Bupati Baru di Kolam Keruh Oleh Dahlan Iskan

June 22, 2011 by  
Filed under Curhat PNS online

Sebuah catatan dari Kolom di grup radar bogor dari Dahlan Iskan yang sekarang ini menjadi Direktur PLN, ini adalah “curhat” beliau tentang birokrasi yang menurut saya patut didokumentasikan di dalam blog ini, dan mudah-mudahan bisa jadi inspirasi bagi para pembaca yang lain… amien…

dahlan_pln Bupati Baru di Kolam Keruh Oleh Dahlan Iskan
Begitu banyak bupati/walikota di Indonesia tapi jarang yang menonjol. Di antara yang sedikit itu termasuk Walikota Solo, Bupati Sragen, Bupati Lamongan yang dulu (saya belum mengenal reputasi bupati yang sekarang), Bupati Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Walikota Ternate, Walikota Bau-bau di pulau Buton, Bupati Asahan, Bupati Berau di Kaltim dan Walikota Surabaya (baik yang Bambang DH maupun penggantinya). Masih ada beberapa lagi memang, tapi tidak akan seberapa.

Kini, dalam posisi sebagai Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero), saya lebih banyak lagi mengenal, bergaul dan berinteraksi dengan bupati/walikota. Apalagi saya terus berkeliling Indonesia untuk melihat dan menyelesaikan problem kelistrikan Nusantara.

Dari situ saya mencatat bupati/walikota itu umumnya biasa-biasa saja: banyak berjanji di awalnya, lemah di tengahnya dan menyerah di akhirnya. Saya tidak tahu akan seperti apa Bupati Tuban yang baru terpilih, H. Fathul Huda ini. Apakah juga akan menjadi bupati yang biasa-biasa saja atau akan menjadi bupati yang tergolong sedikit itu. Bahkan jangan-jangan akan jadi bupati yang sama mengecewakannya dengan yang dia gantikan.

Saya tahu dari para wartawan, bahwa Fathul Huda adalah orang yang awalnya tidak punya keinginan sama sekali untuk menjadi bupati. Dia sudah mapan hidupnya dari bisnisnya yang besar. Dia adalah pengusaha yang kaya-raya. Dia juga bukan tipe orang yang gila jabatan. Dia adalah orang yang memilih mengabdikan hidupnya di dunia keagamaan. Juga dunia sosial. Dunia kemasyarakatan. Sekolah-sekolah dia bangun. Juga rumah sakit. Dia yang sudah sukses hidup di dunia sebenarnya hanya ingin lebih banyak memikirkan akherat. Kalau pun berorganisasi, ia adalah Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Tuban.

Tapi sejak enam tahun lalu begitu banyak orang yang menginginkannya jadi bupati Tuban. Itu pun tidak dia respons. Begitu banyak permintaan mencalonkan diri dia abaikan. Tahun lalu permintaan itu diulangi. Juga dia abaikan. Menjelang pendaftaran calon bupati malah dia pergi umroh ke Makkah. Baru ketika, Gus Saladin (KH Sholachuddin, kyai terkemuka dari Tulungagung, putra KH Abdul Jalil Mustaqiem almarhum) meneleponnya dia tidak berkutik.

Ini karena Gus Saladin dia anggap seorang mursyid yang tidak boleh ditolak permintaannya. Konon Gus Saladin lebih hebat dari bapaknya yang hebat itu. Begitu Gus Saladin menugaskannya menjadi bupati Tuban, dia sami’na waatha’na. Dia kembali ke tanah air mendahului jemaah lainnya. Tepat di tanggal penutupan pendaftaran dia tiba di Tuban. Tanpa banyak kampanye dengan mudah dia terpilih dengan angka lebih dari 50%.

Cerita itu saja sudah menarik. Sudah bertolak belakang dengan tokoh yang dia gantikan yang dikenal sangat ambisius akan jabatan. Termasuk nekad mencalonkan diri lagi meski sudah dua kali menjadi bupati hanya untuk mengejar jabatan wakil bupati.
Sebagai sesama orang swasta yang terjun ke pemerintahan, saya bisa membayangkan apa yang dipikirkan Fathul Huda menjelang pelantikannya 20 Juni besok. Mungkin sama dengan yang saya bayangkan ketika akan dilantik sebagai Dirut PLN: ingin banyak sekali berbuat dan melakukan perombakan di segala bidang.

Tapi, sebentar lagi, setelah dilantik nanti Fahtul Huda akan terkena batunya. Hatinya akan berontak: mengapa tidak boleh melakukan ini, mengapa sulit melakukan itu, mengapa jadinya begini, mengapa kok begitu, mengapa sulit mengganti si Malas, mengapa tidak boleh mengganti si Lamban, mengapa si Licik duduk di sana, mengapa si Banyak Cakap diberi peluang dan mengapa-mengapa lainnya.

Saya perkirakan Fathul Huda akan menghadapi situasi yang jauh lebih buruk dari yang saya hadapi. Di PLN saya mendapat dukungan besar untuk melakukan perubahan besar-besaran. Mengapa” Karena orang-orang PLN itu relatif homogen. Mayoritas mereka adalah sarjana, bahkan sarjana tehnik yang berpikirnya logik. Mereka adalah para lulusan terbaik dari perguruan tinggi terkemuka di republik ini. Sebagai sarjana tehnik logika mereka sangat baik. Sesuatu yang logis pasti diterima. Ide-ide baru yang secara logika masuk akal, langsung ditelan. Mereka memang sudah lama berada dalam situasi birokrasi yang ruwet, tapi dengan modal logika yang sehat, keruwetan itu cepat diurai.

Sedang Fathul Huda akan menghadapi masyarakat yang aneka-ria. Ada petani, pengusaha. Ada politisi ada agamawan. Politisinya dari berbagai kepentingan dan agamawannya dari berbagai aliran. Ada oportunis, ada ekstremis. Ada yang buta huruf, ada yang professor. Ada anak-anak, ada orang jompo. Yang lebih berat lagi Fathul Huda akan berhadapan dengan birokrasinya sendiri. Bukan saja menghadapi bahkan akan menjadi bagian dari birokrasi itu. Di lautan birokrasi seperti itu Fathul Huda akan seperti benda kecil yang dimasukkan dalam kolam keruh birokrasi. Di situlah tantangannya. Fathul Huda bisa jadi kaporit yang meskipun kecil tapi bisa mencuci seluruh kolam. Atau Fathul Huda hanya bisa jadi ikan lele yang justru hidup dari kolam keruh itu. Pilihan lain Fathul Huda yang cemerlang itu hanya akan jadi ikan hias yang tentu saja akan mati kehabisan udara segar.

Birokrasi itu “binatang” yang paling aneh di dunia: kalau diingatkan dia ganti mengingatkan (dengan menunjuk pasal-pasal dalam peraturan yang luar biasa banyaknya). Kalau ditegur dia mengadu ke backingnya. Seorang birokrat biasanya punya backing. Kalau bukan atasannya yang gampang dijilat, tentulah politisi. Atau bahkan dua-duanya. Kalau dikerasi dia mogok secara diam-diam dengan cara menghambat program agar tidak berjalan lancar. Kalau dihalusi dia malas. Kalau dipecat dia menggugat. Dan kalau diberi persoalan dia menghindar.

Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!

Fathul Huda tentu tahu semua itu. Sebagai pengusaha (dari perdagangan sampai batubara) dia tentu merasakan bagaimana ruwetnya menghadapi birokrasi selama ini. Tapi sebagai pengusaha pula Fathul Huda tentu banyak akal. Kini saya ingin tahu: seberapa banyak akal Fathul Huda yang bisa dipakai untuk mengatasi birokrasinya itu. Apalagi birokrasi di Tuban sudah begitu kuatnya di bawah bupati yang amat birokrat selama 10 tahun.

Yang jelas Fathul Huda sudah punya modal yang luar biasa: tidak takut tidak jadi bupati! Itulah modal nomor satu, nomor dua, nomor tiga, nomor empat dan nomor lima. Modal-modal lainnya hanyalah nomor-nomor berikutnya. Tidak takut tidak jadi bupati adalah sapu jagat yang akan menyelesaikan banyak persoalan. Apalagi kalau Fathul Huda benar-benar bertekad untuk tidak mengambil gaji (he he gaji bupati tidak ada artinya dengan kekayaannya yang tidak terhitung itu), tidak menerima fasilitas, kendaraan dinas, HP dinas dan seterusnya seperti yang begitu sering dia ungkapkan.

Banyak akal, kaya-raya dan tidak takut tidak jadi bupati. Ini adalah harapan baru bagi kemajuan Tuban yang kaya akan alamnya. Pantai dangkalnya bisa dia jadikan water front yang indah. Pantai dalamnya bisa dia jadikan pelabuhan yang akan memakmurkan. Pelabuhan Surabaya sudah kehilangan masa depannya. Tuban, kalau mau bisa mengambil alihnya!

PDI-Perjuangan sudah dikenal memilki banyak bupati/walikota yang hebat: Surabaya, Solo, Sragen. Muhammadiyah juga sudah punya Masfuk. Kini PKB punya tiga yang menonjol: di Banyuwangi, Kebumen dan Tuban. Akankah tiga bupati ini bisa membuktikan bahwa tokoh Nahdliyyin juga bisa jadi pimpinan daerah yang menonjol?

Tapi birokrasi akan dengan mudah menenggelamkan mimpi-mimpi mereka dan mimpi besar Fathul Huda di Tuban.

Di Tubanlah kita akan menyaksikan pertunjukan yang sangat menarik selama lima tahun ke depan. Pertunjukan kecerdikan lawan keruwetan. Fathul Huda bisa memenangkannya, dikalahkannya atau hanya akan jadi bagian dari pertunjukan itu sendiri: sebuah pertunjukan yang panjang dan melelahkan!

Sumber: http://www.radar-bogor.co.id/index.php?rbi=berita.detail&id=76009

Share

Layanan TELKOMFLASH yang mengecewakan

May 30, 2011 by  
Filed under Curhat PNS online

Hari ini saya mengakhiri pembicaraan dengan mba di layanan dari nomor 116 caroline/CS telkomsel dengan mengucapkan SAYA BERHENTI SAJA DARI TELKOMFLASH

Hal ini dikarenakan komplain saya tentang penggunaan telkomflash nomor 081213271453 ternyata jawabannya sangat tidak memuaskan, begini komplainnya:

1. tanggal 20 Mei saya dua kali aktifasi UL 50k tetapi gagal, tetapi pulsa saya habis terpotong, sehingga harus diisi 2 kali dan tetap terpotong sehingga tidak bisa registrasi lagi, sewaktu mengisi ada jawaban (maaf pulsa anda tidak mencukupi).

Dengan bersusah payah, 3 kali telepon dan memakan waktu 3 hari lebih, Jawaban dari CS 116 adalah bahwa ketika saya mengisi pertama dan gagal, saya dinyatakan menggunakan akses internet dengan mode GPRS sehingga pulsanya terpotong, dan begitu pula yang sewaktu pengisian yang kedua kalinya.

Tanggapan saya: seingat saya, setelah gagal aktifasi, saya coba sms lagi dengan kode ul on, dan langsung jawabannya (sms) adalah maaf pulsa anda tidak mencukupi, tapi oke lah asumsi kalau memang benar saya akses internet, itupun saya buka setelah sms tadi dan ternyata tidak bisa buka apa-apa… konek tapi tidak bisa buka apapun… tapi pulsa langsung terpotong puluhan ribu, hanya beberapa menit saja… dan terjadi dua kali lagi… aneh….

2. Bulan sebelumnya yaitu bulan April terjadi hal yang sama, dan hal ini katanya terjadi akibat layanan konten yang saya langganan, kapan saya langganannya??? kok modem bisa langganan konten???

Jawaban: Bapak silahkan unreg dengan mengetikan un reg spasi bla… bla… bla… kok saya harus unreg… saya tidak melakukan sesuatu untuk berlangganan, tau tau harus unreg bla…bla…bla… kemudian ternyata kontennya katanya bukan hanya satu lagi… cape deh….

telkomflash_jelek Layanan TELKOMFLASH yang mengecewakanSudah saya berhenti saja dari telkomflash meskipun sudah rugi 150 ribu lebih…. hatur nuhun…

Telkomflash payah… jelek…. saya kecewa dengan telkomflash….

Share

Layanan telemarketing dan konten handphone

May 30, 2011 by  
Filed under Curhat PNS online

tele_marketing Layanan telemarketing dan konten handphoneSiang ini ketika jam istirahat, saya pergi ke bank permata untuk setor hasil ngamen ngajar pengadaan barang/jasa kemarin di beberapa instansi pemerintah. Setelah setor kemudian ke ATM untuk melakukan beberapa transaksi pembayaran dan akhirnya plus plos deh… ya sudah… sudah biasa kok namanya juga PNS selon VII, sebelum tanggal 7 sudah pas-pas-an lagi… ya mudah-mudahan “pas butuh pas ada rejekinya” namun ketika ada kebutuhan lumayan deg-deg-an juga menunggu ada rejekinya… atau “pas ada rejeki nya pas ada kebutuhan…” nah ini juga bikin pusing, baru saja setor sudah tipis lagi tabungannya… ya bersyukur aja deh masih ada rejekinya :) Tapi bukan tentang hal ini yang ingin saya curhat-kan, tetapi adalah ketika saya memeriksa di atm, eh ternyata ada dua rekening baru yang muncul dalam rekening utama. Setelah di cek ke Customer Service, ternyata dua rekening baru tersebut adalah rekening yang baru dibuka atas dasar dari transaksi via telemarketing. Nah yang menjadi masalah adalah.. kok ada dua rekening baru, padahal saya hanya menyetujui/memesan untuk 1 rekening baru?

Akhirnya dibantu oleh customer service (CS) bank permata cabang kapten muslihat bogor, diteleponlah telemarketing dari bank permata dan setelah berkomunikasi barulah dapat dikonfirmasi dan dibuatkan komplainnya, kemudian harus menunggu 3 hari untuk ada kabar penyelesaiannya. Nah dari latar belakang masalah ini kemudian saya curhat dengan CS bank tsb yaitu mba diny, saya sampaikan bahwa sebenarnya saya merasa terganggu dan agak keberatan untuk selalu di telepon oleh tele marketing dari bank tersebut, dengan alasan sbb:

1. Saya lebih senang bertransaksi secara langsung, face 2 face

2. Bisa terjadi ketidakjelasan atau miss komunikasi, seperti yang dialami saat ini.

3. Ada beberapa produk yang ditawarkan, dan ditawarkan oleh beberapa tele marketer, sehingga kalau ada 4 produk dengan 2 tele marketer saja yang menawarkan, maka akan ada 4×2 = 8 telepon dalam 1 bulan yang menelpon untuk menawarkan produk tsb. Belum tele marketer dari bank lainnya atau penerbit kartu kredit, atau asuransi lainnya, entah dari mana juga mereka mendapat data nomor kita tuh?

4. Saya sedikitnya bisa merasakan bagaimana menjadi seorang marketer, sehingga kalau saya ditelepon dan kemudian menolaknya, saya harus berfikir dan menjaga perasaan operator tele marketer yang menelpon agar penolakannya tidak dirasa “kasar”, nah menjaga perasaan ini tentukan akan memakan energi hati, energi perasaan yang lumayan juga. Belum waktu dan pikiran juga… yang agak bikin BT adalah… pas hari libur… pas istirahat tidur siang… ada telepon… kirain dari siapa… ternyata menawarkan asuransi atau tabungan baru… cape dehhh.

5. nah kalau ada masalah, lumayan tuh 30 menit lebih untuk menyelesaikannya, belum nanti 3 hari kemudian saya harus menelpon 500111, waktu, pikiran dan hati lagi tuh harus keluar, belum pulsa handphonnya…

Dalam artikel ini saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan bank permata, karena jujur, saya sangat puas dengan layanan dari bank permata yang lokasinya dekat kantor saya di balaikota, tellernya baik, tidak antri lama, plus ada layanan via mobile phone, sms, dan permatanet, semuanya bagus dan sangat membantu saya sebagai pengguna bertransaksi. Namun dalam beberapa hari atau minggu ini, saya merasa ada yang salah dengan beberapa perusahaan yang melakukan marketing melalui telepon/handphone atau istilah kerennya “tele marketing”. Salah yang lainnya selain penawaran beberapa produk perbankan via telepon tadi adalah penawaran konten melalui beberapa operator GSM/CDMA, seperti di antaranya:

1. Penawaran RBT via SMS, dengan isi SMS seperti “selamat anda berhasil memdapatkan RBT lagu kodok ngepet dari band kopet selama 14 hari, untuk berhenti kirim sms -unreg spasi <kopet> spasi lagu <kodok ngepet>”.

Nah masalahnya, saya tidak meminta berlangganan RBT, tahu-tahu ada RBT pada hp saya dgn lagu yang tidak saya senangi atau mungkin orang lain juga tidak senang dengan lagu tsb, kan yang dengar RBT di hp saya bukan saya yang punya hp, tapi adalah orang yang menelpon saya, knapa saya harus berlangganan lagu kopet?

Kan bisa unreg???!!! iya tapi kan saya harus melakukan sesuatu untuk hal yang tidak saya lakukan/minta, belum lagi hp saya adalah hp jadul dan hp yang sederhana sehingga agak kesulitan untuk menuliskan dengan format-format tertentu, hp saya pakai motorola F3C yang mana huruf smsnya besar semua, dan kalau baca sms tidak terlalu jelas apakah ada spasinya atau tidak, apalagi kalau ada kode/symbol tertentu, pastinya tidak akan kebaca :(

Kan bisa menghubungi CS (customer service) nya,???!!! Saya sudah coba… saya pakai esia nomor 0251 9101172, saya mendapat konten sms dari nomor 888, nomor tersebut ternyata tidak bisa menghubungi manusia, yang ada adalah penawaran kembali via suara komputer, dicoba sampai 3 kali, bunyi “haaaiiii saya nia, mobile jokey kamu yang akan bla..bla…bla…”, nah bingung kan…

Akhirnya setelah bertanya ke mr google, diperolehlah *999 layanan CS nya esia, dan saya akhirnya bisa berbicara dengan manusia di seberang sana. Melalui CS ini saya meminta agar layanan konten dalam esia saya diputus, dan saya tidak ingin ditelpon atau di sms untuk layanan konten apapun. Mudah-mudahan masalahnya bisa selesai nih, karena katanya butuh waktu 1×24 jam untuk menyesaikannya.

2. Penawaran via telopon langsung, tapi suaranya rekaman manusia dikomputer, “hai saya nia…. saya jordy kami baru jadian loh…” halah… siapa yang mau tau tentang hal tersebut???!! cuman masalahnya kalau hp tsb dipakai anak saya, kemudian disuruh menekan angka 1, dan diikuti, jadilah saya harus berlangganan sms tentang gosip-gosip nia dan jordi… Bagaimana unregnya juga tidak tahu, akhirnya nomor anak saya dibuang saja dan ganti yang baru, tapi bagaimana kalau muncul kejadian seperti ini lagi…. “hai saya heldi… saya baru update blog saya loh…” tidak semua orang mau taukan tentang curhat saya :)

3. Konten Otomatis, yang lebih parah ini nih; Saya punya modem yang diisi dengan telkomflash, kok bisa yah… kartu untuk data/koneksi internet, tiba-tiba berlangganan konten, sehingga ketika saya isi ulang 50ribu kemudian mau mengaktifkan paket UL 50k, ditolak karena “maaf pulsa anda tidak mencukupi”, ya tidak cukup karena dipotong oleh langganan konten, meskipun dipotong tidak seberapa, tapikan jadi tidak bulat 50ribu pulsanya, so tidak bisa register,

Kan cukup beli pulsa 5000rb saja???!! murah kok… saya akses malam-malam, mau keluar susah… kemudian akhirnya saya isi dengan 50rb lagi via mobile banking bank permata… (via mobile banking isi pulsa kelipatan 50rb) oke langsung terisi lagi 50 rb, so pulsa telkomflash saya sekarang 90rb-an… barulah bisa online lagi… tapi rese juga kan… ini pulsa 50rb atau 100rb??? Kejadian bulan berikutnya ternyata sudah aktifkan ul 50rb eh ternyata belum aktif… tapi pulsa sudah berkurang 50rb… saya isi lagi 50 rb… kirim sms UL ON, masih belum aktif tapi pulsa berkurang lagi 50rb??? aneh… akhirnya telepon lagi ke CS telkomsel 116, sama seperti CS yang lain, ditanya kapan transaksinya… ya kalau yang barusan sih ingat, tapi yang sebelum-sebelumnya… mana bisa diingat??? akhirnya tunggu lagi 3 hari… cape deeehhhh

4. Konten via popscreen di hp. Nah ada inovasi lain, yaitu adanya tampilan seperti sms, tapi bukan sms, yaitu seperti pop screen yang reguler dikirimkan setiap hari, isinya macam macam, mulai dari gosip sd hal-hal yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Nah kalau “kepijit” okey saja pada saat popscreen ini muncul, maka pulsa kita akan dikurangi secara berkala…Nah akhirnya saya telepon ke CS nya lagi… ini saya pakai nomor Axis nih, saya sengaja coba operator yang lain… ternyata sama juga, akhirnya via operator Axis saya dibimbing untuk mematikan layanan pop screen ini.

5. Langganan Otomatis… ini dialamai ketika memakai operator fleksi… tiba-tiba muncul sms, selamat anda telah berhasil berlangganan facebook mingguan rp. sekian… loh loh… kalau mau facebookan via komputer aja mas, kok harus via hp???

Nah… modus-modus seperti ini mungkin belum ada atau saya tidak tahu tentang dasar pengaturannya, yang jelas hal-hal seperti di atas nampaknya sudah menjadi layanan yang biasa dalam kehidupan sehari-hari dan meskipun merugikan tapi tidak ada yang mengatasinya atau mencari solusinya bagaimana. Termasuk juga penawaran-penawaran produk perbankan via telepon, bisa saja kan kita sedang cape sehingga akhirnya diterima saja tawaran tsb, tapi di kemudian setelah kita berfikir secara jernih, ngapain yah saya ikut asuransi ini… nah kan???!!!

Jadi, lumayan juga… hal ini bisa mengkonsumsi waktu, energi (pas libur, istirahat, tidur siang eh di telepon), perasaan (mau nolak kasian juga), pikiran (mau unreg susah, telepon lagi ke CS nya), ya lumayan juga. Ternyata sudah banyak perusahaan2 yang menggunakan strategi ini untuk marketingnya, so dalam kehidupan kita akan muncul “”gangguan-gangguan” ini… MAU???

Demikian… semoga ada yang perhatian terhadapa masalah ini… amien… walohulam…

=====

Tambahan:

Baru saja saya telepon 116 untuk menyelesaikan masalah konten dalam telkomflash dan ternyata saya harus meng-unreg sengan kode-kode reg spasi bla bla bla… kemudian tidak ada pergantian pulsa dari aktifasi 2 kali yang gagal, karena meskipun saya gagal aktifasi tapi saya menggunakan fasilitas internet (gprs) sehingga pulsa saya hanya bersisa 7 ribu, padahal oke saya akses…. tapi tidak bisa buka apa-apa alias gagal terus… tapi pulsa habis sampai 40rb-an… dan itu terjadi 2 kali… gila…. dan akhrinya saya putuskan pembicaan dgn mba-mba di careline… “Saya berhenti saja dari telkomflash”!!!!

Share

Kisah Seguci Emas

May 24, 2011 by  
Filed under Curhat PNS online

guciemas Kisah Seguci EmasSebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda:

Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”

Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai
hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”

Salah satu dari mereka berkata:
“Saya punya seorang anak laki-laki.”

Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”

Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah
kalian berdua.”

Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. Wallahul musta’an.

Dalam hadits ini, Rasulullah mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka.
Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.

Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram?

Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.

Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang
bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya. Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.

Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.

Kemudian, mari perhatikan sabda Rasulullah dalam hadits An-Nu’man bin Basyir:

“Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram.”

Rasulullah sudah menjelaskan pula dalam sabdanya yang lain:

“Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.”

Yakni tinggalkanlah apa yang engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa itu tidak mengandung kesamaran.

Sedangkan harta yang haram hanya akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah, menghalangi terkabulnya doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.

Tidak, ini bukan dongeng pengantar tidur.

Inilah kisah nyata yang diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan), yang Allah
berfirman tentang beliau:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

Kedua lelaki itu menjauh dari harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi hakim yang memutuskan perkara mereka berdua. Menurut sebagian ulama, zhahirnya lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan di antara mereka.

Dengan keshalihan kedua lelaki tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli tanah, bukan emas.

Akan tetapi, rasa takut kepada Allah membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan tersebut.

Kemudian, datanglah keputusan yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di antara dua keluarga yang shalih ini.

Perhatikan pula kejujuran dan sikap wara’ sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya.

Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara’ yang sudah langka di zaman kita.

Adapun hukum masalah ini, maka para ulama berpendapat apabila seseorang menjual tanahnya kepada orang lain, lalu si pembeli menemukan sesuatu yang terpendam dalam tanah tersebut, baik emas atau yang lainnya, maka harta terpendam itu tidak menjadi milik pembeli dengan kepemilikannya terhadap tanah yang dibelinya, tapi milik si  penjual.
Kalau si penjual membelinya dari yang lain pula, maka harta itu milik orang pertama. Karena harta yang terpendam itu bukan bagian dari tanah tersebut.

Berbeda dengan barang tambang atau galian. Misalnya dia membeli tanah, lalu di dalamnya terdapat barang tambang atau galian, seperti emas, perak, atau besi (tembaga, timah dan sebagainya). Maka benda-benda ini, mengikuti tanah tersebut.

Kisah lain, yang mirip dengan ini, terjadi di umat ini. Kisah ini sangat masyhur, wallahu a’lam.

Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.

Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?

Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”

Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”

“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.

“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.

Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.

Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”

“Tidak,” kata pemilik kebun.

“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”

“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.

Tsabit bertanya: “Apa syaratnya, wahai hamba Allah?”

Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”

Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”

Pemilik kebun itu melanjutkan:
“Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”

Akhirnya pemuda itu berkata:
“Baiklah, saya terima.”

Si pemilik kebun berkata pula:
“Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”

Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?

“Kalau kau mau, datanglah sesudah
‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.

Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.

Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?

Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.

Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”

Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”

“Demi Allah, dia tidak dusta.
Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah.”

“Ayahmu mengatakan kamu bisu,”
kata pemuda itu.

“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah murka.”

“Dia katakan kamu tuli.”

“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah.”

“Dia katakan kamu lumpuh.”

“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah.”

Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah.

Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.

Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran?

Wallahul Muwaffiq.

Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah/ibrah/425-kisah-seguci-emas-ibrah-edisi-49.html

Share

Pertamax… Bensin Non-Subsidi

May 20, 2011 by  
Filed under Curhat PNS online

Pertamax adalah produk unggulan pertamina, merupakan bensin bebas timbal dengan oktan lebih tinggi dari BBM biasa sehingga bisa lebih ramah lingkungan dan membuat tenaga mesin lebih maksimal. Istilah lain dari pertamina Pertamax... Bensin Non-SubsidiPertamax adalah BBM non subsidi yang berarti kita membeli bensin pertamax dengan tidak memakai sebagian uang rakyat (APBN), katanya sih subsidinya sekitar rp. 1500-an per liter, tapi entahlah saya juga hanya masyarakat awam yang tidak terlalu mengerti masalah subsidi dan non subsidi ini…

Yang jelas karena saya orang sunda, maka saya memegang teguh prinsip… biar tekor asal kesohor… so biar tekor bayar hampir dua kali lipat lebih mahal… biar pun yang dipakai adalah mobil butut… tapi maaf saja yah… mobil saya menggunakan BBM NON-SUBSIDI :)

Biar mobil anda sebagus dan semewah apapun.. tapi kalau ngisi bensin pakai bensin bersubsidi… haha… malu donk sama mobil tua dan butut “si dukun” ini :)

pertamax-150x150 Pertamax... Bensin Non-Subsidi

Tetapi sebenarnya penggunaan BBM non subsidi atau pertamax ini sebenarnya bukan karena kepengen gaya-gaya-an atau kepengen dipuji karena mendukung program pemerintah, apalagi untuk menjilat yang di atas karena saya seorang PNS dan ingin secepat mungkin naik pangkat dan jabatan… Saya juga heran, sejarahnya adalah sebenarnya ketika beberapa bulan yang lalu saya mencoba BBM jenis ini (pertamax), nah ternyata setelah menggunakan Pertamax, mobil tua saya terasa tarikannya lebih yahud… kemudian bau bensin yang sering muncul di kabin depan, tiba-tiba menghilang dan kalau dipanaskan pagi-pagi terasa lebih tokcer dan tidak padam-padam tuh mesin (kalau biasanya harus di gas-gas terus biar tidak mati…)… ya akhirnya “si dukun” terasa lebih cocok dan nyaman bila mengisi bahan bakar kendaraan dengan menggunakan pertamax…

Namun resikonya yaitu dia… biar tekor asal kesohor… harganya yang dua kali lipat dari BBM subsidi agak lumayan juga terasa bedanya… akhirnya kalau sudah mau akhir bulan kita oplos saja deh… 50 ribu subsidi dan 50 ribu lagi Non Subsidi :)

Pertamaaaaxxxxx iihhhh oh pertamax… alhamdu……. lillah…..

Share

Dokterku sayang… (sayang mahal dan tidak memuaskan)

May 14, 2011 by  
Filed under Curhat PNS online

Baru pulang periksa kandungan istri dari sebuah rumah sakit besar ~ tidak usahlah disebut namanya dan lokasinya, nanti jadi korban seperti prita lagi deh~ Pulang dari sana langsung tergerak dan gatal jari ini untuk menuliskan postingan ini, karena bukannya ada solusi, tetapi malah jadi bingung pulang dari dokter yang praktek di rumah sakit tersebut.

Kandungan istri saya hari ini menurut hitung-hitungan dokter sudah harus melahirkan, karena menurut beliau akan lahiran berada pada kisaran waktu 5 mei sd 14 Mei, namun dari konsultasi terakhir ada beberapa kejanggalan sbb:

1. Baru saja duduk dan melihat-lihat sebentar, belum di usg belum diperiksa apa-apa kok langsung ada statement… “ini harus di induksi”… loh..loh..loh.. periksa dulu atuh dok… kok langsung kesimpulan/statement…

2. Istri saya sebenarnya sudah beberapa kali periksa dgn dokter tsb di tempat prkateknya yang lain, namun pada hari ini saya dan istri periksa di rumah sakit tersebut mengingat kandungan sudah tua dan kemarin sudah seminggu lebih tidak cek dokter. Nah meskipun sudah beberapa kali ke dokter tsb, tapi ketika periksa di rumah sakit (bukan di tempat prakteknya) kok seperti ada yang berbeda, dokter tsb seperti tidak mengenal dan tidak hapal data dari istri saya, masih ada pertanyaan-pertanyaan mendasar yang ditanyakan, seperti istri saya ini baru pertama kali periksa dengan beliau… masih menanyakan ini anak ke berapa? kapan menstruasi terakhir, dan beberapa pertanyaan yang saya lupa, yang intinya membuat saya menaikan alis… kok nanya lagi pertanyaan seperti ini? Seharusnya seorang dokter yang baik, tahu donk setiap pasien-pasiennya… okelah kalau pasiennya banyak.. tapikan… dengan bayaran anda yang mahal tidak seharusnya lah seperti itu :)

3. Dokter tersebut “keukeuh” bahwa malam ini juga harus masuk dirawat dan di induksi, karena hitung-hitungannya kandungan istri saya sudah melebihi waktunya. Hanya saja ada ketidakyakinan dari saya dari data yang diberikan istri saya tentang menstruasi terakhir, saya yakin istri saya” tidak yakin” dengan data kapan mendapat mens terakhir sehingga perhitungan dokter bisa saja salah, karena berdasarkan dari informasi yang tidak meyakinkan dari istri saya. Kemudian dari data usg pun mengatakan bahwa masih ada beberapa hari lagi untuk lahiran, USG terakhir mencatat diperkirakan lahir tanggal 27 Mei, namun katanya karena ada perbedaan antara data hasil beberapa usg (beberapa usg sebelumnya mencatat tanggal 10, kemudian tanggal 14, dan diantaranya) maka berdasarkan kesepakatan medis antar para ahli kandungan makan yang harus dipakai adalah data usg paling awal, yaitu tanggal 5 mei, sehingga ini sudah terlambat 9 hari so harus segera diinduksi.

Yang manjadi kejanggalan adalah kok bisa memastikan dari data yang belum pasti (tanggal mens terakhir istri sy yang tidak meyakinkan) dan ketika ditanya apakah ada metoda lain untuk memastikannya, apakah dari visual atau fisik hasil usg, atau apalah yang tentu dokter ahli kandungan lebih ahli donk daripada saya yang ahli ngukur tanah… ternyata dokter tetap berkesimpulan dari hasil usg tadi, bahwa kalau perhitungan usg berbeda-beda maka yang dipakai adalah data usg yang pertama yaitu tanggal 5 mei yang nota bene data inputnya meragukan (tanggal mens istri tadi), padahal kondis bayi dan kondisi ketuban masih baik-baik saja. Bukannya tindakan itu apabila ada masalah saja? bukannya melahirkan itu “proses yang alami”, ditunjang dengan sejarah kelahiran dua anak saya juga yang alhamdullillah semuanya lahir normal (hanya di vakum eksternal saja), kok ini tidak ada masalah harus langsung diinduksi?

Intinya kok bisa yakin dari kalkulasi mesin USG dari inputan data mens terakhir yang meragukan, dan ternyata tidak ada metoda lain untuk meyakinkan saya bahwa memang harus masuk dirawat malam itu juga dan harus diinduksi? secara logika saja tidak masuk itu… meskipun saya bukan dokter tapi harusnya seorang dokter yang ahli bisa donk memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya…

4. Kemudian setelah selesai dan keluar dari ruang praktek, selanjutnya di luar ada seorang bidan apa yah namanya tadi… POG, POD atau apa lupa lagi, yang intinya menjelaskan tentang fasilitas-fasilitas dan prosedur yang ada di rumah sakit tersebut… namun satu hala saja komentar saya… bidan tersebut tidak berbicara dengan hati… dia berbicara dengan bahasa marketing… Kalau bicara dengan bahasa hati pasti langsung masuk ke hati… tapi kalau bahasa marketing… ya masuknya ke dompet donk mba…

5. Satu hal agak mengagetkan juga adalah ketika keluar dari ruang periksa, saya disodori satu surat pernyataan bahwa saya tidak akan menuntut siapapun dan menjadi tanggungjawab sendiri apabila ada masalah, hal ini dikarenakan saya menolak untuk melakukan tindakan medis indusi tadi)… loh kok sampai sebegitu ketakutannya… takut seperti rumah sakit omni.. padahal tidak ada pemikiran sedikitpun dari saya untuk menuntut… toh istri saya tidak atau belum dirawat di rumah sakit tsb (dalam formulir ada isian ruang dan kamarnya) berarti seharusnya formulir tsb ditujukan untuk yang dirawat di rs tsb. Sebegitu takutnya kah rumah sakit tersebut? Kalau anda benar… kenapa harus takut? kalau bahasa PNS nya.. kalau tidak korupsi… kalau anda benar… kenapa harus takut diperiksa… kenapa harus takut berhadapan dengan wartawan? kenapa harus takut dengan LSM?

Ya kalau saya menolak pastinya tanggungjawab saya donk… Cuman harus pakai surat pernyataan segala, padahal… ya sudah lah… Sebegitu takutnya… harus dengan surat pernyataan bahwa saya menolak istri saya untuk diinduksi… so kalau ada tindakanpun harus melalui persetujuan dan kalau ada apa-apa adalah tanggungjawab sendiri? so dimana tanggung jawab profesinya, sudah mah bayar mahal, satu kali periksa cuman beberapa menit harus bayar 100rb lebih untuk dokternya belum untuk administrasinya, belum sudah periksa beberapa kali tuh… wah sudah keterlaluan ini… dari sini semakin mayakinkan saya untuk tidak melahirkan di rumah sakit yang mentereng ini. Kalau istri saya melahirkan atau jadi pasien disini… nga bakalan ada tanggung jawabnya ini, semua resiko tanggung sendiri, bayar sendiri, bayar mahal, resiko tanggung sendiri… enak benar jadi dokter… emang enak ya dok… kerja bentar… dibayar mahal.. kan sekolahnya mahal… halah wateperlah…

oh iya… padaha saya mengatakan ke dokter bahwa saya akan berpikir dulu, kalaupun harus masuk, istri saya akan masuk rumah sakit besok, kan harus ambil baju dan persiapan lainnya, toh kondisi kandungan dan bayi aman2 saja… harus malam ini juga??? kenapa dok?? apa karena pasiennya malam atau hari ini hanya istri saya saja (terlihat memang pasien beliau hanya istri saya… kelihatanya,,, sih tapi bisa saja saya salah…), harus malam ini juga masuk… dan karena tidak masuk malam ini saya harus ttd surat pernyataan… aneh sekali… ngejar setoran apa ya dok? sebegitu parahnya kah? apa tidak cukup tuh sebulan ber hari2 praktek dengan tarif 100 rb (minimal 130rb-an) lebih per pasien, dikalikan dengan 10 lebih pasien per hari, dikalikan 20 harian lbh per bulan???

6. Hitung-hitungan dari ibu bidan yang cukup punya nama di kota ini adalah kandungan istri saya masih 39 minggu, berbeda satu minggu dengan hitung-hitungan dokter, kemudian kalau bayi dalam kandungan kondisinya sehat, kondisi rahin bagus, kondisi ketuban juga oke, apakah tidak bisa menunggu barang seminggu lagi, atau hanya sehari saja… (kalau tidak ada formulir isian tadi istri saya mungkin akan masuk besok) karena bisa saja hitung-hitungan dari istri saya yang tidak yakin akan tanggal mens terakhirnya salah, dan dalam formulir kontrol gerakan bayi yang diberikan dari RS tersebut pun itu tabelnya diberikan sampai 42 minggu, jadi okelah kalau menurut hitung2an dokter ini sudah 40 minggu so masih ada dua minggu kan? meskipun normalnya 40 minggu? kan bayi dan rahim kondisinya baik, kenapa harus malam ini diinduksi?apakah sebegitu parah kondisi kandungan istri saya, kan hasil usg dan pemeriksanaan katanya baik-baik saja… belum ada gejala-gejala kontraksi atau apapun kok harus dipaksa-paksa dengan induksi… atau karena ingin menarik agar istri saya melahirkan di RS tersebut, saya curiga hal ini adalah karena sewaktu cek terakhir di tempat prakteknya (bukan di rumah sakit), dokter bertanya dimana akan melahirkan dan istri saya menjawab bahwa akan melahirkan di bidan (bukannya tidak cocok dengan dokter ini, cuman ya lebih enaklah kalah melahirkan itu dengan bidan perempuan dan menurut istri saya bidan ini sudah cock dan enak dihati), nah terlihat muka dokter dan sikapnya langsung berubah, ya tapi ini tidak bisa dijadikan fakta, inimah hanya bahasa hati saja….

Tentunya bukannya saya menyimpulkan semua dokter seperti ini, atau dokter kandungan istri saya yg sekarang ini kurang bagus, mungkin saja ada miskomunikasi atau dan lain sebagainya, saya yakin dengan sekolah yang cukup berat dan lama tentunya kemampuan seorang dokter harusnya mumpuni… ya inimah curhat saja… bisa saja salahkan yah…

Ya sudah sekian saja curhatnya, meskipun sudah ikut workshop jurnalistik di radar bogor, kalau sudah berbakat gaya tulisan curhat ya mau dibagaimanakan lagi deh…  mohon doanya saja agar kelahiran anak ketiga saya bisa lancar dan sehat… amien….

=======

catatan tambahan:

hari sabtu, tanggal 21 Mei 2011, Alhamdullillah anak ketiga saya lahir dengan selamat dan dengan cara  “normal” di tempat praktek bidan… lahir setelah seminggu dari kunjungan terakhir ke dokter yang “memaksa” untuk melakukan tindakan induksi… kebayang kalau saya menuruti keinginan dokter tsb… wallohualam…

Share

(Galaknya) Kemewahan dan Kekuasaan

April 17, 2011 by  
Filed under Curhat PNS online

logomobil (Galaknya) Kemewahan dan KekuasaanAnak saya yang sulung paling senang menghapalkan dan mengetahui tentang jenis-jenis mobil, mulai dari merk pabrikan, jenisnya dan variannya sampai dengan fasilitas-fasilitas yang ada di dalamnya, hal ini sebenarnya akibat waktu kecilnya dulu oleh saya suka dijelaskan ditunjukan jenis-jenis mobil sambil jalan-jalan, itu kijang tuh, itu suzuki, itu toyota dsb, sambil menjelaskan hal-hal lain tentang alam sekitar di lingkungan, seperti tanaman, bunga dan binatang-binatang sebagai pengenalan awal, yang sebenarnya hanya sebagai rangsangan otaknya saja biar dia senang melihat-lihat dan menghapal tentang lingkungannya. Namun ternyata kebiasaan waktu balita tersebut manjadi hobbie-nya sampai kelas 2 SD sekarang, dia kalau melihat mobil yang belum dikenalnya maka akan selalu penasaran, bahkan terkadang bapaknya yang hanya sekedar bawa mobil tua ini suka jadi agak malu , karena seringkali kalau diparkiran mall kalau ada mobil toyota alpard atau mobil mewah-mewah lainnya, dia suka penasaran ingin melihat dalamannya, so dia suka mendekat ke mobil mewah tsb dan melirik-lirik fasilitas-fasilitas yang ada di dalamnya, waduh… untung saja masih anak kecil, kalau sudah gede kan bisa disangka macam-macam tuh :) . Sabar ya nak… bapakmu yang PNS ini belum bisa mengumpulkan uang sebegitu banyak untuk sampai bisa membeli mobil mewah sekelas alpard, mercy atau BMW, kalaupun ada tentunya mendingan dipakai untuk tabungan sekolah mu nak, atau untuk naik haji enin dan engki, atau untuk biaya sekolah S-2/S-3 Bapak mu ini… semoga ada rejikanya ya nak… doakan saja… amien….

Nah dari latar belakang tersebut diatas berikut adalah ceritanya…

Pada tengah malam kemarin ketika  saya beserta anak sulung saya pulang dari rumah mertua untuk suatu keperluan, di lokasi daerah kemang Bogor (sekitar 500 meteran dari pertigaan salabenda – semplak – dan arah parung) ada suatu komplek militer… saya lupa apakah itu kopassus atau apa yah… yang jelas komplek TNI saja deh… nah ketika lewat disana terlihat keluarlah dari komplek militer itu satu mobil warna hitam yang kelihatannya cukup bagus, kemudian anak saya yang memang hobbie melihat-lihat mobil mewahpun langsung menunjuk dan bertanya… wah itu bagus banget pap mobilnya… seperti toyota atau mazda terbaru yah pap?… kemudian kata saya “kayanya sih itu… toyota harrier… seperti yang dipakai oleh salah seorang saudara kita di jakarta”

harrier-300x194 (Galaknya) Kemewahan dan Kekuasaan

demi menyenangkan hati anak tersayang.. untuk memastikan apa merk dari mobil mewah tersebut, langsung saja tancap gas dan mendekatkan mobil tepat dibelakang mobil tersebut kemudian menarik handle lampu depan menjadi lampu jauh agar kelihatan jelas apa merk/jenis dari mobil tsb, namun karena memang mobil tua ini harus mengambil napas panjang dahulu untuk bisa berakselerasi, maka butuh waktu untuk lebih dekat dengan mobil mewah tersebut yang nota bene tentunya dengan sedikit tekanan saja pada pedal gasnya sudah ngacir secepat kartun road runner, akhirnya dengan menurunkan gigi ke gigi lebih rendah dan menekan gas dalam-dalam.. bisa juga mendekat ke mobil mewah tsb, nah kemudian lampu depan yang tadi diturunkan kembali karena ada mobil didepan yang protes karena silau, kembali dinaikkan menjadi lampu jauh.

Setelah lebih dekat terlihatlah dengan jalas bahwa mobil mewah itu adalah salah satu varian dari Toyota, yaitu toyota harrier… “ohh… toyota harrier… keren yah pap” kata anak saya… sambil terus mantengin mobil mewah tsb… Puaslah sudah hati ini :)

Setelah itu Toyota Harrier itu sekitar 100 m dari pertigaan salabenda semplak ternyata agak meminggirkan mobilnya, karena anak saya sudah puas melihat kerenya mobil tersebut, maka saya pun langsung tancap gas menyusul mau mobil tersebut… saya berpikir mungkin mobil itu mau berhenti atau ada keperluan lain… eh namun ternyata tiba-tiba setelah sedikit meminggirkan mobilnya dan akan saya susul… tiba-tiba mobil tersebut tencap gas dan memepet dan menyusul dengan gaya menggunting mobil tua ini, dan pengemudinya yang terlihat berperawakan tegap dan cepak mengeluarkan kepalanya dan berteriak… “HEY AN####!!! NGAPAIN NYOROT-NYOROT SEGALA”

Haduh.. Galak amat sih bapak ini…. saya dan anak saya langsung terkaget-kaget.. mobil mewah itu langsung kembali menyusul mobil saya dan berjalan agak pelan… mungkin maksud menantang atau bagaimana saya juga tidak mengerti sih… namun alhamdullilahnya kerena sudah dekat dengan pertigaan dan ternyata mobil mewah tersebut mengambil arah ke salabenda sedangkan saya ke arah semplak… akhirnya insiden itupun berlalu tanpa kelanjutan apapun yang ditakutkan…

Akhirnya dari kejadian itu saya menyadari.. oh mungkin saya disangkanya ingin buru-buru menyusul mobil mewah tersebut, atau disangkanya mau menantang balap denga mobil itu, padahal bisa apa mobil saya ini :)

Namun memang saya menyadari pada kejadian itu saya salah dengan memberikan lampu jauh sampai dua kali, karena hal itu bisa saja mengganggu pengemudi mobil mewah itu, mungkin dia merasa kecepatan mobilnya sudah cepat.. kok ini ngapain “mobil butut” masih nyorot-nyorot kedepan… sombong amat… mungkin begitu… karena saya juga kadang suka agak kesal kalau di kasih lampu jauh dan di sorot-sorot terutama di jalan tol, maklumlah karena mobil tua ini suka rewel… kalau kecepatannya sudah mencapai 80 km/jam maka alarm pada mobil tua ini akan bunyi… teeettt…teeettt… teeettt… mengingatkan saya bahwa saya mengendarai mobil tua dan agar segera menurunkan kecepatan…. :) Tapi karena sudah biasa disorot-sorot… ya nga masalah sih kalau saya mah, karena memang salah saya pakai mobil dengan kecepatan tidak melebih 80 km/jam :)

Untuk itu melalui postingan ini… saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya kepada pengemudi mobil mewah toyota harrier warna hitam yang pada hari minggu tangal 17 april 2011 dinihari tadi merasa tergangu oleh sorotan lampu jauh mobil saya… semata-mata bukan untuk mengajak balap mobil bapak atau ingin segera menyusul mobil mewah bapak… tapi hanya karena anak saya (dan saya sendiri tentunya) mengagumi mobil mewah yang bapak kendarai…. Maklumlah pak… kami yang sekarang ini  hanya bisa memiliki “mobil butut” yang harganya mungkin beda 2 digit dengan mobil toyota harrier yang bapak kendarai dan kami kagumi… Kemudian mana mungkinlah pak… saya yang hanya PNS kecil-kecilan berani menantang Bapak yang mempunyai kekuasaan dan kekuatan besar… mana berani saya pak.. ampun deh pak…

Demikian lah cerita curhat hasil perjalanan dinihari tadi, hikmahnya saya harus lebih berhati-hati lagi deh dalam memberi lampu jauh… agar kejadian diatas tidak terulang kembali… terima kasih yah bapak atas peringatannya… :)

Share

« Previous PageNext Page »