengenai salah satu sisi badan sehingga bagian itu saja yang turun suhunya. Wajar kalau orang lantas menyebutnya masuk angin.
Masuk angin akut lebih mudah dikenali karena biasanya berujung pada gejala flu seperti bersin-bersin dan pilek. Bila masuk angin tidak disadari dan berlangsung terus-menerus, bisa menimbulkan rasa sakit kronis. Paling sering terjadi adalah nyeri leher dan pundak gara-gara AC.
Masuk angin juga bisa menyebabkan perut kembung karena di bagianbelakang tubuh terdapat titik-titik syaraf yang berhubungan dengan organ bagian dalam. Jika titik-titik itu kena rangsangan, organdalam ikut kena.
Kerokan merupakan salah satu usaha untuk menyeimbangkan suhu tubuh.
Guna menjelaskan pola keseimbangan itu, ada konsep dasar pengobatan Cina yang membagi tubuh jadi bagian tubuh panas (disebut yang) dan bagian tubuh dingin (yin).
Bagian yang meliputi kepala serta tubuh bagian belakang. Sementarayin terdapat pada tubuh bagian depan. Menurut konsep yin yang, orang terbilang sehat bila yin dan yang-nya dalam keadaan seimbang. Kalau tidak seimbang, akibatnya ya sakit. Yang terlalu tinggi, yin rendah, ya sakit juga.
Dalam hal masuk angin, penurunan suhu tubuh menyebabkan pembuluh darah di kulit tubuh bagian belakang mengalami penyempitan (konstriksi) . Pembuluh darah kulit yang mengalami konstriksi memberi reaksi dingin. Konstriksi itu merupakan efek kompensasi. Saat suhu tubuh bagian belakang menurun, otomatis pembuluh darah kulit berkonstriksi agar seluruh tubuh tidak dingin.
Konstriksi itu bisa mengakibatkan oksigenasi pada permukaan tubuh (terutama bagian belakang) jadi turun atau berkurang, sekujur badan terasa sakit. Selanjutnya, muncul gejala bersin. Nah, tindakan kerokan bisa mengubah suhu tubuh jadi seimbang kembali.
**
DASAR pengobatan tradisional bersumber pada penyeimbangan empat pola penyakit yakni kuat, lemah, panas, dan dingin. Prinsip penyembuhannya adalah mengembalikan energi tubuh ke posisi seimbang.
Kalau terlalu kuat dilemahan, yang lemah dikuatkan, kelewat panas didinginkan, terlalu dingin dipanaskan. Sehat itu adalah kondisi energi yang seimbang.
Demikian pula yang terjadi pada masuk angin. Guna menyembuhkannya, tubuh harus mengembalikan keseimbangan yang dan yin, salah satu caranya dengan menaikkan suhu lewat kerokan. Mengurangi yin, memang bisa jadi seimbang, namun tidak berada pada posisi normal.
Upaya peningkatan suhu di bagian belakang tubuh bisa berpedoman pada hukum Einstein (E=mC2). Energi atau panas dihasilkan dari gesekan dua benda. Kalau permukaan kulit dikerok, suhu tubuh pun akan meningkat. Panas yang cukup tinggi berefek melebarkan pembuluh darah dalam kulit. Otomatis, peredaran darah jadi lancar dan oksigenasi lebih baik sehingga rasa sakit di tubuh berkurang. Ujung-ujungnya, timbul pula reaksi otonomik (sistem parasimpatik) . Saraf otonom pada bagian belakang tubuh jadi seimbang.
Jadi, kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin dengan peningkatan panas, dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori kulit. Bagi masyarakat awam, memang kerokan sering dipahami sebagai cara “mengeluarkan angin”. Padahal, angin atau udara tak pernah keluar lewat pori-pori melainkan hanya bisa masuk atau keluar lewat organ pernapasan dan pencernaan.
Masuk angin gara-gara gempuran angin dingin AC tak perlu diobati. Cukup berpindah posisi atau mematikan AC, pegalnya akan sembuh.
Sedangkan masuk angin kronis tidak sekadar di bawah kulit, tapi sudah sampai ke dalam otot. Jadi, perlu pemanasan dalam sampai kedalaman 3-4 cm di bawah kulit, dan itu tak mungkin dicapai dengan kerokan.
Cara kerokan paling efektif adalah “menggarap” daerah belakang tubuh, kepala atau leher. Pola umum kerokan biasanya membentuk garis-garis lurus dari atas ke bawah dan miring di sisi kiri kanan ruas-ruang tulang belakang ataupun pada leher bagian belakang. Itu bukannya tanpa alasan. Pada tubuh kita terdapat sekira 360 titik akupunktur utama yang berhubungan dengan organ penting. Begitu pun pada tubuh bagian belakang, terdapat titik-titik yang berhubungan dengan organ dalam tubuh (organ viscera).
Dengan pola kerokan yang benar, yakni ditarik lurus ke bawah di sisi kiri kanan ruas tulang belakang, kemudian digeser condong ke arah kiri dan kanan, reaksi optimal dapat dicapai. Gosokan-gosokan itu
mungkin secara tidak sengaja menekan titik-titik akupunktur tertentu di tubuh bagian belakang.
Namun, perlu dipertimbangkan bahwa tiap orang memiliki kepekaan kulit dan daya tahan terhadap rasa sakit yang berbeda-beda, ada yang terbiasa dikerok sedikit, tapi tak jarang ada yang suka dikerok dalam-dalam sampai merah padam. Sebenarnya, tak ada aturan hasil kerokan harus sampai merah darah.
**
SAMPAI saat ini belum ditemukan efek samping kerokan. Yang jelas, cara ini bisa menimbulkan ketagihan. Kalau jaringan kulit dikerok, akan timbul reaksi jaringan. Bisa reaksi lokal, atau yang bersifat neural (saraf). Reaksi lokal terlihat langsung, misalnya warna merahnya kulit. Kerokan dengan intensitas kuat dan frekuensi rendah mengenai titik-titik saraf yang berhubungan dengan otak sehingga organ ini menyekresikan hormon endomorfin (B-endorfin, dinorfin, dan enkepalin).
B-endorfin menimbulkan rasa nyaman karena ia berfungsi mengendalikan rasa nyeri. Adanya zat-zat itu dalam darah menyebabkan penderita merasa lebih bugar. B-endorfin juga merangsang organ viscera, terutama paru-paru dan jantung, sehingga penderita bisa bernapas lebih lega, serta peredaran darahnya jadi lebih baik.
Kemungkinan, penyebab ketagihan pada kerokan adalah zat morfin (endorfin). Padahal, tujuan tubuh mengeluarkan zat morfin hanya untuk reaksi lokal. Karena kebiasaan, penderita pun jadi ketagihan.
Nah, masih ingin bertahan dengan cara tradisional ini? Kalau begitu, kerok saja!
Kerokan adalah sebuah terapi penyembuhan dengan metode menggaruk sembari menekan bagian tubuh terutama permukaan kulit menggunakan benda tumpul seperti uang logam.
Di Indonesia terutama dalam budaya Jawa, kerokan sudah lama dikenal. Tapi jangan salah, ternyata kerokan sudah ada sejak beratus-ratus tahun lalu dan bukan monopoli orang Jawa saja. Kerokan juga dikenal di Vietnam, Kamboja, hingga China.
Bagaimana cara kerja kerokan?
Untuk menyembuhkan masuk angin biasanya melakukan kerokan. Tujuannya agar anginnya keluar. Padahal penyebab penyakit seperti demam, pegal-pegal bukanlah angin yang masuk ke dalam tubuh. Melainkan karena infeksi suatu virus. Bagaimana sebenarnya cara kerja kerokan?
Sebetulnya proses terapi kerokan cukup sederhana, yakni membuat suatu reaksi inflamasi atau radang yang mengakibatkan melebarnya pembuluh darah. Nah, dengan dikerok, terjadilah pelebaran pembuluh darah yang akan melancarkan aliran darah. Jika aliran darah lancar maka lebih banyak oksigen dan nutrisi masuk untuk jaringan otot.
Kerokan menyebabkan rasa sakit dan luka
Jika dikerok begitu saja tanpa pelumas tentu menyebabkan rasa sakit di permukaan kulit bahkan hingga luka. Namun ini kan bisa diakali dengan memberi minyak atau pelumas sehingga rasa sakit berkurang. Lagipula jika diakukan dengan cara yang tepat, misalnya melewati titik akupunktur yamng merangsang saraf motorik. Kerokan tidaklah sakit seperti yang dibayangkan. Jangan kerokan di permukaan kulit yang luka atau iritasi, tindakan ini justru membuat infeksi permukaan kulit. Kerokan juga jangan dilakukan pada anak kecil karena kulitnya masih tipis dan lunak, selain itu pembuluh darahnya masih kecil.
Kerokan hanya ada di Indonesia
Fakta: Hal ini tidak benar. Kerokan merupakan suatu pengobatan alternatif yang dikenal sejak ratusan tahun lalu di negara-negara Asia. Masyarakat Vietnam menyebut pengobatan ini cao gio, di Kamboja dijuluki goh kyol (rubbing the wind), dan di China dikenal sebagai gua sua (menggunakan batu jade sebagai pengerok).
Kerokan dapat mengeluarkan angin dari dalam tubuh
Fakta: Istilah masuk angin bisa merupakan gejala awal common cold atau penyakit infeksi lainnya. Orang awam sering beranggapan angin tersebut harus dikeluarkan dari dalam tubuh, antara lain dengan kerokan. Hal ini tidak tepat karena memang bukan angin yang menyebabkan rasa tidak enak badan, demam, pegal-pegal, sakit kepala, atau batuk pilek.
Lalu bagaimana sebenarnya cara kerja kerokan ini? Pada proses kerokan, terjadi suatu reaksi inflamasi atau radang. Akibatnya terjadi pelebaran pembuluh darah dan pengeluaran mediator inflamasi. Aliran darah menjadi lancar jika dikerok atau dipijat sehingga lebih banyak oksigen
dan nutrisi yang tersedia untuk jaringan otot. Zat-zat yang menyebabkan rasa pegal dapat segera dibawa aliran darah untuk dibuang atau dinetralkan. Selain itu, juga terjadi rangsangan pada keratinosit dan endotel (lapisan paling dalam pembuluh darah) yang akan bereaksi dengan munculnya propiomelanokortin (POMC). Zat ini merupakan polipeptida yang kemudian akan dipecah dengan hasil akhir salah satunya adalah beta endorfin.
Pasca kerokan didapatkan peningkatan IL-1 beta, Clq, dan beta endorfin, sementara kadar C3 dan PGE2 justru turun. Penyebab rasa nyeri adalah PGE2 sehingga jika kadar PGE2 diturunkan maka nyeri akan berkurang. Hasil ini menyebabkan berkurangnya nyeri otot, badan terasa segar
dan nyaman. Inflamasi yang ditimbulkan selain meredakan nyeri otot juga akan memicu reaksi kardiovaskuler. Tandanya adalah peningkatan temperatur tubuh secara ringan, antara 0,5-1oC. Makanya setelah dikerok, badan kita terasa lebih
hangat.
Kerokan menyebabkan rasa nyeri dan iritasi kulit
Fakta: Kerokan yang dilakukan dengan benar tidak akan menyebabkan rasa sakit. Para ahli akupunktur berpendapat bahwa saat terjadi pemijatan, sebaiknya alat kerok melewati titik
akupunktur agar urat saraf motorik terangsang, sehingga pada akhirnya memperlancar sirkulasi darah. Cara kerokan yang dianjurkan adalah tegak lurus sejajar dengan tulang belakang menyamping, lalu sejajar dengan bahu. Alat kerokan biasanya menggunakan uang logam, koin, atau alat bantu khusus kerokan.
Alat-alat tersebut wajib tumpul supaya tidak melukai kulit. Lalu dibantu dengan minyak yang fungsinya selain menghangatkan juga untuk melicinkan proses kerokan, sehingga menghindari terjadinya kulit lecet. Cara mengerok juga tidak boleh terlalu keras karena akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan bisa melukai kulit.
Semua orang boleh melakukan kerokan
Fakta: Tidak sepenuhnya
benar karena terdapat beberapa kondisi di mana seseorang dianjurkan tidak melakukan kerokan, antara lain orang dengan kondisi kulit tidak sehat (misalnya eksim, kulit terbakar, jerawat, infeksi bakteri atau jamur). Kerokan pada daerah tersebut justru akan memperparah infeksi atau peradangan. Penderita diabetes mellitus juga sebaiknya menghindari kerokan. Alasannya, bila terjadi luka atau lecet, luka tersebut bisa menjadi sulit disembuhkan. Pasien yang mengkonsumsi antikoagulan atau memiliki gangguan pembekuan darah sebaiknya juga tidak melakukan kerokan. Pengerokan yang terlalu dalam dapat mengakibatkan perdarahan di bawah kulit. Kerokan juga sebaiknya tidak dilakukan pada anak kecil karena kulitnya masih tipis dan lunak, dan pembuluh darahnya lebih kecil.
Sehabis kerokan, dianjurkan untuk mandi
Fakta: Hal ini tidak dianjurkan. Sehabis kerokan sebaiknya tidak mandi karena pori-pori kulit dalam kondisi terbuka. Lebih baik seka dengan lap basah yang dicelupkan pada air hangat lalu diperas. Badan akan terasa lebih nyaman jika Anda minum sesuatu yang hangat, makan sup hangat,
dan memakai baju hangat/selimut.
Kerokan boleh-boleh saja dilakukan bila Anda merasa tidak enak badan, namun jangan terlena, jika gejala tak juga mereda sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
RPM 46 Song
July 29, 2010 by heldi
Filed under Fitness just for Health, its me - Heldi
For all RPM lovers, here is one of RPM 46, played in 2nd level ini RPM session.
Hope you enjoy it, and you can download it from this link:
http://liveyounglivewelllivenow.files.wordpress.com/2009/07/black-eyed-peas-i-gotta-feeling.mp3
BLACK EYED PEAS – I Got A Feeling
I got a feeling that tonight’s gonna be a good night
that tonight’s gonna be a good night
that tonight’s gonna be a good good night wooh hoo (x4)
Tonight’s the night night
Let’s live it up
I got my money
Let’s spend it up
go out and smash it
let go o’ my guard
Jump off that sofa
Let’s get get up
I know that we’ll have a ball
if we get down
and go out
and just lose it all
I feel stressed out
I wanna let it go
Lets go way out spaced out
and losing all control
Fill up my cup
Mazeltov
Look at her dancing
just take it off
Lets paint the town
We’ll shut it down
Let’s burn the roof
and then we’ll do it again
Let’s Do it and do it and do it 1
and do it and do it 2
and do it and do it and live it 3
up and do it, do it
4
do it, do it, and do it 5
and do it and do it and do it 6
and do it and do it and 7
i gotta feeling that tonight’s gonna be a good night
that tonight’s gonna be a good night
that tonight’s gonna be a good good night (x2)
Tonight’s the night
let’s live it up
I got my money
Lets spend it up
Go out and smash it (smash it)
Like Oh My God (like oh my god)
Jump off that sofa (cmon)
Lets kick it up
Fill up my cup (Drink)
Mazel tov!(le haim)
Look at her dancing (Move it Move it)
Just take it off
Lets paint the town (paint the town)
We’ll shut it down (shut it down)
Lets burn the roof
and then we’ll do it again
count to 7 and start singing again
Here we come
here we go
we gotta rock rock
rock rock rock
Easy come
easy go
now we on top
top top top top
Feel the shot
body rock
Rock it don’t stop stop
stop stop
Round and round
up and down
around the clock clock clock clock
Monday, Tuesday, Wednesday and Thursday
Friday, Saturday, Saturday to Sunday
we keep keep keep keep going up
we know what we say say
party everyday
p-p-p-party everyday
got a feeling (ooooooo ooooooo)
that tonights gonna be a good night
that tonights gonna be a good night
that tonights gonna be a good good night
(oooooooooooo ooooooooooo)
Kondisi Panitia Pengadaan Barang Jasa di Kota Bogor
July 16, 2010 by heldi
Filed under Kota Bogor, its me - Heldi
Pada beberapa minggu kemarin difasilitasi oleh bagian penyusunan program (eproc kota Bogor) saya menghadiri pertemuan dengan para panitia pengadaan untuk koordinasi dan evaluasi tentang kinerja dari para panitia pengadaan di kota Bogor. Dari sekitar seratus lebih panitia yang sudah bersertifikat ternyata hanya sebagian kecil saja yang hadir.
Ada beberapa panitia terutama dari DCKTR / Dinas Cipta Karya dan Tanpa Rokok
dan DBMP / Dinas Bebas Merokok dan Perokok
tidak dapat hadir dikarenakan sangat “Syuper Syibuk” melelangkan berpuluh-puluh atau mungkin bisa mencapai ratusan paket pekerjaan (halah lebay…) yang sedang berlangsung di OPD-nya, dimana di OPD tersebut memang terkenal banyak paket pekerjaan yang dilelangkan dari tahun ke tahunnya. Di satu sisi ternyata katanya panitia pegadaannya sangat terbatas, mungkin hanya 5 orang saja dalam satu OPD itu, sehingga untuk melelangkan berpuluh-puluh paket dalam waktu yang sempit akan sangat kewalahan, (nya enya atuh!!!), padahalkan panitia yang sudah bersertifikat di kota Bogor ini sudah seratusan lebih… kok masih bisa kurang yah?
Ohhh… katanya panitianya harus dari dinas sendiri saja…
Padahalkan keppres mengamanatkan panitia boleh dari dinas mana saja asal PNS dan sudah bersertifikat?
Ya itukan perintah dari Atasan…
Usulkan atuh?
Ya… saya sih oke-oke saja, tapi kan itu keinginan beliau…
Oke-oke saja => gimana amannya saja deh
nah ini dia budaya yang kurang maksimal yang harus dirubah….
Kemudian juga ada kasus pengadaan di Satpol PP, panitia pengadaan dari satpol PP mengeluhkan kurangnya panitia pengadaan yang bersertifikat yang dapat dijadikan sebagai panitia pengadaan, terutama panitia untuk jabatan ketua atau sekretaris atau panitia yang benar-benar bekerja bukan sekedar numpang nama saja. Meskipun di satpol PP sebenarnya tidak terlalu banyak paket pekerjaan yang harus dilelangkan, namun katanya dalam setiap tahun itu ada saja pekerjaan yang rutin harus dilelangkan.
Tetapi di satu sisi untuk saya pribadi yang berdinas di bappeda kota Bogor, saya setahun ini hanya menangani 1 paket pengadaan saja yaitu untuk pengadaan di seksi saya sendiri, padahal sertifikat saya sudah L-4 plus sertifikat TOT sebagai Instruktur Pengadaan Barang Jasa dari LKPP, berpengalaman pula hampir lebih dari 4 tahun baik sebagai anggota, sekretaris bahkan pernah menjadi ketua pengadaan. Katanya banyak yang kekurangan tenaga panitia pengadaan, tapi kok saya tidak pernah diundang jadi panitia lagi yah?
Kemudian ada kasus lainnya: banyak PNS yang telah lulus ujian sertifkasi pengadaan barang jasa di kota Bogor ini yang memang tidak mau menjadi panitia pengadaan, sehingga tidak pernah sekalipun menjadi panitia pengadaan, dana ada juga yang terpaksa menjadi panitia pengadaan tapi tidak bekerja sebagai panitia, jadi yang kerja mungkin hanya ketua panitianya saja, sedangkan anggota lainnya hanya sebagai penggembira saja, sehingga kalau nanti ada masalah maka tinggal menjawab dengan gampang saja, saya mah teuteurang nanaon, mung tandatangan sareng nampi hyonor hyungkul
Ada juga yang sudah lulus sertifikasi tapi terus menyembunyikan sertifikatnya dan tetap mengaku bahwa dia belum lulus sertifikasi, karena memang benar-benar tidak berminat menjadi panitia pengadaan.
Ada juga yang ikut ujian sertifikasi pengadaan tapi ikut ujiannya di daerah lain alias sembunyi-sembunyi, mungkin dia penasaran kepengin ikut atau mejajal kemamampuannya dalam penguasaan pengadaan barang/jasa tetapi takut diketahui teman-teman atau atasannya, sehingga setelah dia lulus dan mempunyai sertifikat pengadaan dia ada alasan untuk menolak untuk menjadi panitia, apalagi kalau pengadaannya cukup “rawan”, maklumlah jadi PNS itukan banyak takutnya, “cari aman saja…”
Kemudian ada juga pejabat yang saya yakin sebenarnya mampu untuk lulus sertifikasi pengadaan dan mampu menjadi panitia dan sebenarnya jabatannya sekarang menuntut dia untuk mempunyai sertifikat pengadaan barang jasa, namun “karena suatu hal dan hal lainnya” dia tidak mau lulus, sehingga kalau ikut ujian, jawabannya hanya diisi sebagian kecil saja katanya, dan itu juga diisi sembarangan saja. Padahal dalam tugas sehari-harinya menuntut dia untuk memilki sertifikasi pengadaan meskipun bukan sebagai panitia/PPK tapi dengan adanya sertifkat tersebut tentunya akan lebih legitimate terhadap jabatan dan pekerjaannya. Yah semacam di LKPP lah, meskipun tidak diwajibkan semuanya bersertifikat pengadaan, masa sih pegawai LKPP tidak mempunyai sertifikasi pengadaan, begitulah contohnya…
Dari cerita “ngalor-ngidul” di atas, sedikit banyak dapat terlihat bagaimana kondisi dari para PNS yang mempunyai sertifkat pengadaan barang/jasa yang tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kondisi pengadaan barang/jasa di kota Bogor tercinta ini.
Sangat beragam profil dari panitia pengadaan ini, ditambah dengan alasan-alasan umum yang menjadikan tugas sebagai panitia pengadaan ini kurang menarik seperti; honornya kecil tapi resikonya besar, banyak keinginan dari atas lah, kerjaannya banyak (kalau panitia ini benar2 bekerja, tentunya sebenarnya sangat banyak pekerjaan dalam melelangkan suatu barang/jasa yang dibutuhkan), dsb.
Disatu sisi sebenarnya ada juga yang sebenarnya menikmati jadi panitia pengadaan ini dan tentunya dengan beragam motivasi, “salah satunya” seperti saya mungkin karena memang sudah “terlahir melalui penunjukan langsung” oleh ibu saya sebagai pejabat pengadaan-nya dan bapak saya sebagai PPK-nya
tentunya memang sudah kadung cinta dengan materi pengadaan barang/jasa ini, yah seperti mengajarlah… ada istilah “when teaching is calling” jadi yah memang seberat apapun pekerjaan dan resiko dan sekecil apapun honornya, deep in my heart tetap saja sebenarnya saya ini sudah kadung cinta dengan masalah pengadaan barang jasa ini, ini merupakan cinta ke tiga saya setelah; komputer/internet/SIG/SIM dan dunia pendidikan/mengajar. Bahkan sekarang ini saya sedang menikmati cinta segitiga dengan “mereka”, sekarang ini saya diberi kesempatan untuk “Mengajar tentang Pengadaan Barang Jasa baik dari swasta atau LKPP” dan juga sedang “Melelangkan Pekerjaan Tentang Komputer (Sist Informasi/Internet)”. Cinta Segitiga ini lebih nikmat dan halal dari threesome nya Ariel-Luna-Cut Tari… halah ngelantur deh
Kemudian “salah duanya”ada juga yang memang menikmati dunia pengadaan barang jasa ini karena memang banyak setoran di luar honornya ah… off the record ini mah
ditambah juga yaitu “salah tiganya” ada yang menikmati setoran dari luar tapi bukan sebagai panitia pengadaan,. yaitu itu dia yang menitip-nitipkan proyek yang menyuruh mengatur-ngatur pemenang dan biasanya pastilah jabatan strukturalnya lebih tinggi dari para panitianya
Nah dari “ngalor-ngidul” di atas dapat dilihat beberapa ragam kondisi dari panitia pengadaan (PNS yang bersertifkat Pengadaan Barang/Jasa) yang ada, tentunya treatment untuk pengaturan para panitia ini tidak bisa hanya sekedar membuat pokja-pokja dengan membagi-bagi para panitia dalam 3 kategori yaitu, pokja untuk pemborongan/konstruksi, konsultan, barang/jasa lainnya, tetapi harus lebih banyak lagi treatment yang dapat mengatur dan meningkatkan kemampuan dan tentunya motivasi para pns bersertifikat ini agar dapat bekerja dengan baik dan benar sebagai panitia pengadaan.
Contohnya mungkin dengan memberikan bintek/seminar tentang materi-materi pendalaman dalam pengadaan barang jasa (PBJ) seperti materi pembuatan HPS (yang sekarang ini banyak asal-asalan), pembuatan legal drafting/kontrak, pembuatan dokumen, evaluasi penawaran, TKDN, dsb. Kemudian juga pemberian sosialisasi yang lebih mendalam kepada para pengguna anggara tentang PBJ, agar para pengguna anggaran atau KPA-nya seperti kepala dinas/skpd atau kepala bidang dapat mengerti alur dan hal-hal yang harus diperhatikan dalam PBJ, seperti bagaimana caranya agar lelang dapat dilaksanakan pada awal-awal tahun (jangan menunggu anggaran cair saja…) dan tentunya ini terkait dengan urusan pendanaan untuk operasional lelang, mengerti bagaimana menunjuk panitia dan tentunya mengerti bagaimana kondisi panitia, kalau sekarang coba lihat, siapa yang menentukan penyusunan panitia? memang susunan panitia ditetapkan dan ditandatangan oleh Pengguna Anggaran, tapi apakah PA/KPA mengenal dan mengetahui bagaimana kondisi dari susunan kepanitian yang ada?
Kemudian juga masalah e-procurement… wah bakalan panjang kalau membahas masalah ini, nanti di postingan baru saja deh membahas eproc mah
Yang jelas dari cerita ngalor-ngidul sambil ngopi seperti di atas tadilah kondisi yang ada sekarang, tinggal bagaimana sekarang kembali ke pribadi masing-masing, apakah masih ada keinginan untuk meningkatkan kualitas dari pengadaan barang-jasa yang ada di kota Bogor ini?! kemudian apakah masih ada keberanian untuk melakukan perubahan untuk perbaikan?! Jawabnya ada di dalam hati dan “anu” masing-masing
Selamat Bekerja dan Salam Pengadaan dari Bogor
Hati-hati memilih pemborong untuk membangun rumah
June 10, 2010 by heldi
Filed under its me - Heldi
Pada hari Senin kemarin tanggal 7 Juni 2010, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke rumah baru di daerah Bubulak dekat terminal Bubulak atau alamat persisnya di Kp. Pilar II Gg. Pesantren no 5 Rt. 04 RW 01. Kelurahan Bubulak Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor. Meskipun rumah baru ini belum diselesaikan dan masih jauh dari sempurna oleh pemborongnya tetapi karena kontrakan sudah seminggu habis masa berlakunya, “dipaksakeun wae, atuda kumaha.. wayahna we…”
Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan sedalam-dalamnya; semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlebih kepada teman-teman yang sudah membantu memberikan tenaga dan perhatiannya pada saat saya pindahan, nuhun Ho, Bar, yang sudah menemani saya bolak-balik sampai gempor 7 rit SBJ -gg pesantren bolak balik dari pagi sampai malam, pak Aja hatur nuhun dan selamat atas kelahiran putra ke-4 (atos atuh ulah nambih deui ahh…), makasih om Fer dan om Her yang sudah “nyetir” truk engkel, buat bawa barang-barang yang besarnya, juga untuk bos binamarga yang sudah berkenan meminjamkan truknya, tapiiii… kok datengnya cuman satu truk, padahalkan saya pesan 10 kendaraan (3 dump truk, 3, engkel, 2 hulux, 1 Crain dan 1 Rolling) hehehehe…. Terima kasih… Hatur nuhun pisan… semoga Allah memberikan kemudahan dalam segala urusan.. amien….
Hati ini sebenarnya sangat berbahagia sekali karena alhamdulilah akhirnya bisa juga punya rumah sendiri, dan meskipun pemborongnya “kabur” tapi sebenarnya hati ini tetap senang karena Over all kualitas rumah ini masih jauh lebih baik daripada membeli rumah di perumahan, mulai dari kualitas struktur, kusen, luas tanah, dsb.
Akhirnya pekerjaan-pekerjaan yang belum diselesaikan oleh pemborong yang bergelar bangsawan TB. (TeuBagus => karena pekerjaan tidak bagus
) ini satu-persatu sudah mulai terselesaikan, mulai dari pagar depan, tembok yang sudah di pagari dan pintu besinya sudah datang/jadi, tinggal dipasang saja. Kemudian yang bocor juga sudah di no-drop lagi, lumayan berkurang jauh, meskipun masih ada sedikit “tampias” di kamar depan. Paralon-paralon dan kran yang bocor juga sebagian besar sudah diganti, tinggal di bagian belakang saja yang baru ketahuan hari ini bocornya
Hati ini sebenarnya tidak marah, mungkin hanya kecewa dan sedih saja, sedih karena kok punya teman seperti dan sedih juga kasihan karena pasti yang rugi adalah pemborongnya sendiri, kalau saya sih yakin Insya Allah kalau saya bisa lulus dari ujian ini, pastilah Allah akan memberikan yang lebih besar dari yang diambil oleh pemborong ini, kok kenapa tidak dibicarakan saja gituloh apa masalahnya, kok langsung menghilang saja. Kasihan kan yang rugi pasti dia sendiri, memberi rejeki dgn rejeki yang tidak jelas untuk anak istrinya, belum nama baik dan kepercayaan pastinya menurun drastis. Setelah beberapa kali handphonenya off line dan beberapa kali jalir janji dalam penyelesaian pekerjaan, komunikasi terakhir yang dilakukan adalah pada hari senin ketika saya pindahan via sms yang isi seperti berikut ini:
nama pemborongnya saya beri inisial saja yaitu TB.E, tapi pemborong atau orang-orang yang berkecimpung di dunia konstruksi di Bogor pasti taulah siapa orangnya, pemborong yang tinggal di perumahan GM Bogor yang berinisial TB.E yang mempunyai saudara dan saudari serta orang tua yang berkecimpung di dunia konstruksi juga baik di pemerintahan atau swasta, yang biasanya memakai bendera CV. V
saya: Pa TB.E kumaha damang? punten kumaha ieu penyelesaian bumi teh, aya naon atuh masalahna, hayu atuh urang dibadamikeun, ngarah sami2 raos. Iraha atuhnya tiasa pendak?
(Pa TB.E gimana sehat? maaf bagaimana tentang penyelesaian rumah, ada apa masalahnya, ayo kita bicarakan biar sama enak. Kapan bisa ketemu)
Jawab TB.E: Muhun abdi pa abdi hoyong pendak kin dinten rabunya pa, ayeuna abdi rada kirang sehat, punten sate acana jd jie hapunten (ini sms kata2 aslinya loh…)
(Iya saya juga ingin ketemu, nanti hari rabu yah pak, sekarang saya sedang kurang sehat, mohon maaf sebelumnya jadi begini, maaf)
Saya: Muhun diantos sing enggal sehat lahir batin, abdi dinten ayeuna ngalih, htr nuhun
(Iya saya tunggu, semoga lekas sembuh lahir dan batin, saya hari ini pindahan, terima kasih)
Dalam sms ini saya tidak mengatakan menerima permintaan maafnya, karena menurut Aagym sih kalau kita merasa bersalah dan mau minta maaf itu ada 3 (tiga) langkah yang harus dilakukan yaitu:
1. Ada pernyataan meminta maaf, 2. Menjelaskan alasannya kenapa bisa bersalah, 3. Membuat komitmen dan kompensasi serta benjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang salahnya.
contoh: saya terlambat datang mengajar ke kelas, maka saya akan meminta maaf kepada murid-murid saya; “saya minta maaf karena terlambat”, kemudian saya jelaskan kenapa saya terlambat’ “saya hari ini terlambat karena tadi malam saya baru pindahan rumah sehingga kecapaian dan bangun kesiangan”, terus membuat kompensasi dan komitmen; “baiklah sebagai kompensasi dari keterlambatan saya maka saya akan memberikan ulangan harian… aya coba keluarkan kertas selembar dan simpan semua buku dan tas di depan” hehehe… yaahhh mungkin kompensasi yang membuat anak-anak senanglah tergantung situasi dan kondisinya, kalau pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya sudah lumayan banyak, maka kompensasinya adalah; “kalau begitu kita pelajaran bebas saja hari ini” atau kalau materi pelajaran masih kurang maka bisa saja kita memberikan pelajaran/jam tambahan di hari lain… kemudian komitmen; “okelah saya berjanji tidak akan telat lagi, toh tidak mungkin pindahan setiap bulan atau setiap minggu
”
eh kok malah melancur ke acara mengajar nih
oke kembali ke laptop, nah itukan sms di hari senin, besoknya hari selasa ada kejadian yang sedikit membuat kesal/marah saya, yaitu ada anak buahnya pak TB.E ini (namanya berinisial I) yang masuk ke bedeng belakang rumah dan kemudian karena kunci bedengnya sudah saya ganti, dia masuk melalui atap bedengnya… yah seperti maling saja itu. Padahal di depan itu ada orang tua saya, tidak ijin, tidak salam atau bagaimanalah sesuai dengan tata rama dan kesopanan, main slonong saja ambil barang di bedeng lewat atap. Bukan masalah barangnya yang diambil tapi yang tidak sopan kepada orang tua saya itulah yang membuat saya sedikit marah, orang tidak sopan ke saya pribadi mungkin masih bisa cu-x sajahlah… tapi kalau ada orang yang tidak sopan kepada orang tua saya… maaf-maaf saja yah, itu orang tua saya yang akan saya bela kehormatannya meskipun harus bersimbah darah! atau harus sampai mati pun akan saya bela kehormatan orang tua saya!
kemudian kalau dilihat barang2nya; yang diambil ternyata adalah sedikit (yah paling seperempat karung juga tidak) pasir dan alat2 kecil lainnya yang harganya tidak seberapa… haduh masa sih tidak bisa beli barang seperempat karung pasir dan sedikit alat-alat untuk bekerja, sampai2 harus “menerobos” seperti maling ke rumah orang
okelah itu bedeng yang dulunya dia bekerja, tapi kan sekarang sudah ada penghuni yaitu pemilik rumah … mbok ya ada kesopanan sedikit donk… minta ijin dulu kek… pasir yang tidak seberapa meskipun itu seharusnya menjadi milik saya (karena diangap barang/bahan habis pakai, termasuk juga alat2 lain spt cangkul, garpu, kuas, dsb), kalau minta ijin dulu saya kasihlah, kata si I itu sih, pasirnya soalnya kemarin dipinjam dari proyek BNR dan sekarang mau diambil lagi, dipinjam??? saya kan sudah bayar lunas bro… kenapa harus pinjam, meminjam???
Akhirnya dari kejadian itu langsung saya telepon beliau, dan ternyata kembali seperti minggu kemarin-kemarin, hp nya tidak diangkat-angkat. akhirnya saya sms saja yang isinya seperti ini:
“Pak E mhn anak buahnya (IW) diajarkan kesopanan kok masuk ke rumah sy tdk ijin atau sama dl, bukan masalah barangnya tp hidup itu ada tata rama pak! htr nuhun”
ditunggu-tunggu; tidak ada balasan juga, dan akhirnya janji hari rabu untuk ketemu pun tidak ada kabarnya sama sekali
Dalam tulisan ini saya ingin berbagi kebahagian saya bisa menempati rumah baru dan mungkin curhat atas kekecewaan kepada pemborongnya yang tidak bertanggung jawab dalam penyelesaian pekerjaannya. Dengan tanpa mengurangi rasa gembira dan bersyukur, berikut adalah beberapa kekurangan dari pemborong rumah tersebut adalah:
Pekerjaan Utama (Major Item) yang Tidak Selesai
Beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan, yaitu antara lain:
- Pagar Luar; Pagar Luar hanya dibuat temboknya saja, sedangkan pintu besi dan pagar di bolong-bolongnya belum diselesaikan.
- Pagar Dalam; Selain pagar luar, sudah disepakati adanya pagar di bagian dalam, yaitu di tengah-tengah garasi yang menuju ke bagian belakang rumah, meskipun ditawar oleh pemborong hanya temboknya saja (tanpa pintu besinya) dan okelah disetujui oleh saya, tapi ternyata boro-boro ada temboknya, kosong melompong dan timbunan saja yang ada.
- WC Luar; selain WC dalam, dijanjikan juga adanya WC di bagian luar belakang rumah, tetapi yang terbangun ternyata hanya setengah temboknya saja dari satu dinding sekitar 1 x 1,5 m sajah,
- Sumur Air, dijanjikan adanya sumur untuk alternatif selain PAM (tetapi PAM tidak termasuk ke dalam kontrak dan sudah saya pasang sendiri), Memang sumurnya sidah digali, tetapi kedalamannya masih kurang dan ditinggalkan dalam kondisi terbuka, belum dipondasi atau ditutup dan karena kedalamannya masih kurang maka kalau tidak ada hujan maka air tidak ada, padahal ditetangga sebelah tidak bermasalah dengan sumurnya, sebenarnya paling tinggal hanya 2 atau 3 meter digali lagi dari kedalaman sekarang (7 meter), maka air pasti akan konstan.
- Pompa air dan Torn (Penampungannya), sebenarnya pompa dan penampungan air barangnya sudah tersedia warisan dari teman saya yang baik hati, namun entah kenapa kok tidak dipasang-pasang barangnya, prasangka buruknya sih, jangan-jangan barangnya sudah dilego tuh oleh pemborong bermasalah ini, tinggal masang kok susah amir sih…
- Kolam Ikan, anak saya sudah mencita-citakan bahwa di rumah barunya dia ingin ada kolam ikan, akhirnya saya mencoba bernegosiasi dengan pemborong kacau balau ini, dan akhirnya mereka menyetujui untuk membuat kolam ikan yang super sederhana, saya bilang cukuplah dari kramik sisa/bekas, dan ukurannya kecil saja, dan seni atau modelnya juga asal sajalah, yang penting keinginan anak saya terpenuhi, sampai terakhir boro-boro kolam ikan, yang ada kolam air di halaman belakang akibat paralon yang bocor
Nah itulah beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan oleh pemborong yang bermasalah ini.
Penyelesaian Pekerjaa ASAL JADI
Kemudian berikut adalah pekerjaan yang bisa dianggap sudah diselesaikan tetapi penyelesaiannya kalau kata tetangga baru sayah mah; ini ngerjainnnya “asal jadi”
- Kunci Rumah; kayanya dibandingkan dengan kost-kost-an saja kualitasnya masih di bawah deh, dan ternyata belum selesai dan belum ditempati juga handle pintu belakang sudah patah lagi, trus diganti… eh diganti masih dengan kualitas yang sama, kemudian ditempati pintu depan macet, akhirnya saya jebol deh, sampai sekarang belum ada kuncinya lagi tuh… cape deh.. cape deh… cape deh…
- Keramik WC; warnanya tidak sesuai pesanan, kemudian ini baru kecurigaan saja sih, ini baru atau bekas yah? soalnya masa sih keramik baru sudah ada yang retak-retak di pinggirnya. WC duduk kok tidak ada jeglongan (siraman)-nya ohh…. siram manual
kemudian istri saya minta dibuatkan sedikit semacam bangku kecil untuk duduk anak saya atau mertua saya yang agak sakit-sakitan duduk, eh… lupa deh… dan juga minta dibuat semacam bolongan untuk menyimpan sabun, dibuatkan sih tapi ukuran dan bentuknya itu loh.. seperti di WC terminal saja, oh iyah… kran airnya juga, baru pindah hari senin, besoknya selasa sudah dollll alias copot putarannya itu dan pipa paralon ledengnya juga sudah bocor… ketrig deui… okelah kalau beg beg beg…
- Genteng/Atap; kayanya ini genteng bekas yang pak? masa sih genteng baru warnanya kusam begituh dan ada yang potong-potong ujungnya, katanya sih ini model baru “minimalis” seperti di BNR, padahal itu bekas dari BNR kayanya
, kiri kanan dan depan belakang masih bocor-bocor lagi.. gampang tinggal di no drop aja… tapi kapan? yang ada no action and no money padahal saya sudah bayar lunas semua biaya pembangunan ke pemborong omdo ini
oh iyah tambahan satu komplian, saya pesan untuk menambah sirkulasi udara, ditambahkan lubang udara di antara atap dengan dinding atas… tapi… tutup sekalian dengan plafon
- Cat Rumah; pesanannya sih untuk di dalam di cat warna putih dan warna mendekati kuning untuk di kamar anak, kemudian abu muda dan tua untuk luar, jadinya => putih dan sedikit krem di dalam, jadi kaya rumah sakit aja deh eh gedung putih aja deh, yaaa sudaaaahhhh
- Plafon; dipasang tanpa lis atau pembatas ke dindingnya, yaaaa namanya juga minimalis
tapi kata teman saya sih…. masa sih plafon tidak pakai lis? jawabnya; ya kan minimalis… halah… cape deh cape deh cape deh…
- Paralon Saluran Air bersih dan kotor; kualitasnya benar-benar paling rendah, padahal beda harganya dengan yang kualitas sedang hanya beberapa ribu saja (rp. 3000), kalau yang merk vertu rp. 9000/batang, kalau yang merk wavin rp. 12.000,- cuman beda 3000 sajah per batangnya, padahal instalasi air bersih di rumah itu paling hanya butuh tidak lebih dari 4 batang. Bener-bener kaya raya dan hebat nih pemborong… merk Vertu kan mahal, bisa sampai puluhan juta tuh satunya…. eh itumah VIrtu-V merk handphone yah
ya gitu deh… akhirnya instalasinya pada bocor, akhirnya ganti semua dengan biaya sendiri… yayayayaaa… baiklah spongebob…
Kerugian Materil dan Non-Materil
Dengan banyaknya pekerjaan yang belum selesai tersebut berdampak lumayan juga sih kepada keluarga saya ini, bahkan sampai-sampai bapak saya dari Cianjur turun tangan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah ini, berikut adalah kerugian baik meterial atau non material
- Yang jelas saya harus keluar biaya lagi untuk menyelesaikan dan memperbaiki rumah ini, beli bahan dan bayar tukang tentunya. Ini adalah kerugian material, tapi alhamdullilah masih ada teman yang baik hati yang mau meminjamkan sedikit rejekinya untuk dihutangkan untuk dipakai belanja bahan dan tukang, hatur nuhun pak… semoga Allah SWT membalas kebaikannya dengan balasan yang berlebih… dan semoga saya bisa cepat-cepat memperoleh rejeki yang halal untuk segera membayarnya… amien…
- Setiap malam akhirnya saya harus bergadang dan membangun “benteng takeshi” di belakang rumah dengan kunci gembok berlapis-lapis untuk mengamankan 2 sepeda motor dan 3 sepeda goes, plus mobil harus di parkir “malang”/melintang untuk menghalangi orang masuk ke halaman belakang, hati ini tidak bisa tenang karena pagar depan belum ada. Benteng takeshi maksudnya; Pot-pot bunga dan bekas-bekas steger dijejerin untuk menghalangi motor, plus botol aqua galon disimpan di atasnya yang berfungsi sebagai alarm manual, rantai besar di beri gembok besar untuk mengunci sepeda, motor di kunci doubel dan diberi kunci panjang untuk mengunci keduanya, mobil selain kunci setang diberi rantai juga… jadi sekitar 8 kunci harus saya buka dan tutup tiap hari, belum kalau jalan tanahnya masih nempel-nempel lagi karena belum di floor/semen.
- Anak akhirnya diungsikan selama seminggu ini ke rumah mertua di jakarta, karena sumur di belakang belum ditutup, kalau ada anak wah…. bisa bahaya tuh. Akhirnya sekolahnya diliburkan sajaaahhhh…
- Bapak saya yang mantan Camat, akhirnya harus menjadi mandor yang mengawasi dan memberikan instruksi untuk menyelesaikan pekerjaan ini… saya sih sudah melarangnya dan menyuruhnya untuk pulang saja ke Cianjur, tapi mungkin karena sayangnya kepada anaknya akhirnya Bapak saya tinggal di rumah baru ini selama seminggu ini… ya Allah ampuni hamba Mu ini yang belum bisa membalas jasa orang tua… malah masih saja merepotkan mereka… ya Allah… sayangi mereka dan ringankan beban mereka di dunia dan akhirat yaaaa Allah…
Okelah mungkin dicukupkan dulu curhatnya sampai disini dahulu… sudah jam 12 malam lebih, sudah ngantuk nih.. tapi tetap harus jaga malam, karena sampai hari ini ternyata pintu pagarnya belum terpasang sempurna
Besoklah sambil ngeronda lagi dilanjut lagi curhat, saya belum cerita tentang oblrolan di toko matrial dengan seorang pengurus mesjid di perumahan GM yang mana pemborong ini juga yang ikut berperan dalam pembangunannya, plus ada satu warga perumahan GM juga yang memborongkan pekerjaannya kepada pak TB.E ini yang mengalami masalah juga, trus tiba-tiba ada tagihan dari warung ujung jalan yang meminta tagihan kopi waktu awal-awal pembangunan, yang katanya atas nama saya “heldi” padahal kan waktu itu saya belum terlalu aktif di lokasi pembangunan ini, kok bisa ada tagihan kopi?? dan atas nama saya lagi, kan pada awal-awal itu yang mengcover semua hal logistik adalah mandornya yaitu bapak AS atau langsung pemborong aja, kok tiba-tiba ada tagihan yang belum lunas atas nama saya??? Belum cerita bekas anak buahnya yang upah bayarannya belum dibayar lunas… ah sudah ah… jadi cerita lagi nih… mau bikin kopi dulu deh…
tapi intinya melalui curhat ini mudah-mudah ada solusi yang bisa membuat semua pihak merasa “enak” jangan “cul leos” seperti ini, kalau dulu minta tagihan wahhh begitu bersemangatnya… sekarang sudah dilunasi… kamana wae yeuh???
Pilihan untuk mempunyai Rumah Sendiri
May 25, 2010 by heldi
Filed under its me - Heldi
“Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Beratap jerami, beralaskan tanah
Namun semua ini punya kita
Memang semua ini punya kita, sendiriLebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita”
Lagu dari God Bless ini adalah lagu motivasi saya untuk dapat segera memiliki rumah sendiri. Sekarangpun mendengarkan lagu ini sambil menulis konten ini, masih merinding dan berkaca-kaca mata ini sangking meresap dan menyalirnya motivasi dari lagu ini ke dalam badan, daging, tulang dan setiap tetes darah ini dalam tubuh ini… jadi lebay deh
Dan akhirnya setelah di “appirmasi” selama beberapa tahun ini, maka pada awal tahun 2010 inilah rencana atau keinginan untuk memiliki rumah sendiri baru dapat direalisasikan. Maklumlah kerja sebagai PNS; perlu waktu beberapa tahun nih untuk mengumpulkan rejeki yang “halal” untuk modalnya
Dalam posting ini saya mencoba untuk sharing kepada teman-teman yang mungkin masih kebingungan dalam menentukan pilihan untuk memiliki rumah sendiri.
Ada beberapa pilihan yang bisa diambil untuk memiliki rumah sendiri, tentunya di luar pilihan rumah warisan, pemberian orang tua atau mertua, dikasih oleh pemborong, atau pilihan-pilihan lainnya yang tidak mungkin saya pilih karena memang tidak punya kemampuan untuk hal tersebut. Beberapa pilihan yang ada pada waktu itu adalah:
1. Mengambil kavling dari Developer atau perumahan
2. Membangun rumah sendiri; pilihan ini juga dapat di break down menjadi beberapa pilihan, yaitu:
a. diborongkan secara keluruhan kepada seorang pemborong, sehingga kita tinggal terima kunci rumah saja.
b. bahan dari kita dengan upah buruh harian, atau
c. bahan dari kita dengan upah borongan.
Pilihan pertama untuk membeli rumah di perumahan hampir diambil setelah saya dan istri mensurvey beberapa lokasi perumahan di kota Bogor ini, dari informasi beberapa teman juga melihat iklan di pinggir jalan dengan beragam banner dari developer yang seringkali hanya sekedar menarik dan mengundang kita untuk mengunjungi kantor pemasaran mereka, padahal setelah diminta informasi lebih lengkap dan rinci sih, mana ada rumah yang harganya hanya 50 juta-an, mana ada kalau kita beli rumah terus dapat mobil, motor, bisa liburan ke luar negeri, mana ada cicilan rumah yang bunganya kecil, semuanya pasti ada standarnyalah, apalagi dengan situasi ekonomi sekarang ini, yang meskipun katanya ekonomi kita sudah membaik, tetap saja segala sesuatu harnya terus naik dan mahal.
Bahkan tahun lalu saya sempat sudah membayar DP untuk rumah dari satu developer perumahan di wilayah Bogor Timur, namun karena pelayanan marketing dan developer nya kurang maksimal akhirnya dibatalkan meskipun dengan resiko pengembalian DP nya dipotong biaya adm
. Pada awal tahun 2010 juga hampir saya melakukan akad kredit untuk mengambil rumah di salah satu perumahan baru di wilayah laladon. Namun akhirnya pilihan pertama untuk mengambil rumah di developer tidak jadi saya ambil dengan beberapa pertimbangan antara lain:
- Kualitas dari bahan di sebagian besar perumahan yang kami survey nampaknya masih kurang maksimal, dapat dilihat dari kualitas kusen, kramik, ada juga rumah baru tapi sudah bocor-bocor, dsb.
- Resiko kita dengan mengambil cicilan untuk rumah di perumahan adalah tentunya adanya bunga yang membuat harga total dari rumah, menjadi dua kali lipat atau bahkan lebih dari harga aslinya/asalnya.
Akhir dengan pertimbangan itu saya memutuskan untuk membangun rumah sendiri dengan pertimbangan paling prinsip adalah;
saya membeli tanah seluas 270 m2, yang berlokasi di pinggiran kota Bogor (perbatasan dengan kabupaten Bogor, tapi yang paling penting adalah masih KOTA BOGOR) sehingga harganyapun tidak terlalu mahal, hanya dengan Rp. 70 juta-an saya bisa memperoleh lahan seluas 270 m2 dengan akses yang relatif masih dekat ke pusat kota Bogor (wilayah bubulak bogor barat), kemudian saya mencoba menghitung dengan harga satuan standar (kualitas menengah) untuk membangun bangunan adalah Rp. 1,5 juta per meter persegi, maka kalau saya membangun rumah dengan luas kurang lebih 50 m2, maka harnya sekitar 75 juta an, sehingga total bangunan dengan tanah adalah rp. 150 juta.
Saya coba bandingkan dengan harga-harga rumah di perumahan dari brosur-bosur hasil survey, ternyata dengan nilai rp. 150 juta sebagian besar hanya bisa memperoleh rumah type 21 atau 36 yang setelah dilihat langsung kualitasnya ternyata masih dibawah standar menengah dari sebuah rumah hunian. Tanahnya pun hanya lebih sedikit dari bangunannya, paling hanya memperoleh 60 atau 80 m2. Memang sih katanya dengan kita mengambil rumah di perumahan, maka kita juga membeli fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos fasum) nya juga, namun pada akhirnya dengan pertimbangan itulah maka pada tahun ini saya mengambil keputusan untuk membangun rumah sendiri bukan membeli atau menyicil/kredit dari perumahan. Karena dari perhitungan sederhana di atas, dengan uang rp. 150 juta dengan membangun rumah sendiri saya bisa memperoleh tanah yang relatif luas dan bangunan sekita 50 m2 (yang akhirnya sekarang terbangun sekitar 60 m2) dengan kualitas masih lebih baik dari rumah-rumah perumahan. Namun tentunya masing-masing pribadi mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri sesuai dengan latar belakang dan kemampuannya masing-masing.
Nah selanjutnya setelah memutuskan untuk membangun rumah sendiri, munculah beberapa pilahan, apakah akan diborongkan semuanya, upahnya saja yang diborongkan, atau semuanya kita yang mengatur (upah buruh harian). Semua pilihan ini tentunya ada baik buruk serta kelebihan dan kekurangannya, tinggal menyesuaikan dengan waktu serta kemampuan kita. Awalnya sih saya akan mengambil alternatif yang ke dua yaitu dengan hanya memborongkan buruhnya saja, sedangkan bahan-bahannya saya belanja dan menyediakan sendiri. Hal ini tadinya akan saya ambil dengan pertimbangan dengan bahan bangunan menyediakan sendiri maka saya akan dapat menentukan sendiri kualitas dan tentunya sebanding dengan kemampuan keuangan yang saya miliki, kemudian dengan upah diborongkan maka tidak ada istilah pekerja yang malas-malasan atau pekerjaannya lambat, karena kalau bahan bangunannya lancar, tentunya saya sebagai pemilik rumah dan para pekerja sama-sama ingin cepat selesai, bagi para pekerja kan cepat atau lambat pekerjaan bayarannya tetap sama karena diborongkan, tinggal kita mengawasi cara dan metoda bekerja mereka saja agar hasilnya sesuai dengan perencanaan bangunan.
Pilihan dengan pekerja sistem harian tidak diambil karena kalau kita menggunakan tenaga harian maka resikonya kita harus mempunyai waktu untuk “nongkrong” setiap hari di lokasi pembangunan untuk mengawasi pekerja. Sedangkan di satu sisi kesibukan saya kerja di kantor dan kerjaan lannya pun tentunya harus dipertimbangkan. Namun bagi teman-teman yang mempunyai waktu luang untuk “nongkrong” di lokasi tentunya ini bisa jadi pilihan yang menyenangkan, menyenangkan tentunya kalau kita tiap hari dapat melihat perkembangan calon dari rumah kita
atau bisa saja kita siasati dengan menunjuk pengawas dari orang dekat kepercayaan kita, bisa itu saudara kita, teman atau orang lainnya yang relatif bisa dipercaya.
Weiiittsss…. mati lampu nih… nanti dilanjut lagi… baterai laptopnya belum di charge nih
di upload aja dulu yah, bisi keburu habis…




