Menakar Kadar Kekafiran Seorang Koruptor
September 3, 2010 by heldi
Filed under PNS Kota Bogor, its me - Heldi

Sumber:REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–
Semua warga bangsa tahu belaka, korupsi di Indonesia merupakan semacam penyakit endemis yang sampai sekarang masih merajalela dan sulit tersembuhkan. Penyakit bangsa ini bahkan terlihat kian meruyak. Orang me nga takan, kalau zaman Orba dulu, korupsi terutama terjadi di pusat; kini dengan pene rapan otonomi daerah selama enam tahun terakhir, korupsi juga mengalami ‘desentralisasi’—meruyak ke daerah. Dengan begitu, korupsi kini ada di mana-mana, sejak dari tingkat pusat sampai ke daerah.
Jelas ada upaya untuk memerangi korupsi. Kejaksaan membuat target bagi penyelidikan dan pengadilan mereka yang (diduga) terlibat korupsi. Kepolisian juga seolah tidak mau kalah. Meski kedua lembaga ini mencapai hasil tertentu dalam usaha memerangi korupsi, masyarakat umumnya skeptis, karena terdapat oknum jaksa dan Polri yang juga (diduga) terlibat korupsi. Bahkan, tidak jarang kedua lembaga penegak hukum ini terlibat dalam konflik kepentingan melindungi bagian korps masing-masing. Dengan demikian, pemberantasan korupsi di dalam diri mereka sendiri tidak berjalan sebagaimana diharapkan publik.
Lalu, ada lagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang khusus dibentuk untuk memberantas korupsi. Tetapi, KPK yang semula memberikan cukup banyak harapan, kemudian dipandang kalangan tertentu sebagai ‘superbody’ yang selanjutnya melakukan upaya cukup ‘sistematis’ untuk melemahkan KPK, sehingga hanya dapat mengusut kasus korupsi kelas ‘teri’, tetapi mentok dalam membongkar kasus korupsi kelas superkakap,
semacam skandal Bank Century.
Agaknya, realitas pemberantasan korupsi semacam itulah yang membuat koruptor seolah tidak pernah kehilangan nyali dan cara untuk tetap melakukan berbagai bentuk korupsi. Meski jumlah mantan pejabat atau bahkan yang masih aktif sejak dari mantan menteri, gubernur, bupati/wali kota yang terlibat korupsi cukup signifikan, tetap belum ada tanda-tanda meyakinkan korupsi bakal berkurang di negeri ini; apalagi untuk lenyap sepenuhnya.
Berbagai pendekatan dan upaya pemberantasan korupsi kelihatan tidak ber hasil. Mulai dari penegakan hukum, ada nya KPK, perbaikan gaji, dan pemberian remunerasi tidak mampu mengurangi korupsi. Koruptor tetap saja meraja lela. Lalu, pendekatan dan cara apa lagi? Pendekatan teologis dan agama. Inilah salah satu pendekatan yang boleh jadi dapat membantu pemberantasan korupsi.
Dua organisasi Islam terbesar di negeri ini, Muhammadiyah dan NU mencoba melakukan pendekatan teologis ini de ngan melakukan telaahan dan rumusan fikih korupsi bekerja sama dengan Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (di Indonesia). Hasilnya adalah sebuah buku dengan judul yang bisa membuat orang tersentak: Korupsi itu Kafir (Bandung: Mizan, 2010).
Istilah ‘kafir’ secara konvensional lazim nya digunakan untuk menyebut mereka yang menolak dan mengingkari kebenaran Islam, baik di masa silam maupun seka rang. Istilah ini dalam kenyataannya ku rang berkenan bagi mereka yang tidak me nerima kebenaran Islam, tegasnya kaum non-Muslim. Bagi mereka, sebutan ‘kafir’ terhadap mereka dalam perasaan mereka bernada merendah kan. Apala gi kalau yang disebut ‘kafir’ itu adalah orang Muslim karena yang bersangkutan ternyata adalah koruptor.
Mengapa koruptor itu kafir? Banyak dalil Alquran dan hadis yang diajukan Muhammadiyah dan NU, yang kemudian melakukan pendekatan yang lazim dalam Ushul al-Fiqh, seperti qiyas dan mashalih al-mursalah. Intinya, koruptor itu kafir— termasuk yang beragama Islam—karena mereka mengabaikan larangan berbagai ajaran Islam tentang tidak bolehnya melakukan korupsi. Menurut kajian NU dan Muhammadiyah, secara fiqhiyah, korupsi dapat mengambil bentuk sejak dari ghulul (pencurian aset publik), hirabah (perampokan harta orang lain), risywah (suap), khiyanat (khianat), mu kabarah/ghasab (pemindahan aset secara tidak sah), sariqah (pencurian), intikhab (pengutilan aset), sampai aklu suht (memakan barang haram).
Dengan landasan fiqhiyah dan metodologi Ushul Fiqh yang cukup kuat, menyebut koruptor sebagai kafir menjadi valid. Menyebut koruptor sebagai ‘kafir’ bisa menimbulkan dampak psikologiskeagamaan tertentu. Apalagi, Muhammadiyah dan NU dalam kajian fikih nya juga menyimpulkan: jika ‘koruptor’ itu beragama Islam, yang ketika ia meninggal dunia kelak, jenazahnya tidak perlu dishalatkan para pimpinan agama seperti ustaz, kiai, atau ulama umumnya. Koruptor yang kafir itu pun disebut terjauh dari surga dan, sebaliknya, bakal tenggelam ke dalam neraka. Na’udzu billah min dzalik.
Red: irf
Sumber: Azyumardi Azra, cendekiawan Muslim
Puisi Negeri Para Bedebah
April 25, 2010 by heldi
Filed under PNS Kota Bogor
Negeri Para Bedebah
Karya:Adhie Massardi
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah
Read more
Makanya Gayus; “Jadi PNS itu harus bisa Nahan”
April 7, 2010 by heldi
Filed under PNS Kota Bogor, its me - Heldi
“Jadi PNS mah kudu bisa nahan” (Jadi PNS itu harus bisa menahan diri) begitu nasihat yang sering saya katakan kepada istri saya yang merupakan nasihat yang sama juga yang diberikan ibu dan bapak saya yang dulunya sama-sama PNS (pegawai negeri sipil) juga. Namun mungkin nasihat yang dikatakan orang tua saya, dengan yang ditujukan kepada Gayus ini artinya mungkin berbeda 180 derajat. Kalau orang tua saya mengatakan hal ini dengan maksud bahwa saya dan istri harus bisa memilih dan memilah mana yang menjadi kebutuhan dan mana yang menjadi keinginan, sehingga karena penghasilan yang pas-pas-an (pas butuh pas ada… hehehehe… amiiinnn), maka kita harus bisa menahan keinginan-keinginan kita yang mungkin tidak akan tercapai dengan pemasukan yang ada sekarang dan berusaha mensyukuri kebutuhan-kebutuhan yang ada sekarang ini masih bisa ditutupi meskipun masih dengan kondisi ngos-ngos-an. “Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah” Read more
jessica andrews – show me heaven
January 10, 2010 by heldi
Filed under Fitness just for Health, PNS Kota Bogor, its me - Heldi
Mumpung lagi hobbie RPM, dapat lagi nih satu lagi rpm class, show me heaven, tapi bukan versi disko nya, ngapapalah… tambah lagi resistance nya… hayohhh…
jessica andrews – show me heaven (dawsons creek)
There you go flashing fever from your eyes
Hey baby, come over here and shut them tight
I’m not denying, we’re flying above it all
Hold my hand, don’t let me fall
You’ve got such amazing grace
I’ve never felt this way
Oh, show me heaven, cover me
Leave me breathless
Oh, show me heaven please
The Killers – Human
January 2, 2010 by heldi
Filed under Fitness just for Health, PNS Kota Bogor, its me - Heldi
Ini adalah lagu favorit saya kalau ikut kelas RPM di celebrity fitness, lagunya dari the killers judulnya Human. Beat-nya cukup menggairahkan untuk menambah semangat genjot sepeda… tambah saetik deui resisten-nya
The Killers “HUMAN”
I did my best to notice
When the call came down the line
Up to the platform of surrender
I was brought but I was kind
Read more
Mutasi oh mutasi
December 23, 2009 by heldi
Filed under PNS Kota Bogor
Walaupun malam ini kepala ini masih pusing berat karena baru pulang dari Bandung (Bappeda Propinsi), ditambah mampir dulu ke Cianjur makan kadu/duren/durian di rumah orang tua, plus malam sebelumnya baru pulang dari kepulauan seribu ikut mancing mania yang berakhir menjadi mabuk laut maniak karena cuaca buruk dan ombak besar (untungnya teman2ku orang pelaut, jadi tidak ikut2an mabuk hehe), masih ditambah lagi besok harus mengumpulkan nilai ujian anak-anak smk adisanggoro sedangkan dari 60 lembar jawaban baru diperiksa setengahnya, terus masih banyak pertanyaan dan comment yang masuk via blog ini atau via email yang belum bisa saya jawab… tetapi karena takut inspirasi ini keburu hilang… akhirnya saya memutuskan untuk segera menuliskan cerita tentang mutasi dalam isi kepala ini ke dalam blog tercinta ini… jadi maaf-maaf saja yah teman-teman yang terhormat namanya juga narsis nih
Begini ceritanya;
Ceritanya… teman-teman (baik level pejabat atau staf/pelaksana) dari kemarin siang sampai sore hari ini kembali dihebohkan oleh berita akan adanya mutasi yang akan dilakukan oleh bapak Walikota Bogor meskipun ada rumor bahwa tidak akan jadi karena pak Wali nya sakit karena jatuh dari motor, yah ramenya seperti biasa saja seputaran siapa kemana dan yang kosong diisi siapa, intinya “siapa pergi kemana dan disini diisi siapa” or Who and Where, dan reaksi teman-teman yang terlihat gembira dan ada juga yang kurang senang, gembira yah mungkin karena atasannya yang kurang baik bisa pergi dan kurang senang karena akan mendapat atasan yang katanya reg spasi kodok ngepet alias kopet dan kirim ke 6288 hehehe. Tapi kalau dimata saya sih tidak jadi masalah sih siapa pindah kemana dan disana sini diisi siapa terserah aja deh, orang lain yang mau pindah kok kita yang jadi gembira atau sedih… toh lagian jadi pejabat itukan adalah amanah, selamat menunaikan amanah saja dan semoga anda selamat sampai tujuan
Read more
Basa Basi – Basi Basa Jalan rusak di Kota Bogor
March 29, 2009 by heldi
Filed under Kota Bogor, PNS Kota Bogor
Judul dari postingan ini adalah Basa Basi dan Basi Basa dari Jalan Rusak di Kota Bogor, kenapa judulnya seperti itu?
Basi Basi? ya memang tulisan ini hanya sekedar basa basi saja, sangat tidak mungkin mengharapkan suatu tindakan atau perubahan yang signifikan dari tulisan ini, sangat tidak mungkin dengan adanya tulisan ini maka seluruh jajaran dinas terkait dan pemkot Bogor dapat segera melakukan tindakan-tindakan signifikan untuk memperbaiki kinerjanya… namanya juga basa basi… yups sekedar basa-basi… sekedar mengisi blog saya yang sudah lama tidak diisi dengan content tulisan sendiri yang fresh from the brain
So tulisan ini jangan terlalu dianggap serius, kalaupun ada yang kesenggol-senggol dikit, yah… instropeksi diri aja deh




