SUPPLY POSITIONING MODEL (SPM) dalam acara SENI Kementerian Hukum

 

Berikut adalah rangkuman dari video berjudul “SUPPLY POSITIONING MODEL (SPM) dalam acara SENI Kementerian Hukum” yang dibawakan oleh kanal YouTube Belajar Pengadaan @heldidotnet:

1. Pendahuluan dan Latar Belakang

  • Bukan Aturan Hukum, Melainkan Best Practice: Pembicara menegaskan bahwa materi yang dibahas bukanlah pasal-pasal dalam Perpres Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (PBJP), melainkan sebuah landasan keilmuan manajemen dan pedoman praktis untuk memperkuat atau menjustifikasi keputusan perencanaan pengadaan [01:05].

  • Asal-usul SPM: Supply Positioning Model (SPM) diadopsi dari Kraljic Matrix yang ditulis oleh Peter Kraljic pada tahun 1983 di Harvard Business Review [03:47]. Teori awal ini kemudian dikembangkan oleh lembaga internasional seperti CIPS dan ITC (International Trade Centre) menjadi SPM agar lebih relevan diaplikasikan di sektor publik/pemerintah [04:35], [17:02].

  • Hubungan dengan “Pagar Pengadaan”: SPM berfungsi membantu mencapai tujuan utama pengadaan sesuai Perpres (Pasal 4, 5, 6, 7), terutama dalam mencapai value for money serta prinsip efektif dan efisien [22:06], [25:01].

2. Memahami Matriks Supply Positioning Model (SPM)

Matriks SPM memetakan kebutuhan pengadaan ke dalam 4 kuadran utama berdasarkan dua sumbu: Sumbu Y (Risiko terhadap Organisasi) dan Sumbu X (Nilai Pengadaan/Pengeluaran) [29:08]. Pembeda nilai pengeluaran ini bisa dianalisis menggunakan Hukum Pareto (80/20) atau Klasifikasi ABC [42:17], [48:03].

Keempat kuadran tersebut adalah:

  • 1. Rutin (Routine / Non-Critical Items) [01:13:59]

    • Karakteristik: Risiko organisasi rendah, nilai pengadaan rendah, barangnya standar/umum, dan penyedianya banyak [01:14:08].

    • Strategi: Sederhanakan proses administrasi seminimal mungkin agar tidak menyita waktu (misal menggunakan e-purchasing / toko daring) [01:14:43]. Jika memungkinkan, lakukan konsolidasi (menggabungkan paket-paket kecil) agar pengadaan bisa naik kelas ke kuadran leverage demi efisiensi [01:11:08], [01:12:25].

  • 2. Leverage (Leverage Items) [01:18:15]

    • Karakteristik: Risiko organisasi rendah namun nilai pengadaannya besar/tinggi. Daya tarik bagi penyedia sangat tinggi [01:18:24].

    • Strategi: Fokus utama adalah pada harga/biaya. Strategi pengadaan didorong melalui kompetisi tinggi (seperti tender/seleksi atau e-purchasing dengan mini-kompetisi) untuk menekan harga atau memotong margin keuntungan penyedia semaksimal mungkin [01:18:40], [01:19:05].

  • 3. Bottleneck (Bottleneck Items) [01:20:34]

    • Karakteristik: Nilai pengadaan kecil/rendah, namun risiko kegagalannya bagi organisasi sangat tinggi. Barangnya biasanya tidak standar dan jumlah penyedianya sedikit [01:20:44].

    • Strategi: Fokus pada mitigasi dan penurunan risiko pasokan, bukan pada negosiasi harga. Strateginya bisa berupa penunjukan langsung (jika ada hak paten), swakelola dengan ahli, atau membuat kontrak jangka panjang/kontrak payung untuk menjamin kontinuitas pasokan [01:20:52], [01:21:31], [01:21:56].

  • 4. Kritis (Critical Items) [01:22:50]

    • Karakteristik: Nilai pengadaan tinggi dan risiko kegagalannya bagi organisasi juga sangat tinggi (misal proyek strategis nasional). Barangnya spesifik dan penyedianya sangat sedikit [01:23:35].

    • Strategi: Seluruh pemangku kepentingan (PA, KPA, PPK, Pokja) harus fokus penuh (hands on). Perencanaan harus matang jauh-jauh hari sebelum tender dimulai, termasuk melakukan value engineering pada spesifikasi [01:24:55], [01:25:21]. Negosiasi diarahkan secara win-win untuk menjamin keberhasilan pekerjaan jangka panjang [01:25:49].

3. Pengenalan Tambahan: Supplier Perception Model (SPM 2)

Sebagai pelengkap, pembicara mengenalkan Supplier Perception Model atau Preferencing Model [01:27:30]. Model ini melihat pengadaan dari sudut pandang penyedia: seberapa besar ketertarikan mereka terhadap organisasi kita dibandingkan dengan nilai kontrak yang mereka peroleh [01:27:39].

  • Untuk paket Kritis, organisasi harus mencari penyedia kategori Core (ketertarikan tinggi dan kapasitas besar) [01:28:12].

  • Hubungan jangka panjang (long-term relation) dengan penyedia yang sama tidak selalu berarti kecurangan (fraud), melainkan bisa jadi keputusan strategis karena penyedia tersebut terbukti memiliki kinerja yang baik (develop) untuk mengamankan risiko organisasi [01:30:53], [01:31:49].

Kesimpulan

Dengan memanfaatkan alat analisis SPM, organisasi pengadaan dapat memetakan kebutuhan, kondisi pasar, dan perilaku penyedia secara objektif. Hal ini memastikan setiap jenis barang/jasa mendapatkan perlakuan, metode pemilihan, dan bentuk kontrak yang paling efisien dan efektif [01:32:19].

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version