\n

E-procurement adalah keniscayaan

August 8, 2014 by  
Filed under Pengadaan Barang Jasa

eprocYa saya sangat setuju sekali bahwa “e-procurement” adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari oleh siapapun atau pihak manapun yang berkecimpung dalam dunia pengadaan barang/jasa pemerintah. Hal ini seperti penggunaan teknologi yang merambah dalam segala bidang, penggunaan teknologi informasi, komputer, networking, internet, programming, dan sebagainya yang terkait dengan hal tersebut yang mana dari hari ke hari semakin pesat  perkembangannya baik secara kualitas atau kuantitasnya. Perkembagan teknologi yang semakin pasat membuat segala hal semakin mudah dan cepat dan begitu pula dalam dunia pengadaan barang/jasa, penggunaan teknologi Informasi, teknologi komputer baik software atau hardware akan membuat semuanya mencaji lebih mudah dan cepat dengan otomasi dalam proses praktek pengadaan barang/jasa.
Read more

Share

e-procurement – Kuncinya ada di ”Political Will”

February 8, 2012 by  
Filed under Berita dan Artikel Pengadaan

E-Procurement
Sumber: Majalah Kredibel LKPP edisi 1-2011

AGUS PRABOWO
Deputi Bidang Pengembangan dan Pembinaan Sumber Daya Manusia LKPP
 
Bagaimana pendapat Anda tentang e-procurement? Apa yang menjadi hambatan e-procurement selama ini?

E-procurement itu pada prinsipnya mengubah pola pikir, dari sesuatu yang sifatnya manual dan rawan penyalahgunaan menjadi sistem yang elektronik sistemik yang mengurangi tatap muka, sehingga otomatis penyalahgunaan akan berkurang. Nah, tentu masuk ke arah itu ada sebagian pihak yang tidak senang.

Oleh karena itu hambatannya ada di situ, di political will. Contohnya, untuk menjadi bupati modalnya gede, pasti keluar uang dulu. Ketika terpilih, dia pasti ingin balik modal. Darimana? Caranya ya nyolong dari pengadaan. Gimana supaya bisa nyolong? Jangan pakai e-procurement. Sebab kalau pakai e-procurement susah nyolong-nya. Jadi yang pertama itu handycapnya ada di poliltical will. Sedangkan kalau secara teknologi sih gampang, tidak ada susahnya. Selama ini paradigma di pengadaan masih memandang proses pengadaan secara negatif.

Bagaimana pendapat Anda?

Menurut saya pengadaan ini mengubah kultur; kultur manusia Indonesia, terutama aparat atau penyedia barang dan jasa. Yang biasanya kongkalikong, atur-mengatur, menjadi terbuka dan kompetitif. Hanya dengan cara itu kita bisa maju. Dengan cara itu korupsi bisa hilang. Jadi pengadaan itu mengubah kultur. Ini bukan hanya pekerjaan klerek atau administratif saja, tapi pekerjaan mengubah paradigma.

Strategi untuk mengubah kultur itu bagaimana?

Banyak segi, tapi dari sisi manusia saya ingin mencetak sebanyak mungkin manusia yang mengerti kaidah pengadaan. Semakin mengerti maka akan ada self control.

Dari sisi sistem sendiri apakah sudah siap?

Sudah cukup lumayan. Dalam arti kata, sistem itu akan berjalan ideal kalau semua pendukungnya bagus. Listriknya bagus, jaringan internetnya bagus, SDM-nya oke, infrastrukturnya siap. Kalau di Jakarta atau Pulau Jawa, okelah. Tapi kalau di Kaimana sana ‘kan belum tentu.

Lalu untuk mengatasi soal insfrastruktur itu bagaimana?
Tak ada cara lain selain mengejar ketertinggalan. Point of no return, tak ada jalan mundur.

Target untuk penghematan anggaran melalui penerapan e-procurement sampai seberapa besar?
Tak ada target. Yang jelas targetnya adalah seluruh instansi baik di pusat maupun daerah harus mencoba e-procurement meskipun hanya satu paket mulai 2012. Dan itu wajib, sesuai Perpres No. 54/2010. Cuma satu paket saja kok, sebagian saja, tidak harus
semuanya.

Apa yang menjadi harapan atau keinginan Anda?
Harapan saya justru ada di pasar. Saya ingin itu tinggal beli di pasar, tak perlu lagi dilelang. Ini yang ingin dicapai lewat e-catalogue. Sehingga yang dilelang itu pekerjaan konstruksi saja. Harapan saya e-catalogue itu penuh barang-barang.

Kapan hal ini bisa terwujud? Mengapa?
Hmm.. mungkin 10 tahun lagi. Karena soal disparitas. Republik ini demikian bervariasi, luas, kompleks, dan beragam. Harga semen di Jakarta Rp 55 ribu per sak,di Wamena mencapai Rp 1,5 juta per sak.

Sumber Artikel:
Majalah Kredibel LKPP LKPP, dapatkan edisi lengkap majalah ini, download edisi lengkap Majalah Kredibel LKPP edisi 01/2011 disini:

Majalah Pengadaan

Share

Sosialisasi E-procurement – Menuju penguatan penyatuan Indonesia melalui E-procurement

October 16, 2011 by  
Filed under Pengadaan Barang Jasa

Dibuka oleh Kepala LKPP Bapak Ir. Agus Rahardjo MSM, kemudian Direktur e-procurement LKPP Bapak Ikak Gayuh Patriastomo, Direktur Bina Pelatihan Kompetensi Bapak Dharma Nursani dan Bapak Mudji Santosa sebagai moderator, acara Sosialisasi E-procurument bagi Instruktur pengadaan barang/jasa pemerintah pada hari Selasa tanggal 11 September 2011 yang terselenggara berkat kerjasama Direktorat Bina Pelatihan Kompetensi dan Direktorat Elektronik Procurement LKPP dapat terselenggara dengan sukses dan penuh dengan jurus-jurus baru (jurus “e” – electronic procurement) dalam dunia persilatan pengadaan barang/jasa pemerintah.

Dalam sambutannya bapak Ikak GP memberikan gambaran  gamblang tetapi mendalam tentang apa itu eprocurement, bagaimana konsep e-procurement, apa yang disediakan LKPP melalui LPSE, bagaimana sejarah perkembangan eprocurement, dan bagaimana perkembangan e-procurement atau LPSE sejak pendiriannya sampai dengan sekarang telah ada 236 LPSE System Provider dan 38 LPSE Service Provider  atau total 274 LPSE se-Indonesia telah berjalan untuk melayani proses e-tendering dan e-purcashing di Indonesia (lihat:  report LPSE detail).

Sosialisasi diisi oleh presentasi dari Bapak Patria Susantosa , Kasie Pengembangan E-procurement LKPP yang mempunyai blog di kompasiana ini  (www.kompasiana.com/susantosa) secara detail menjelaskan lebih dalam tentang konsep e-procurement dalam implementasinya terhadap  amanat pengadaan barang jasa dalam perpres 54 tahun 2010, mulai dari teknologi yang mendasarinya, dasar hukum yang melindunginya, alur, aturan main dan aplikasi perpres 54 dalam SPSE (sistem pengadaan secara elektronik), cara instalasi spse dan sebagainya.

Terakhir acara diisi oleh bapak Nanang, dengan mempraktekan langsung aplikasi SPSE secara online. Semua peserta (sekitar 50-an) diberikan user name dan password untuk masuk ke aplikasi latihan e-procurement secara online pada server LKPP. Kemudian ditunjukan langkah-langkah bagaimana cara memulai suatu e-tendering dalam aplikasi SPSE, mulai dari pembuatan jadual, pengupload-an dokumen, aanwijzing, download penawaran, membuka file penawaran dengan APENDO, sampai dengan evaluasi dan pengumuman pemenang dari pelelangan yang dilakukan. Simulasi dilakukan secara real meskipun penyedianya diwakili oleh teman-teman dari lkpp lainnya, namun surat penawaran yang masuk dan bahkan sampai dengan sanggahan dapat disimulasikan dapat disimulasikan secara lengkap, walaupun kalau dalam real praktek-nya tentunya akan lebih rame dan tidak sesederhana yang disimulasikan.

Dari pelatihan ini, meskipun sudah banyak melelangkan paket pekerjaan di eproc kota bogor, saya memperoleh beberapa hal yang selama ini mungkin terlewat dalam melakukan proses lelang melalui eprocurement, maklumlah karena dulu waktu ada pelatihan eproc di kota Bogor karena sesuatu hal saya tidak dapat mengikutinya, sehingga selama ini menggunakan aplikasi SPSE kota bogor hanya bermodalkan learninbg by doing dan autodidak, beberapa hal yang selama ini tidak saya lakukan (namun tidak dapat disebutkan satu persatu, karena takut ada penyedia yang nyanggah.. hehehe…) dapat diketahui dan untuk ke depannya tentunya langkah-langkah dan jurus-jurus ini akan saya kerjakan dalam paket pekerjaan berikutnya yang dilelangkan melalui SPSE.

Melalui sosialisasi eprocurement untuk para instruktur ini, tentunya akan sangat berguna bagi para instruktur bersertifikat TOT LKPP terutama para instruktur pengadaan barang/jasa yang belum sama sekali atau jarang menggunakan eprocurment atau aplikasi SPSE, juga energi “e” atau electronic ini tentunya akan disebarkan secara luas oleh para instruktur yang akan bertugas sebagai garda terdepan dalam menyebarluaskan ilmu pengadaan barang/jasa pemerintah. Mudah-mudahan virus “e” ini dapat disebarkan ke seluruh pelosok negeri ini, terutama daerah-daerah yang masih belum menggunakan spse dalam pelelangannya.

So akhirnya, dengan curah ilmu yang tiada henti dari LKPP saya hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada LKPP yang telah banyak memberikan kesempatan dan ilmu yang berlimpah dalam dunia pengadaan barang/jasa pemerintah, terima kasih pak Mudji yang telah memperkenalkan saya dengan LKPP, terima kasih pak Dharma Nursani yang telah banyak memberikan kesempatan untuk banyak menggali ilmu di direktorat yang bapak pimpin, pak Ikak GP pak Patria terima kasih atas jurus “e”-nya. Mudah-mudahan semua yang telah dilakukan dapat mempercepat peningkatan kualitas pengadaan barang/jasa di lingkungan pemerintah Republik ini… amien….

Pak Nanang on action

Pejabat TVRI dan LKPP berkolaborasi dalam SPSE 🙂

Semangat yang wajib diteladani…

Dari Atjeh, Lampoeng, Bandung, Bali, Kalimantan, wakil dari para instruktur PBJ se-Indonesia untuk menuju penyatuan eproc se-Indonesia… hadir semuanya… 🙂

 

Share

Untung ada eproc… Pengadaan Secara Elektronik

August 21, 2011 by  
Filed under Pengadaan Barang Jasa

Sebenarnya banyak ide dan hutang cerita yang harus dituliskan dalam blog ini, namun mungkin karena sedang puasa belum sempat saja untuk duduk dengan tenang di depan komputer dan menuliskan semua curhatan yang ada. Nah hari minggu ke-3 bulan puasa ini, mumpung lagi nga kemana-mana, mumpung anak-anak semua lagi tidur sore semua… saya coba tulis satu cerita tentang pengalaman menggunakan layanan eprocurement.

Pada tahun 2011 ini kota bogor telah mengganti software untuk layanan e-procurement, yang semula menggunakan software sendiri dan sekarang menggunakan software LPSE yang dikeluarkan dari LKPP, sesuai dengan amanat dalam perpres 54 pasal 108, yaitu bahwa LKPP-lah yang mengembangkan SPSE (sistem pengadaan secara elektronik) bukan konsultan.  Nah setelah beberapa pemangku keputusan pada bidang pengadaan dan eprocurement di level menengah di rotasi, akhirnya keputusan yang berani ini pun diambil, yaitu dengan meninggalkan software yang buatan konsultan lama dan menggantinya dengan software baru lpse dari lkpp, dan era baru eprocurement di kota bogor pun dimulai.

Dalam rangka turun gunung… akhirnya tahun ini saya pun bisa bersentuhan langsung dengan SPSE atau Sistem Pengadaan Secara Elektronik ini atau istilah kerennya e-procurement, untuk kota Bogor bisa diakses di eproc.kotabogor.go.id . Memang sangat terasa semua panitia/anggota pokja ULP sangat dimanjakan dengan fasilitas ini. Tentunya yang dimanja adalah yang mengerti internet.. yang mengerti menggunakannya… yang tidak sibuk dengan tupoksi di dinasnya masing-masing. Yang benar-benar bekerja sebagai anggota Pokja ULP, maklumlah ULP di kota Bogor masih belum permanen atau mandiri 100% (baca: Pentingnya UL yang Mandiri), sehingga masih banyak tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah polah yang ada di ULP 🙂

Anggota Pokja yang melelangkan paket-paket pekerjaan yang ada serasa dimanja, karena dengan menggunakan fasilitas pengadaan online maka tidak perlu selalu anggota pokja itu harus kumpul di ULP, tapi sekali-kali untuk koordinasi sih perlu kumpul. Berikut adalah pemanjaan yang terindikasi  dilakukan oleh SPSE atau eprocuremet

1. Semua pekerjaan dapat dilakukan secara parsial oleh masing-masing anggota pokja, mulai dari membuat dan mengupload dokumen, penjelasan, melakukan evaluasi dapat dilakukan masing-masing anggota pokja untuk kemudian diputuskan bersama. Sehingga meskipun ULP-nya belum permanen namun dengan bantuan SPSE/eprocurement maka anggota pokja dapat melakukan proses pengadaan dimana saja, mau di kamar mandi pun selama masih menggunakan laptop dan akses internet.. no problem… 🙂

2. Pada setiap kegiatan selalu ada SMS dari nomor 082123665287 ini mungkin sms gateway/server eproc yang selalu mengingatkan apabila ada kegiatan yang harus dilakukan dalam suatu paket yang sedang berjalan, mulai dari proses penjelasan, tahap batas akhir uploas berita acara, evaluasi dokumen penawaran atau evaluasi dokumen kualifikasi sampai dengan pemenang dari pengadaan tersebut diumumkan. Namun satu kegiatan saja yang belum alert via sms yaitu bila ada sanggahan… nah bila ada sanggahan ternyata tidak ada alert dari sms server tersebut, makanya pantesan akhir-akhir ini ada beberapa sms ataupun pertanyaan di blog yang menanyakan… “bagaimana bila anggota pokja ulp tidak menjawab sanggahan…???”, kok berani-beraninya tidak menjawab sanggahan… nah mungkin ini dia penyebabnya.. sanggahan dilakukan via eprocurement dan tidak terdeteksi oleh anggota pokja… mungkin… hal ini juga terjadi di dua paket yang saya lelangkan… ternyata tidak semua anggota pokja, aware dan mengetahui adanya sanggahan dalam paket-paket tersebut….

3. Semua administrasi hampir bisa dikatakan sekitar 80% sudah paperless, tidak perlu lagi banyak print-print dokumen, cukup dengan PDF (portable document format) tidak perlu di print… selesai sudah… sehingga dalam pembuatan kontrakpun tidak perlu banyak-banyak ngeprint.

4. Tanggung jawab dari anggota Pokja ULP menjadi lebih ringan, karena semunya diserahkan kepada sistem IT, ya meskipun seringkali ada kejanggalan-kejanggalan seperti… kok pesertanya cuman 3 atau 4, meskipun yang daftar 40-an lebih tapi yang memasukan penawaran kebanyakan hanya 3 atau 4, ada paling banyak 5 atau 6 deh… dan kok persertanya hampir 90% dari Kota Bogor… ya kan itu sistem… bukan kewenangan ULP/ panitia untuk mengurusi masalah itu… Kerja Panitia/Pokja ULP dalam melakukan alasan “Tutup Mata” atau “Tutup Hidung” melihat dan membaui kebusukan disekitarnya jadi lebih gampang.. “see no evil… hear no evil” KONDUSIF poko namah… 🙂

5. Bagi saya yang senang dengan  “maen volume” atau menjadi anggota Pokja ULP dengan jumlah paket pekerjaan yang massive atau relatif banyak, sehingga dengan sekali bekerja saya bisa melelangkan banyak paket, sekali bikin dokumen untuk banyak paket, sekali membuka laptop dengan buka beberapa jendela bisa melakukan aanwijzing untuk banyak paket, itu dia maen volume… sekai dayung 10-20 paket terlelangkan… ya  meskipun masih dirasa kurang… (target sih sampai 100 paket lebihlah setahun ini gitu loh), sekarang ini mungkin sudah 50-an paket yang sudah dan sedang berjalan yang ditangani. Nah dengan teknologi eprocurement ini sungguh sangat saya sangat terbantu, satu jadual bisa dibuat untuk beberapa paket, satu dokumen juga untuk beberapa paket… initnya lebih efektif dan efisian-lah…

So pada intinya… Untung ada SPSE, untung ada eproc:

– Walau koneksi internet di kantor tidak stabil dan lemot… cukup dengan Rp. 80rb pakai esia (aha) atau 50rb sd 100rb pakai akses internet dari operator GSM, dimanapun kita berada… anggota pokja ulp dapat memantau dan memproses jalannya pengadaan barang/jasa

– Walau printer di kantor ulp warnanya hampir pucat pasi… untungnya pelelangan dengan eprocurement tidak membutuhkan banyak ngeprint… ya tinggal ngeprint di rumah saja barang beberapa lembar mah… cukup deh…

– Walau ULP nya belum permanen, walau bos di kantor sendiri tidak mau tahu… pokok na mah… teu hayang nyaho… padahalkan jadi panitia pengadaan juga itu adalah SK dari walikota… itu juga kan tugas untuk pelayanan masyarakat… tapi teu hayang nyaho… tidak mau tahu… ya untungnya ada eprocurement, meskipun badan ada di kantor sendiri (bukan di ulp) tapi masih bisa konek ke server eproc untuk melakukan lelang online.

– Walau berpuluh-puluh paket pekerjaan yang dilelangkan, tidak perlu menghapalkan kapan harus aanwijzing, kapan pembukaan penawaran, kapan harus upload bahp, kapan evaluasi dokumen penawaran, kapan evaluasi kualifikasi, semunya akan diingatkan oleh sms dari portal eproc, seperti mempunyai asisten pribadi gitu loh…

– Walau banyak pemborong yang “aneh-aneh”, untungnya tidak perlu banyak ketemu… kalaupun ada gerombolan yang datang ke kantor ULP… ya tinggal sembunyi saja di belakang sambil bawa laptop dan modemnya… aman kan… 🙂

– Walau banyak anggota pokja ULP yang tidak bisa bekerja karena sibuk jadi pejabat di dinas instansinya masing-masing (gara-gara ULP yg belum permanen), atau karena memang tidak kompeten menjadi pengelola pengadaan (bersertifikat tapi tidak mampu), Untung ada eproc… saya tetap bisa bekerja dengan teman-teman yang memang mempunyai komitmen yang cukup untuk sekedar membuat dokumen pdf, mengupload dan membuat jadual, mengevaluasi dokumen di sistem serta pekerjaan lain yang dengan bantuan eproc semuanya jadi lebih mudah. Jadi sebaiknya teman-teman lain yang tercatat jadi anggota ULP tapi tidak bisa bekerja… mending ksatria saja deh… jangan kepengen honornya saja… atau mau jadi ksatria juga kayanya takut yah… mau mundur takut… kerja tidak bisa… ya mending terima honornya saja… hehehe… ampuuunnn gusti…. 🙂

Ya pada intinya secara teknis eprocurement sudah sangat… sangat… dan sangaaat… membantu panitia/pokja ulp dalam melakukan tugasnya… selama hampir setahun saya memakai eprocurement versi SPSE-nya ULP, hanya bisa mengkomplian satu hal saja:

apabila ada yang sanggah kok tidak ada SMS Alert-nya, sehingga bisa-bisa ada paket yang miss-sanggah tuh… atau sanggah tidak terdeteksi, kalau 1 atau 2 paket sih mungkin gampang ngontrolnya. tapi kalau seperti saya yang maen volume sampai 50 lebih paket yang kelola… ya harus buka 50 jendela tuh di browser internetnya, untuk melihat apakah ada sanggahan atau tidak 🙂

oh iya satu hal lagi… karena saya “maen volume“, ya tentunya manajemen paket pekerjaan saatlah penting sekali, sehingga akan lebih enak kalau tampilan paket pekerjaan dapat langsung di browse seperti melihat direktori pada windows eksplorer tidak harus meng klik satu-persatu dari nama kegiatannya. Kadang saya bingung; paket pekerjaan ini ada di nama kegiatan mana yah, nah tentunya selain tampilan yang bisa menampilkan level 2 (browse paket pekerjaan), fasilitas find atau search paket tentunya akan sangat berguna bagi panitia yang “maen volume” 🙂

Secara teknis sudah sangat membantu.. hanya mungkin secara prinsip-prinsip dalam pengadaan, eprocurement harus segera memaksimalkan kembali kontrol terhadap akses pasar… jangan sampai peserta yang sudah di verifikasi di daerahnya ketika akan mengikuti lelang via eproc di suatu daerah (ya termasuk kota bogor) harus diverifikasi kembali data-datanya oleh lpse kota ybs… kan sudah diverifikasi.. masa harus diverifikasi lagi… oh ternyata ada preman yang nyegat di pintu masuk pasar yah, jadi saja pemborong, konsultan atau penyedia yang memasukan penawaranitu hanya itu-itu saja…  🙂

Waduh sudah pada bangun nih anak-anak ku tercinta… mungkin segini dulu ya cerita tentang eprocnya… mungkin kesimpulan dan hikmah dari cerita ini akan di update pada kesempatan berikutnya… atau silahkan teman-teman untuk menyimpulkan dan memberikan hikmah dari postingan ini… silahkan tuliskan di komen…

Salam Pengadaan dari Bogor dan Salam eproc dari pak Diani… 🙂

sumber: jurnal bogor

Share

Statistika Pemasukan Penawaran: Dengan e-procurement dan manual

May 24, 2008 by  
Filed under Pengadaan Barang Jasa


Terkait dengan tulisan sebelumnya tentang penundaan sistem e-procurement (e-proc) untuk pelelangan di kota Bogor, berikut saya mencoba membandingkan data statistik dari pelelangan tahun 2007 dengan menggunakan e-proc dibandingkan dengan data pelelangan tahun ini pada dinas Binamarga dan Pengairan Kota Bogor. Data dalam tulisan ini bukan merupakan data resmi, tetapi hanya data dari hasil rekapan saya pribadi.

Berikut adalah datanya:

Read more

Share

Pemkot Enggan, Dewan Keukeuh Adakan Semi e-Proc, E-Proc Terancam Ditunda

May 20, 2008 by  
Filed under Pengadaan Barang Jasa

Sumber: Radar Bogor (20-02-2008)

KAPTEN MUSLIHAT – Rencana pelaksanaan e-procurement tampaknya tak akan terealisasi tahun ini. Setelah adanya beberapa kendala yang dihadapi Pemkot Bogor yang disampaikan pada rapat kerja bersama Komisi C, (15/2).

Ketua Komisi C Adhi Dhaluputra mengaku pihaknya akan mengkaji lebih dalam terkait terkait keputusan pemkot melakukan langkah mundur. “Kita akan kaji lagi sebab dalam rapat belum tuntas. Kita akan mencoba mencari solusi terbaik yang menjadi kendala e-proc tak dapat berjalan,” ujar Adhi.

Read more

Share

E-proc (e-procurement) Kota Bogor untuk tahun 2008 ditunda.

Sewaktu mengikuti sosialisasi tentang review pelelangan oleh BPKP di Bawasda kota Bogor, saya baru membaca langsung surat edaran dari walikota Bogor, tentang ditundanya sistem e-proc untuk pengadaan barang dan jasa di lingkungan kota Bogor. Sayang sekali memang, kalau menurut pandangan saya penundaan ini tidak sejalan dengan perkembangan jaman yang sudah semakin canggih, sekarang ini kan penggunaan internet sudah merupakan hal yang biasa, sehingga hal ini merupakan suatu kemunduran bagi kota Bogor.

Read more

Share